CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
109


__ADS_3

Beberapa hari berselang, sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh Andi, Lucky selalu bepergian menggunakan mobil. Hingga Danny dan Vicky dibuat penasaran. Karena setahu mereka, sahabatnya ini paling tidak suka jika harus menggunakan kendaraan roda empat ke sekolah. Dia lebih suka naik motornya, kecuali jika dia harus membawa barang yang tidak bisa dia bawa dengan mengendarai motor.


"Si orange memangnya belum selesai diperbaiki Luck?" Tanya Danny ketika mereka baru datang dan memarkirkan kendaraan mereka


"Sudah, mungkin mulai saat ini gue mau pakai ini saja" Lucky menunjuk mobil keluaran terbarunya yang memiliki desain keamanan yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan Lucky


"Sudah bosan dengan si orange ya? Buat gue saja bagaimana?" Danny mulai memprovokasi


"Tidak ada istilah bosan dengan si orange dalam kamus hidup gue, si orange tidak akan pernah meninggalkan garasi gue"Lucky sudah berjanji tidak akan pernah menjualnya karena motor tersebut adalah hasil dari dia berusaha sendiri dan merupakan salah satu barang yang dia dapatkan dengan susah payah demi mendapatkannya


"Cuma buat pajangan saja, mana ada manfaatnya, mubadzir banget. Mending buat kita saja" Vicky yang berjalan di belakang mereka tiba-tiba ikut menyela pembicaraan


"Enak saja, motor kalian mau dikemanain?" Lucky tidak mau kalah dengan kedua sahabatnya


Hari ini, yang masuk hanyalah kelas tiga yang sedang melaksanakan Ujian sekolah. Pernikahan Nia dan Lucky yang sudah direncanakan oleh kedua orang tua terpaksa ditunda mengingat Lucky yang sudah mau ujian. Mereka memilih menunda agar Lucky bisa fokus belajar dan menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu.


Nia yang berada di rumah tidak ada teman merasa kesepian, dia ikut Nalen pergi ke kampus. Ada banyak mahasiswa yang memperhatikan kedatangan Nia di kampus Nalen, karena mereka selama ini tidak familiar dengan wajah Nia yang cukup manis di mata mereka.


"Len, dapan cewek cakep dimana? Boleh kenalan tidak?" Salah satu teman Nalen mencoba mendekati Nia yang kini tidak ingin lepas dari lengan kakaknya


"Maaf, bukannya tidak boleh tapi sepertinya dia tidak nyaman dengan keberadaanmu" Nalen merasakan cengkeraman tangan adiknya yang semakin kuat menandakan jika Nia dalam keadaan kurang baik

__ADS_1


"Alah... jangan sok alim deh, pegangannya saja erat gitu kok"Komentar salah satu teman Nalen


Tanpa menghiraukan komentar teman-temannya, Nalen menarik tangan Nia untuk segera meninggalkan gerombolan orang-orang yang mereka anggap tidak penting


"Sudah punya pacar, masih juga bawa cewek ke kampus, dasar kelihatannya saja alim tapi nyatanya kelakuan minus" Lagi ada komentar negatif tentang mereka, namun tidak juga mereka hiraukan


Dari jarak yang tidak jauh, Nara berjalan menghampiri Nalen dan Nia yang kini sudah duduk di sebuah taman kampus yang cukup rindang, dengan menikmati makanan ringan yang dibeli Nia sebelum sampai di kampus.


"Tumben ikut ke kampus" Nara yang sudah mengenal watak Nia langsung melontarkan pertanyaan, karena biasanya Nia akan seharian di kamar menghabiskan waktu liburnya dengan menonton drakor kesukaannya.


