
"Kalian semua jahat, padahal saling kenal tapi sok-sokan tidak kenal" Nia kecewa dengan Lucky dan Pandu
"Memangnya mengapa? Kok kita jadi jahat, bukannya kamu beruntung Y*ng?" Lucky yang tidak mau disalahkan berusaha membela diri
"Beruntung apanya, kesel iya"
"Waktu itu, kamu malah dapat handphone keluaran terbaru yang harganya fantastik. Apa itu namanya, kalau bukan keberuntungan?" Lucky merasa kalah set dengan Pandu hingga membuatnya kini menjadi sangat kesal. "Lagipula dia pasti tidak akan mengeluarkan uang sebanyak itu untuk orang ya g baru di kenal dengan dalih memberi hadiah. Itu hanya akal-akalan dia" Lucky menunjuk ke arah Pandu yang kini mengulas sebuah senyuman
"Meskipun hanya akal-akalan Kak Pandu, tapi Nia suka. Kapan lagi coba, mendapatkan barang dengan cuma-cuma dengan harga yang fantastik. Besok lagi Nia mau kok Kak" Pandu yang mendengar perkataan Nia mengacungkan kedua jempolnya
"Apaan, tidak ada lagi hadiah dari dia, memangnya uang yang Kakak transfer ke rekeningmu masih kurang? Bahkan untuk membeli tokonya pasti juga bisa. Jadi, tidak usah menunggu hadiah dari dia, sekarangpun kakak mampu membelinya" Lucky yang tidak mau ada yang memberikan sesuatu kepada Nia terlihat sangat jelas sedang kebakaran jenggot
"Sudah-sudah, kalian bisa diam tidak. Lebih baik kita makan siang dulu" Pras menghentikan perdebatan mereka untuk segera menuju ruang keluarga yang kini sudah ada makanan yang tersaji dengan alas karpet.
Mereka menikmati makanan yang sudah dibuat oleh Rahma dibantu Sri. Makan siang dengan menu sederhana namun terasa mewah karena dinikmati dengan anggota keluarga dan dalam suasana yang begitu membahagiakan.
Selesai makan siang, Lucky mengecek ponselnya yang sejak tadi tidak dia hiraukan karena terlibat perdebatan dengan Pandu yang tidak berkesudahan. Dia kaget ketika melihat sebuah notifikasi yang sangan mengganggu benaknya.
"Dasar Kur*ng aj*r. Mengapa mereka lagi yang berbuat ulah. Sudah diberi peringatan mengapa tidak pernah memiliki rasa jera, untuk kali ini tidak akan gue ampuni" Lucky terlihat sangat geram setelah membaca sebuah pesan dari seseorang yang sangat dia percaya
"Bund, Yah... Lucky harus pergi ke tempat penyekapan Nia kemarin" Lucky berpamitan dan segera beranjak ke garasi mengambil motornya yang sudah sejak kemarin tidak keluar dari sana.
"Kamu harus hati-hati nak, kita akan selalu mendoakanmu, Bunda ridho atas semua yang kamu lakukan dan jangan pernah menyalahgunakan kepercayaan orang tuamu" Rahma selalu mendo'akan dan berpesan kepada sang putra sebelum anaknya keluar rumah
"Terima kasih bunda" Lucky meraih tangan orang tuanya tak lupa mencium punggung tangan keduanya lalu beranjak pergi
__ADS_1
"Oh iya, Say**g kamu jangan pulang dahulu, terlalu bahaya jika kamu pergi sendirian, nanti kakak antar setelah urusan ini selesai" Lucky berpesan kepada Nia sebelum pergi, dia tidak ingin terjadi sesuatu lagi dengan kekasihnya
"Dan Lo ikut gue" Lucky menarik lengan Pandu yang masih saja duduk nyaman di sofa,
"Iya, tidak usah tarik-tarik bisa tidak, sakit tahu" Pandu yang ditarik lengannya menggerutu
"Cem*n banget sih lo jadi cowok" Lucky semakin menggencarkan ledekan ke Pandu
Meskipun mereka saling ledek, tapi mereka sebenarnya saling perhatian, tidak seperti waktu mereka masih kecil kalau sudah meledek maka akan berbuntut pada salah satu yang terluka.
