
Semua tamu undangan telah meninggalkan kediaman keluarga Lucky, di sana hanya tersisa keluarga Lucky dan Nia serta teman-temannya dan juga kerabat terdekat. Mereka berbincang-bincang dan bersenda gurau mengisi waktu hingga sore hari belum juga selesai.
"Wah, kalian sekarang sudah resmi menjadi besan, bagaimana perasaan kalian" Seorang kerabat yang merupakan salah satu teman sekolah Pras dan Dewa penasaran dengan kedua temannya
"Pastinya kami sangat lega sekarang, sudah tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka dan juga persahabatan kita semakin dekat" Pras menjawab dengan bangga
"Bagaiman denganmu Wa?" Lanjut temannya yang bertanya tadi
"Seperti yang dikatakan Pras, semua yang kami rencanakan sejak lama semua terwujud pasti membuat hati ini terasa sangat lega" Dewa juga berkata jujur dengan perasaannya saat ini, tidak ada kata lain selain bahagia
"Sekali lagi, saya ucapkan selamat kepada kalian berdua, mudah-mudahan anakku bisa segera menyusul" Ucapnya lagi "Sepertinya hari sudah mulai sore dan acara sudah selesai, saya mohon diri dulu, sekali lagi saya ucapkan selamat" Lanjutnya
"Terima kasih atas kedatangan dan do'anya untuk anak-anak kami" Ucap Pras dan Dewa bergantian
Lucky dan Nia saat ini sedang bercengkerama dengan Danny, Vicky, Nalen, Pandu dan juga Nara di ruang keluarga, mereka lebih nyaman memisahkan diri dari orang-orang yang lebih tua dari mereka.
"Bagaimana perasaan sekarang?" Vicky menepuk pundak Lucky yang sedang menikmati makanan di depannya
"Perasaan apa?" Lucky tidak mau menjawabnya malah balik bertanya
"Masak harus gue jelasin, ck... Lo membuat gue jadi malas bicara dengan Lo" Vicky frustasi dengan pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan
"Tidak usah ditanya lagi, pasti bahagialah" Danny menimpali kekesalan Vicky
__ADS_1
"Sudah tahu tujuan hidupnya bersama Nia selamanya, masih juga ditanya, tidak ada pertanyaan lain?" Lanjut Danny
"Ngomong-ngomong, siapa yang menelpon kalian?" Lucky penasaran dengan kedatangan sahabat-sahabatnya di acara yang sangat mendesak
"Bokap Lo, telpon gue beberapa waktu yang la...." Belum selesai Vicky bicara sudah dibekap duluan sama Danny
"Iya, beberapa waktu yang lalu bokap Lo telpon, katanya mau ada syukuran kelulusan Lo, tidak tahunya malah acara nikahan Lo" Danny membuat alasan lain, karena dia sudah berjanji dengan orang tua Lucky
"Jadi, kalian ke sini untuk acara syukuran kelulusan gue?" Tapi kok Bunda tidak bilang apa-apa, malah sebenarnya hari ini kita mau belanja"Lucky merasa ada yang tidak beres
"Mengapa juga di bahas sih, lebih baik kita makan bagaimana?" Nalen menengahi mereka
Nara dan Nia mengambil beberapa cemilan untuk mereka tidak lupa minuman dingin sebagai teman ngobrol dibantu oleh Bi Sri yang sejak tadi pagi juga terlihat sibuk.
Mereka kembali duduk ikut menikmati makanan yang telah mereka siapkan. Nia duduk berdekatan dengan Nara juga Nalen, hal itu mengundang teman-temannya untuk menggoda Nia dan Lucky.
Keduanya hanya saling pandang dan tidak menjawab.
"Sewaktu belum nikah saja dekatnya minta ampun, seperti tidak bisa dipisahkan, namun mengapa setelah resmi malah saling berjauhan?" Danny juga ikut-ikutan
"Bukannya tidak mau deketan, tapi takut kebablasan" Goda Nalen "Mereka malu dengan keberadaan kita di sini" Lanjutnya
"Mungkin lebih baik kita segera pulang saja, biar mereka bisa berdekatan dan membuat teh celup bersama" Danny semakin menggoda
__ADS_1
"Teh celup, gue juga mau apalagi sejak tadi kita belum meminunya" Vicky yang diajakin untuk segera pulang malah meminta mbak Sri untuk membuatkannya teh panas
"Mengapa Lo minta Mbak Sri untuk membuat teh, belum kenyang juga tuh perut?" Danny yang kesal dengan sahabatnya karena tidak tahu dengan kode yang dia berikan menarik dengan kencang tangan sahabatnya itu untuk segera pergi dari kediaman Lucky
"Mas, mengapa pergi semua, tadi minta dibuatkan teh, tapi sekarang semuanya pergi" Keluh Mbak Sri yang merasa dikerjai oleh sahabat-sahabat Lucky
"Mbak bawa ke sini saja, biar kami yang meminumnya" Pras yang melihat kelakuan sahabat anaknya yang mengerjai asisten rumah tangganya merasa kasihan
"Baik tuan" Mbak Sri segera menghidangkan teh yang sudah dia buat kepada kedua orang tua Lucky dan Nia yang masih membicarakan sesuatu yang sangat penting
Di ruang keluarga kini tinggal Lucky dan Nia yang saat ini mereka merasa canggung dan bingung harus berbuat apa, mereka masih tidak percaya jika saat ini mereka sudah sah menjadi suami istri. Dalam hati Nia mau mendekat tapi takut diapa-apain sama Lucky, jadinya mereka tetap duduk berjauhan dan berada pada ujung kursi satu sama lain. Tidak hanya Nia yang merasa canggung dengan situasi saat ini, Lucky juga merasakannya. Sebenarnya dia sangat capek yang ingin segera istirahat di kasurnya yang empuk, namun tidak tega jika harus meninggalkan Nia sendirian di sini, mau mengajaknyapun masih merasa takut jika nanti Nia berfikir buruk tentangnya.
Ditengah keduanya dilema dan saling diam, Pras melewati ruang tamu dan melihat anaknya terlihat sangat canggung, diapun mendekat ke arah keduanya
"Kalau kalian capek, istirahat saja.... kami sebentar lagi juga mau istirahat" Pras memecah kesunyian di ruang keluarga
"Tapi Yah...." Belum juga Lucky selesai bicara, Pras sudah berkata "Tapi apa? Nia? Dia harusnya istirahat di kamarmu juga, lagi pula kalian ini suami istri, apa harus punya kamar masing-masing?" Pras terlihat bijaksana
"Tapi, Nia tidak terbiasa ada orang lain di kamar Nia" Nia tidak ingin sekamar dengan Lucky
"Sebenarnya mau kalian apa? Bukannya kalian sudah pernah tidur bareng? Buat apa canggung tinggal lanjut sajakan...." Pras malah menggoda keduanya yang membuat wajah keduanya memerah
"Ayah.... kami belum pernah..."
__ADS_1
"Kalau belum pernah, bagaimana bisa jadi adonannya? Ayah tidak percaya"
"Adonan apalagi sih yang ayah bicarakan?" Lucky terlihat kesal dengan tingkah ayahnya