
Nalen masuk ke ruangan Dokter klinik tersebut dan menanyakan kondisi Nia saat ini,
"Bagaimana kondisi adik saya Dok..." Tanya Nalen karena sudah sangat khawatir
"Tidak usah khawatir.... "
Belum juga Dokter selesai bicara sudah dipotong oleh Nalen "Gimana saya tidak khawatir Dokter, adik saya kesakitan seperti itu"
"Maaf Mas, biar saya jelaskan terlebih dahulu keadaannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari keadaan adik anda, karena itu adalah hal yang wajar bagi seorang wanita yang sedang mengalami menstruasi, memang ada sebagian wanita yang kesakitan diawal-awal menstruasi, namun ada juga wanita yang tidak merasakan hal itu" Jelas Dokter itu
"Jadi, adik saya kesakitan bukan karena efek minum kopi Dok?" Tanya Nalen masih penasaran
"Siapa yang bilang karena efek minum kopi?" Tanya Dokter itu balik
"Begini Dok, karena dulu waktu kecil dia pernah minum kopi dan terjadi sakit perut yang seperti tadi Dok, karena dia minum kopi juga sebelum merasakan perut yang melilit Dok"
Dokter itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah khawatir seorang pemuda yang kini berada di depannya itu.
"Ya sudah Dok, saya pamit dulu"
"Iya"
"Jadi, sekarang kita boleh pulang Dok"
"Boleh, Namun sebelumnya silakan selesaikan adminstrasinya dulu" Pesan Dokter itu dengan tersenyum ramah
Nalen langsung menghampiri Lucky yang masih terlihat cemas duduk di kursi tunggu luar ruangan. Nalen menepuk bahu sahabat kecilnya itu dengan hati-hati
"Hei, nggak usah khawatir, Nia baik-baik saja kok" Nalen membuka suara menjelaskan keadaan Nia yang sebenarnya
"Dia hanya.... " Nalen menggantungkan penjelasannya karena tidak enak kalau harus membicarakan hal seperti itu dengan Lucky
"Hanya.... " Lucky mengerutkan dahinya melihat Nalen yang terlihat begitu santainya "Adik lo sakit seperti itu lo bilang " hanya" dimana otak lo"Lucky berbicara dengan sedikit menaikkan suaranya, karena dia tidak habis pikir dengan jalan tingkah Nalen saat ini.
"Woi sabar dong, belum juga gue jelasin" kata Nalen memulai penjelasan
"Nia sakit bukan karena minum kopi, tapi.... dia sakit karena biasalah, lo tahukan cewek yang hadir tiap bulan..." Nalen menjelaskan dengan sedikit berbisik
__ADS_1
"Astaghfirullahalazim... jadi hanya karena itu, aku pikir karena minum kopi, pantesan dia ngeyel mau minum kopi, berarti selama ini memang tidak ada efek apapun kalau dia mengkonsumsi kopi" Lucky terlihat frustasi karena begitu panik dengan keadaan Nia tadi, dia takut kalau terjadi apa-apa disaat mereka pergi bareng
"Ya sudah, ayo siap-siap pulang, tapi gue urus administrasinya dulu. Lo tunggu di sini atau masuk dulu?" Tanya Nalen kepada Lucky
"Gue ikut ngurus administrasinya dulu saja, biar gue yang bayarin"
"Alhamdulillah, berkat keberadaan lo uang gue nggak jadi berkurang" seloroh Nalen
"Dasar lo ya... sama saja dengan orang-orang"
"Kenapa!? " Nalen tampan berfikir
"Suka manfaatin orang lain" Lucky sambil berlalu meninggalkan Nalen yang masih nampak berfikir
Nalen berlari menyusul Lucky yang sudah berada jauh di depannya menuju kasir untuk menyelesaikan administrasi perawatan Nia. Setelah selesai mengurus administrasi perawatan Nia, keduanya kembali ke kamar perawatan Nia untuk mengajaknya pulang. Namun, yang diajak pulang malah masih betah tiduran di brankarnya dan tidak beranjak sama sekali dari tempatnya.
"Dek, lo betah di sini ya....? nggak mau pulang, noh sudah dicariin mama sejak tadi" Cerocos Nalen karena merasa adiknya nggak mood untuk segera pulang.
"Bukannya adik nggak mau pulang Kak, tapi tunggu sebentar ya.... Nia lagi nungguin seseorang"
"Hah, nungguin seseorang, nungguin siapa Dek? Adek janjian sama seseorang?" Nalen sangat penasaran dengan Adiknya saat ini
Mendengar Nia sedang menunggu seseorang fikiran Lucky mulai kacau, dia mengira yang Nia tunggu adalah pacarnya atau setidaknya orang yang begitu dekat dengan dia. Lucky memutuskan untuk keluar dari kamar perawatan Nia dan menuju kursi yang dekat dengan pintu keluar. Dia tidak ingin melihat seseorang yang sedang ditunggu Nia, mungkin orang ini sangat spesial baginya.
