
Karena asyik merencanakan masa depan, hingga tidak sadar malam kian larut, mereka kembali ke Villa dan berencana untuk segera beristirahat. Keadaan Nia kini sudah jauh lebih baik dari pada kemarin.
"Kak, Nia masuk kamar dulu ya..." Namun sebelum masuk, sudah di tarik oleh Lucky
"Sebentar sayang, kami tidak ingin ngobrol dengan kakak dulu" Lucky menarik tangan Nia agar tidak masuk ke kamarnya
"Bukannya Nia tidak mau, tapi sejak tadi kita sudah ngobrol kan...?" Nia menolak dengan halus
"Bentar saja ya, temenin kakak kerja sebentar saja" Lucky meminta dengan pandangan memohon
"Tapi Nia sudah ngantuk banget Kak..."
"Tidur di sofa saja ya, temenin kakak... setelah selesai nanti kakak pindahin ke kamar"
"Baiklah, kalau sudah selesai nanti kakak bangunin saja, biar Nia pindah sendiri"
"Baiklah, nanti kakak bangunin. Tungguin.... Kakak ambil laptop dulu"
Lucky masuk ke kamar mengambil laptopnya dengan wajah ceria karena baru kali ini dia kerja ditemani sang kekasih hingga selarut ini, meski sebenarnya dia juga sudah ngantuk.
Duduk di karper ruang tengah di temani Nia yang tiduran di sofa belakangnya sambil membaca novel online kesayangannya, Lucky mulia. menghidupkan laptop dan mencari email yang masuk.
"Sayang, kami mau tidak belajar managemen restoran" Lucky bertanya kepada Nia
"Bukannya Nia nggak mau Kak, tapi Nia malas kalau harus ngitung-ngitung angka"Nia memang tidak suka dengan hitung menghitung
"Ngapain ngitung-ngitung, kita cuma memperhitungkan bagaimana bisa mendapatkan keuntungan dari yang kita jual itu saja masalah lain-lain bisa mengangkat asisten mungkin" Lucky menjelaskan cara berbisnis dirinya selama ini, dia hanya sebagai perencana secara garis besar, dan yang lainnya sudah ada yang menghandle secara detail
"Nggak mau mikir yang berat-berat, Nia mau tidur" Lucky membiarkan Nia tidur di sofa
"Tidur gih, lagi pula cukup kakak saja yang kerja, kamu tinggal duduk manis menerima hasilnya" Lalu Lucky mengusap kepala Nia dan berkata dengan sungguh-sungguh, dialah yang akan menjadi tumpuan hidup Nia selamanya, mengecup lembut kepala Nia dan mengucapkan "selamat malam"
Nia tersipu malu, karena selama ini dia belum pernah mendapatkan perlakuan seperti yang dilakukan oleh Lucky
Bersamaan dengan Selesainya pekerjaan Lucky dan merapikan meja serta laptopnya, handphonenya berdering
"Hallo, Assalamu'alaikum" Lucky menyapa penelphone
__ADS_1
"Sya, maaf gue belum bisa jemput lo dan adik gue besok, pokoknya lo pikirin sendiri bagaimana caranya lo akan pulang dan harus sampai di rumah besok" Hanya itu yang dikatakan oleh penelphone karena sepertinya dia memang terburu-buru yang bahkan tidak menjawab salamnya
Lucky memikirkan cara dia bisa cepat sampai rumah karena dia merasa ada yang disembunyikan oleh penelphone.
"Gue harus mencari transportasi tercepat" Batinnya
Dia mulai browsing transportasi tercepat dari tempatnya berada saat ini, karena frustasi dan tidak bisa menemukan, dia memutuskan untuk mencari kendaraan online yang bisa di pesan kapan saja.
"Sayang, bangun... pindah gih" Lucky beberapa kali menepuk pipi Nia agar terbangun, namun karena Nia baru terlelap sangat sulit untuk dibangunkan
Terpaksa Lucky menggendong dan memindahkan ke kamar.
*****
Nalen bersama kedua orang tuanya berencana untuk menjemput sang putri yang sedang sakit di Villa, naas bagi mereka yang harus membatalkan rencananya karena langit terlihat begitu petang dan beberapa kali petir menyambar di kota, tak lama hujan deras mulai turun dan tidak berhenti-henti.