Lucky meminta Pandu untuk duduk di depan, sedangkan dia membonceng. Dia berusaha menghubungi Nalen, memintanya untuk segera ke tempat kejadian kemarin, karena Lucky sudah mengantongi bukti yang kuat.
Di sana sudah ada beberapa anak buah Lucky yang ditugaskan untuk berjaga dan mengawasi secara langsung meskipun dari jarak yang dirasa cukup aman. Ketika ada seseorang yang datang mereka siap untuk merekam kejadian dan menghubungi Lucky setiap saat.
****
"Iya, ada apa?" Nalen masih malas menjawabnya
"Sekarang juga, Lo harus meluncur ke tempat yang sudah kita sepakati semalam, anak. buah gue sudah mendapatkan bukti yang sangat kuat" Lucky langsung berbicara tanpa berbasa-basi
"Oh, Ok, gue akan segera ke sana. Apa yang harus gue bawa?" Nalen memastikan barang yang belum sempat dipersiapkan oleh Lucky
"Tidak perlu bawa apapun, semua sudah tersedia di sana, gue tunggu kedatangan Lo, dan jangan sampai gue menunggu lama"Lucky memperingatkan sahabatnya untuk segera berangkat
"Iya, gue segera berangkat, gue pastikan lo sampai di sana, gue juga sampai" Nalen memastikan diri agar tidak mendengar ocehan lebih lama dari sahabat sekaligus calon adik iparnya
__ADS_1
Mendengar percakapan Lucky yang begitu santai, membuat Pandu penasaran dengan siapa dia bicara.
"Lo bicara dengan siapa sih, main perintah-perintah seenak jidat lo" Pandu yang tidak bisa meneksn rasa ingin tahunya bicara dengan cukup keras dalam kenisingan motor sport yang mereka kendarai
"Siapa lagi kalau bukan Nalen" Jawab Lucky jujur
"Dengan calon kakak ipar Lo?" Pandu memastikan jika Nalen yang dimaksud kakak kandung Nia
"Pastinya! Memangnya ada apa?" Lucky tidak tahu kemana arah pembicaraan Pandu saat ini
"Sesantai itu, bicara dengan calon kakak ipar?" Pandu makin penasaran
"Memangnya ada aturan harus bicara yang bagaimana dengan calon kakak ipar? Tidak ada kan....?" Lucky masih bicara dengan santai
"Setidaknya Lo harus berusaha menghormatinya agar tidak ada kendala saat lo benar-benar meminag adiknya mungkin" Pandu mengkhawatirkan Lucky jika nanti ada yang berusaha menghalangi niat baiknya
"Lebih baik apa adanya dari pada dibuat-buat, malah membuat mereka jadi tidak nyaman dengan kita, lebih parahnya pasti akan dicap dengan mencari muka" Lucky yang ingin menjadi diri sendiri dimanapun dia berada tidak mau menerima saran dari Pandu
"Terserah maumu saja kalau begitu" Pandu tidak bisa bicara apa-apa lagi kalau memang semua sudah menjadi pilihannya
Benar saja ketika Pandu memarkirkan motornya, tak jauh dari tempatnya sudah terdengan suara motor dari jarak yang semakin mendekat. Motor yang dikendarai Nalen berjajar rapi dengan motor milik Lucky.
Berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan yang kemarin malam digunakan untuk menyekap Nia, beruntung orang yang dianggap oleh Lucky sebagai dalang dari penculikan masih berdiri di dalam dan mengamati sudut-sudut ruangan.
Lucky, Nalen dan Pandu masih belum melakukan aksinya, mereka mengamati dari luar apa yang sedang mereka lakukan dan mendengar beberapa kata umpatan yang sempat keluar dari mulut orang tersebut.
__ADS_1
"Sedang apa kalian?" Lucky menyapa dari luar dan membuat kedua orang yang ada di dalam ruangan berjingkat