
Seperti janjinya kepada sang Bunda, Lucky mengantarkan kedua orang tuanya ke rumah Nia, untuk sekedar melihat keadaan calon mantu yang semalam mendapat musibah. Dengan membawa beberapa buah-buahan segar sebagai buah tangan.
Nia sangat senang dengan kedatangan calon mertua, karena dengan kesibukan mereka masih menyempatkan untuk sekedar menjenguknya yang sebenarnya dalam keadaan baik-baik saja.
"Bunda sama Ayah mengapa harus repot datang ke sini, Nia baik kok" Rahma mengelus rambut Nia yang tergerai dengan penuh kasih sayang
"Bunda cuma mau lihat bagaimana keadaanmu saja Nak" Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke sofa dan duduk berdampingan, Rahma masih menggenggam tangan Nia sebagai perwujudan atas dukungan dan kasih sayang yang tulus
"Terima kasih Bunda, Nia sangat bersyukur mempunyai keluarga yang sangat menyayangi Nia dengan tulus" Nia beranjak ingin pergi ke dapur namun dicegah oleh Rahma
"Kamu duduk dengan Bunda di sini saja, tidak usah ke mana-mana" Nia mengalah namun juga sedikit menyanggah
"Tapi Nia mau mengambil minum di dapur Bunda" Rahma tersenyum sambil mengelus tangan Nia yang sejak tadi di genggamnya
"Bunda tidak butuh minum, yang Bunda butuhin kami selalu berada di samping Bunda menemani kemanapun Bunda pergi, itulah satu-satunya yang sekarang Bunda butuhin
Nia tidak paham dengan apa yang sedang dibicarakan Rahma terhadapnya, dia hanya tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Rahma.
Dilain pihak Pras, Lucky dan orang tua Nia sedang berada di ruang tamu. Mereka terlibat pembicaraan yang serius dan sedikit berdebat karena perbedaan pendapat.
"Kita harus segera bertindak menyelesaikan semua permasalahan yang menimpa anak kita" Pras memulai pembicaraan
"Maksud kamu apa Pras?" Dewa tidak mengerti yang dimaksud dengan Pras
__ADS_1
"Bagaimana kamu tidak tahu, siapa dalang di balik peristiwa yang menimpa Nia?" Pras mulai meninggikan suaranya
"Iya, saya juga sudah tahu, tapi bukannya anak-anak kita sudah mulai bertindak?" Pras menggeleng mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Dewa
"Kita juga harus ikut andil dalam penyelesaian masalah ini, kalau hanya mengandalkan anak-anak kita, saya pikir tidak akan pernah selesai" Dewa membelalakkan matanya melihat Pras sudah berapi-api dalam menyampaikan pendapat
"Apakah tidak sebaiknya mereka dulu yang bertindak, jika mereka tidak bisa menyelesaikan kita akan turun tangan langsung" Dewa lebih santai dalam menghadapi masalah yang menimpa putrinya, bukan karena dia tidak peduli, tetapi dia ingin melihat bagaiman anak-anak mereka dalam menyelesaikan suatu masalah yang menimpa mereka, sebagai bekal mereka dalam menghadapi segala masalah yang akan datang dimasa depan.
"Kamu tidak peduli dengan keselamatan anak perempuanmu? Mungkin suatu saat mereka akan lebih kejam dalam mempermalukana keluarga kita" Masih dengan wajah yang masalah Pras menyebutkan beberapa kemungkinan yang akan dilakukan orang untuk mencapainapa yang diingikannya
"Siapa bilang aku tidak peduli dengan anak gadisku?"
"Kamu harus tahu, apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kita yaitu perpecahan, mereka menginginkan kita tidak akan pernah menjalin persahabatan lagi karena sesuatu yang tidak bisa aku katakan sekarang" Pras menekankan kata perpecahan ketika ingin mengatakan suatu hal yang selama ini dia sembunyikan
Flashback On
Siang itu disaat outlet ayam milik Pras begitu ramai karena banyak pengunjung yang sedang antre untuk mendapatkan makan siang mereka.