"Ma, bagaimana apakah kita akan tetap menjemput adik?" Nalen memastikan rencana mamanya semula
"Kita lihat satu jam lagi saja, kalau cuaca mendukung kita tetap akan ke sana" Nalen dan Dewa hanya mengikuti rencana Ryasmi yang selalu memikirkan keadaan Nia
Satu jam berlalu, namun hujan tak kunjung reda, perasaan khawatir yang mendera seorang ibu terhadap anaknya tidak bisa ditahan lagi.
"Nalen.... Nalen.... bangun Nak... " Ryasmi berteriak membangunkan sang putra dengan mengetuk pintu dengan keras
"Iya Ma, Nalen sudah bangun" Jawaban Nalen yang begitu keras menandakan kalau memang dia sudah bangun
Nalen berlari ke lantai bawah menghampiri orang tuanya.
"Ada apa Ma, bukannya di luar masih hujan lebat?"
"Mama kepikiran adikmu yang sedang sakit, kita harus berangkat sekarang" Ryasmi memaksa anaknya untuk segera mengeluarkan mobil Lucky yang masih dibawa oleh Nalen, memilih memakai mobil Lucky karena mobil Lucky lebih besar dari mobil Nalen.
Langit masih begitu gelap diiringi petir yang masih beberapa kali menyambar, Nalen dan kedua orangtuanya berusaha menyusuri jalanan yang sudah banyak tergenang air yang tidak lancar mengalir.
Jalanan nampak sepi karena banyak yang memilih menepikan mobil mereka ketika hujan begitu derasnya.
Di tengah perjalanan handphone milik Ryasmi berdering dan tertera nama Rahma di sana
__ADS_1
"Hallo, Nalen ada di rumah tidak, kata Lucky dia pulang duluan" Terdengar suara Rahma yang terdengar sedikit lemah
"Iya, ada apa?" Ryasmi juga terdengar panik
"Kalau bisa suruh dia ke sini" Selesai mengatakan kalimatnya sudah tidak terdengar lagi suara Rahma yang membuat Ryasmi harus berubah haluan menuju rumah Rahma dan Pras
Kebetulan jarak yang sudah mereka tempuh mendekati kediaman Pras dan Rahma, jadi tidak butuh waktu lama untuk menjangkaunya.
"Assalamu'alaikum" Beberapa kali Ryasmi mengetuk dan mengucap salam, namun hanya suara mbak Sri yang berlari dari dalam dan membukakan pintu
"Mas Nalen, tolong ibu mas...." Mbak Sri panik sekaligus senang karena ada yang datang
"Ada apa mbak...?" Ryasmi juga ikutan panik dan mengikuti arah Mbak Sri menuju kamar Rahma
"Kurang tahu Bu, tapi tadi Ibu sempat merasa kesakitan di bagian perutnya dan sekarang tidak sadarkan diri" Mbak Sri menjelaskan kejadian yang menimpa Rahma
"Apakah Pras sudah tahu?" Dewa menanyakan keberadaan Pras
"Tuan sedang ada pekerjaan di luar kota, sedang mas Lucky belum juga pulang
"Kita bawah ke rumah sakit saja sekarang" Dewa memutuskan demi kebaikan sahabatnya, kalaupun nanti disalahkan oleh Pras akan dia jelaskan keadaan saat ini.
Dibantu Mbak Sri, Rahma dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Karena keadaan Rahma yang tidak sadarkan diri, maka diminta opname untuk pemeriksaan menyeluruh.
"Bagaimana keadaan sahabat saya Dok?" Ryasmi langsung menghujani pertanyaan ketika melihat dokter keluar dari ruang pemeriksaan
"Untuk sementara kami belum bise menyimpulkan keadaanya, kita tunggu pasien siuman terlebih dahulu, apakah ada anggota keluarganya" Dokter ingin menanyakan kepada anggota keluarganya
"Kebetulan suaminya sedang ada pekerjaan ke luar kota dan anaknya sedang liburan Dok, tapi kami keluarga dekatnya" Dewa memilih mengatakan seperti itu karena memang merekalah yang saat ini keluarga terdekat.
"Maaf tuan, tapi kami harus bicara dengan keluarganya langsung yang tahu kondisi sebelumnya"
"Akan kami usahakan untuk segera menghubungi suami dan anaknya" Dewa mengalah
"Usahakan secepatnya untuk penangana lebih lanjut" Perintah sang Dokter
"Baik Dok" Jawab mereka bersamaan
__ADS_1