"Di rumah sepi, tidak ada orang semua pergi sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri" Nia tanpa malu mengakuinya jika hanya dirinya yang tidak memiliki kesibukan


"Kakak mau?" Nia mengerlingkan matanya ke arah Nalen


"Tidak, lebih baik bisa kerja sendiri deh. Lebih puas punya hasil sendiri" Nara tidak bermaksud menjatuhkan Nia


"Tapi benar lho kak, seolah-olah Nia ini sudah dibeli oleh orang saja, tapi Nia bahagia karena Kak Lucky yang memberikan semuanya" Nia merasa terikat dengan seseorang namun sekaligus bahagia


"Tapi, lo itu lebih terlihat bahagianya lho..." Nara memberikan penilaian terhadap Nia yang tidak tertekan sama sekali dengan statusnya sekarang sebagai calon istri di usia yang masih sangat muda bahkan belum lulus sekolah


Nalen dan Nara harus masuk kelas karena mereka memiliki jadwal bersamaan, Nia memutuskan untuk membaca buku di perpustakaan kampus yang menurutnya merupakan salah satu tampat uang aman buatnya, tanpa harus bertemu dengan orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

__ADS_1


Tidak lupa earphone terpasang di telinga Nia dan juga sebuah novel remaja di tangannya, sambil duduk di meja paling pojok ditemani dengan sebotol minuman dan juga lolipop yang berada di mulutnya. Hingga tengah hari Nalen dan juga Nara belum tampak batang hidungnya, padahal perut Nia sudah mulai berontak minta untuk diisi. Dengan langkah gontai, Nia menyusuri koridor kampus pergi ke sebuah kafe yang berada di seberang kampus untuk mengisi perutnya.


Belum juga menyeberangi jalan, tangan Nia sudah di tarik seseorang yang membuat Nia terperanjat dan dengan reflek mengibaskan tangan yang berada di lengannya. Namun, tangan itu malah semakin erat mencengkeram lengannya.


"Hai, cewek mur*h*n, ikut gue saja, sekarang lo sudah dicampakkan oleh Nalen yang sok alim itu kan?" Ucapan orang itu membuat Nia marah, karena sudah menghina kakak sekaligus dirinya


"Kalau bicara bisa disaring tidak? Dan juga jangan sembarangan bicara!" Nia berlalu meninggalkan orang yang telah menghinanya dengan mengibaskan tangannya dengan keras


Nia berjalan cepat dan tidak ingin bertemu lagi dengan orang yang sangat menyebalkan baginya. Menurut penilaian Nia orang tersebut kelihatannya seperti bukan mahasiswa di kampus ini juga, sama seperti dirinya. Terbukti sejak tadi hanya duduk diam tidak masuk kelas sama sekali dan malah terlihat seperti preman jalanan karena baju yang dia pakai juga tidak rapi, rambut juga dibiarkan memanjang dan diakan dengan karet.


Nia memesan makanan dan minuman, Nia memilih meja yang cukup ramai agar lebih aman bagi dirinya yang duduk sendirian. Sembari menunggu makanan tersaji, Nia melanjutkan membaca novel yang dia pinjam dengan menggunakan kartu milik Nara.


Di dalam keramaian Nia masih saja merasa ada yang mengawasinya, namun sesekali dia menoleh dan melihat di sekelilingnya tidak ada satu orangpun yang dia kenal. Merasa was-was, Nia mulai mengirimkan pesan ke nomor kakaknya dan juga kepada Nara, agar segera ke tempatnya setelah kelas selesai.


"Maaf mbak, ini pesanannya" Seorang pramusaji mengagetkan Nia yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja


"Tapi mbak, saya tidak pesan cumi goreng, mengapa ada cumi goreng?" Nia menolak cumi goreng yang disajikan di mejanya, meskipun yang lain memang benar pesanannya


"Maaf mbak, saya juga tidak tahu, karena di pesanan mbak ada cumi gorengnya, kalau mbak tidak percaya, mbak bisa melihat daftar pesanan yang mbak tulis di sini. Lagi pula sudah mbak bayar juga" Pramusaji juga tidak menerima penolakan dari Nia yang keukeuh tidak mau menerima


"Tapi mbak....." Belum juga selesai Nia bicara, pramusaji itu sudah dipanggil menejer kafe untuk segera kembali dan memberikan pesanan ke pelanggan lain

__ADS_1


__ADS_2