
"Mama..... Kak Lucky.... Tolong.... " Nia berteriak dengan keras saat merasakan kedua tangannya ada yang mencekal
Semua orang yang mendengar terikan Nia berlarian menghampiri ke meja makan. Mereka semua panik ketika melihat tangan Nia sudah tidak bisa di lepaskan dari cengkeraman seorang wanita muda yang baru tadi pagi mereka laporkan ke polisi. Dengan wajah ketakutan Nia mengisyaratkan kepada semua untuk menjauh, karena apabila ada yang berani mendekat makan tangannya tidak bisa di selamatkan.
"Jangan ada satu orangpun yang mendekat ke arah kami, jika kalian tidak ingin tangannya saya patahkan satu per satu" Manda memberikan ancaman kepada seluruh penghuni rumah orang tua Nia
Mendengar ucapan Manda, tidak ada satu orangpun yang berani melangkah lebih dekat ke arah Manda dan Nia. Manda membawa Nia ke dapur untuk mencari makanan, karena sudah sejak pagi Manda tidak makan apapun. Setelah mendapatkan makanan Manda menarik Nia ke sebuah kamar terdekat, dia mengunci dari dalam dan memastikan tidak ada akses yang bisa digunakan Nia untuk bisa keluar dari kamar tersebut.
Manda mencari barang-barang berharga yang bisa digunakan untuk melarikan diri jauh dari tempat ini. Peringatan dari Pak Herman bukan tidak mungkin akan segera terlaksana dan mungkin hidupnya sudah tidak akan sebebas ini lagi jika dia memaksakan diri tetap tinggal di sini. Semua masih kemungkinan tetapi alangkah baiknya jika dia bisa bebas.
Di luar kamar, Lucky yang mendapat kesempatan menghubungi sahabatnya tidak membiarkan kesempatan itu. Namun, baru terhubung Manda sudah keluar dari kamar tidak tertinggal Nia yang masih berada dalam kungkungannya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" Nia bertanya pada Manda dalam ketakutan
"Yang aku mau darimu? Apakah kamu mau mendengarnya apa yang aku mau darimu?" Manda balik bertanya dengan senyuman mengejek
"Iya, kalau kamu bilang apa yang kamu inginkan, pasti akan aku berikan asalkan kau melepaskanku" Nia menjawabnya dengan cukup tenang kali ini
"Benarkah?"
Nia menganggukkan kepalanya cepat.
__ADS_1
"Boleh juga tawarannya" Masih dengan seringai yang menakutkan Manda berbicara lagi
"Yang aku mau adalah orang yang terpenting dalam hidupmu, apakah kamu mau memberikannya?" Lanjut Manda
"Maksud kamu apa? Banyak orang terpenting dalam hidupku" Nia mencoba bernegosiasi lagi
"Meskipun banyak orang terpenting dalam hidupmu, namun aku hanya butuh satu orang. Mau tahu siapa yang aku butuhkan? SUAMIMU" Manda memberikan tekanan pada kata suamimu, membuat Nia begidik ngeri mendengarnya
"Jadi, kau hanya memilih suamiku? Ambil saja, kebetulan aku juga sudah capek dengan tingkah dia yang sok kegantengan. Dan juga selalu minta bermacam-macam yang membuat pusing kepala" Nia hanya ingin mengulur waktu menunggu kedatangan para bantuan, karena Nia sempat membaca kode dari suaminya
"Semudah itukah kamu menyerahkan dia kepadaku?" Manda tidak percaya dengan ucapan Nia
"Maafkan aku S*y*ng.... mau bagaimana lagi, Nia masih sayang nyawa, kalau Kak Lucky ikut dengannya otomatis nyawaku akan selamat, sedangkan jika aku tidak menyerahkan Kak Lucky nyawaku jadi jaminannya, memangnya Kak Lucky rela, jika nyawaku hilang di tangannya?" Nia hanya berpura-pura mengikhlaskan suaminya untuk Manda namun dalam hatinya menangis mengatakan itu semua
"Wow.... drama kalian sangat keren, bahkan orang pasti akan mengira jika yang kalian katakan benar, namun bagi saya Manda tidak bisa kalian bohongi dengan kata-kata sampah seperti itu" Manda bukanlah anak kecil yang dengan mudahnya ditipu dengan kata-kata manis penggombal
Manda membawa Nia keluar rumah menuju sebuah mobil milik keluarga Nia dengan kunci yang sudah berada di tangan Manda. Melempar Nia ke dalam mobil dan Manda bergegas masuk ke dalam dan menguncinya segera. Menginjak pedal gas dengan kecepatan maksimal Manda meninggalkan kediaman orang tua Nia.