Di sebuah meja ada sekelompok orang yang sedang duduk sambil menikmati makanan mereka sambil berbincang, ketika Pras sedang melewati mereka tidak sengaja salah satunya menyebutkan namanya, hingga dia mengurungkan niatnya untuk meninggalkan outletnya dan memilih duduk membelakaki mereka sambil berpura-pura memesan makanan.
Pras mulai memasang telinganya agar bisa mendengar lebih jelas bahkan sempat merekamnya
"Bos, bagaimana langkah yang harus kami ambil?" Tanya seorang kepada wanita yang duduk di belakang Pras
__ADS_1
"Yang pertama kita sebar video yang sudah diperoleh Nana ke semua temannya termasuk kepada pihak sekolah juga ke orang tua Lucky" Elsa menginstruksikan hal pertama yang harus mereka lakukan.
"Kemudian, setelah Pras mendapatkan video itu, kalian harus memprovokasinya agar dia membenci Nia dan berusaha membatalkan pertunangan anaknya dengan anak Dewa" Elsa menyesap minumannya dan juga mengunyah beberapa kentang goreng yang dia pesan
"Karena, sebenarnya tujuanku adalah memisahkan mereka agar semakin jauh, baik itu persahabatan maupun kekeluargaan di antara Pras dan Dewa, Anak-anaknya hanyalah kita manfaatkan atas kedekatan keduanya, jika anak-anaknya bisa kita pisahkan otomatis semua hubungan mereka akan terputus karena perilaku anak Dewa yang tidak senonoh itu, apalagi dengan keluarga Dewa, gue sangat membenci mereke" Elsa masih berbicara panjang lebar
"Baik Bos, semua akan kami laksanakan dengan sangat hati-hati"
"Tapi kalian harus ingat, jangan pernah mengucapkan nama gue ataupun nama Manda kepada siapapun dalam kasus ini, kalian harus benar-benar main bersih tanpa membawa nama kami" Elsa berpesan dengan memelototkan matanya untuk mengintimidasi orang suruhannya, karena dia tidak ingin segala yang sudah dia rencanakan sejak lama harus gagal
Orang suruhan Elsa beranjak dari kursinya dan berjalan menjauh mendekati pintu untuk keluar dari outlet ayam goreng. Setelah berhasil merekam dan mendengar langsung apa yang dibicarakan oleh Elsa bersama orang suruhannya, Pras memilih untuk beranjak dari sana sebelum ketahuan oleh Elsa jika dirinya menguping pembicaraan di belakangnya langsung
Flashback Off
"Sebenarnya ada dendam apa dia dengan kita, keluargaku juga tidak pernah mengusik kehidupan mereka, tapi mengapa dia begitu jahat terhadap keluargaku?" Dewa tidak mengerti mengapa Elsa sampai sebenci itu dengan keluarganya hingga tidak mengijinkannya bersahabat dengan tetangganya yang selalu baik kepada keluarganya dari dulu hingga sekarang
"Aku juga kurang begitu tahu apa masalahnya hingga dia sangat membenci kita, terutama dengan keluargamu" Pras masih menyimpan alasan yang sesungguhnya, mengapa Elsa sangat membenci keluarga Dewa sejak dahulu
"Lalu, bagaimana dengan rencana kami Yah?" Lucky yang sejak tadi hanya sebagai pendengar mengajukan pertanyaan
"Lebih baik tetap kalian jalankan, alangkah baiknya jika kita bersama-sama menekan mereka" Pras terlihat sangat marah ketika mengingat kedua ibu dan anak yang kini berulah terhadap keluarganya
"Serius amat, kalian sedang membicarakan apa sih...?" Rahma tiba-tiba muncul di ruang tamu membuat mereka yang ada di sana semua menoleh ke arah datangnya Rahma
__ADS_1
Mereka berempat hanya saling pandang dan berharap salah satu dari mereka memberikan jawaban yang memuaskan pertanyaan Rahma tanpa membuatnya timbul rasa khawatir mengenai kejadian yang barusan mereka bicarakan. Mereka harus berhati-hati apalagi dengan keadaan Rahma yang saat ini baru dalam tahap penyembuhan dari penyakitnya