Di depan gang sudah ada sekelompok polisi yang berjaga karena mendapatkan laporan dari Danny, yang mengatakan jika ada penculikan di wilayah sini. Melihat mobil dengan kecepatan di atas rata-rata di jalanan dalam kompleks membuat polisi bersiaga penuh dan berhasil melumpuhkan mobil dengan menembakkan beberapa peluru ke setiap ban.
Kegaduhan yang terjadi membuat pengguna jalan lain panik dan memilih untuk menjauh dari peristiwa tersebut. Lucky mengikuti dari belakang dengan mengendarai sepeda motor bergegas mendekati mobil yang mulai oleh beberapa kali dan sulit untuk dikendalikan.
__ADS_1
"Berhenti...." Seorang polisi mencoba menghentikan Manda yang masih nekat mengemudikan mobil yang semua bannya telah kempes
"Wilayah ini sudah dikepung oleh polisi, anda tidak bisa melarikan diri" Teriak polisi itu lagi
Tidak kehabisan akal, Manda meninggalkan Nia yang masih dalam keadaan ketakutan dan hanya bisa menutup mukanya dengan tangan. Manda berlari menyusuri gang-gang kecil dan bersembunyi dari kejaran para polisi.
Keberuntungan masih menjadi milik Nia, mobil yang sudah ditinggalkan pengemudinya berhasil Nia hentikan susah payah dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Nia menangis sejadi-jadinya setelah berhasil turun dan mendapati suaminya dalam keadaan selamat meskipun kini badannya bergetar hebat.
Lucky meminta Nalen membawa mobil untuk menjemput Nia yang sudah tidak berdaya karena badannya gemetar menahan rasa takut.
"Kamu tenang ya... Kak Nalen sebentar lagi datang. Kita akan pulang ke rumah dengan segera" Lucky membawa Nia ke dalam P*lukannnya dengan erat, rasa takut kehilangan menjalari kedua insan
"Kak, jangan tinggalin Nia, tadi Nia hanya bercanda. Jangan ikut Manda pergi dari rumah ya..." Nia berucap beberapa kali dan memegang tangan Lucky dengan erat
"Tidak akan, Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu. Kemanapun kamu pergi kakak akan selalu bersamamu" Lucky mendaratkan beberapa kali c*umannya di puncak kepala Nia dengan di sertai lelehan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi karena saat ini mereka masih bisa bersama setelah mengalami kejadian yang cukup menakutkan
Manda berhasil melarikan diri dari kejaran para polisi. Namun Polisi tidak lebgah begitu saja, mereka berusaha menyusuri jalanan perkampungan untuk melakukan pengejaran.
Nafas yang belum kembali sempurna, membuat Manda menghentikan pelariannya dengan bersembunyi di semak-semak dan merencanakan tempat tujuannya kali ini.
Menuju ke sebuah rumah yang beberapa tahun lalu menjadi tempat tinggalnya. Mengambil sebuah kunci yang selalu dia sembunyikan di tempat rahasia. Sebuah kunci duplikat yang dia buat dahulu ketika dia masih tinggal di rumah itu dan sering pulang malam. Kunci itulah yang menjadi penyelamatnya waktu itu bahkan saat ini juga menjadi penyelamatnya dari kejaran polisi.
__ADS_1