Di luar klinik, terdengar suara motor yang berhenti tidak jauh dari pintu yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk ke klinik tersebut dan terdengar suara seorang laki-laki menyebutkan nama seseorang setelah orang tersebut melepaskan helm dan juga jaket yang dia kenakan serta merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Maaf Pak, apakan benar di sini ada pasien yang bernama Farasya?" Tanya lelaki muda itu kepada Satpam ya g berjaga di depan pintu klinik
"Maaf Mas, saya kurang paham dengan pasien yang dirawat di sini, Mas langsung masuk saja dan tanyakan pada resepsionis saja." Jelas Satpam yang berjaga, karena memang Satpam tidak tahu mengenai nama-nama pasien yang ada di klinik ini, kecuali pasien lama, dia sudah kenal
"Oh, iya makasih Pak" Pemuda itu berlalu masuk ke dalam klinik dan menghampiri resepsionis
Kebetulan keberadaan Lucky tidak jauh ruang resepsionis, mendengar seseorang menyebut nama Nia, dia sedikit menguping pembicaraan tersebut. Lucky merasa sangat kecewa ternyata sudah ada lelaki lain yang mengisi hati teman kecilnya yang menjadi incarannya saat ini.
Dengan sedikit sombong Lucky menghampiri dan bertanya kepada laki-laki itu "He, lo ngapain nyari-nyari Nia segala, Nia nggak butuh elo, dia sudah ada yang jagain, lebih baik elo sekarang pergi dari hadapan gue dan jangan sekali-sekali muncul lagi dihadapan gue ataupun Nia" Lucky mengancam lelaki itu dengan penuh penekanan, karena saat ini Lucky dikuarasi rasa cemburu
"Maaf Mas, apakah Mas keluarganya?" Tanya lelaki itu dengan sopan
__ADS_1
"Iya, dan juga dengar kata-kata gue nggak akan ada yang boleh ngedeketin dia selain gue, lo camkan itu" Jawab Lucky masih dalam mode yang kurang ramah
"Tapi Mas,.... "
Belum juga lelaki itu selesai berbicara sudah dipotong oleh Lucky "Nggak ada tapi-tapian, sekarang lebih baik lo pergi sekarang"
"Maaf lagi ini Mas, bukannya saya nggak mau pergi tapi ini benar-benar saya harus ketemu sama Farasya"
"Pergi nggak lo..... " Lucky mulai melotot menghadapi lelaki yang tidak tahu malu itu
"Maaf Mas, saya driver GOCEKAN mau nganterin ini" Karena tidak ada kesempatan untuk ngomong akhirnya lelaki itu langsung bicara dan menunjukkan plastik yang dia bawa dan terlihat jelas isi plastik itu adalah sebungkus roti tawar yang sangat dibutuhkan Nia saat ini.
Dengan sangat malu dan menepuk jidatnya, Lucky minta maaf kepada lelaki itu, karena sudah memarahi dan mengancamnya. Dia tidak habis pikir ternyata lelaki dihadapannya ini adalah seorang driver ojek online, dan berarti sejak tadi dia cemburu dengan seseorang yang Nia tinggu-tunggu dan tak lain nungguin pesanan yang dibawa oleh ojek online.
"Ya sudah Mas, mari saya antar ke kamarnya"
"Apakah tidak lebih baik masnya saja yang menyerahkan ini"
"No, no, no.... " Lucky dengan cepat menolak keinginan sang driver
"Tapi masnya nggak akan ngancam saya lagi tho.... soalnya saya takut kalau saya nemuin mbak Farasya masnya cemburu lagi" Sang driver malah menggoda Lucky
"Nggak akan, asal lo segera pergi setelah menyerahkan itu"
"Ok mas..... nggak akan lama"
Sang driver menuju kamar Nia diikuti oleh Lucky yang mengekor dibelakang driver dan segera memasuki kamar dan menyerahkan plastik yang sejak tadi ditentengnya dan meminta pembayaran kepada sang pelanggan.
"Kak, tolong bayar dulu ya... " Nia meminta Nalen untuk membayar ojol itu
"Nggak usah, biar gue yang bayar" Lucky membuka suara
"Berapa Mas?" Tanya Lucky kepada ojol itu
"Tiga puluh ribu Mas"
Lucky mengambil uang berwarna merah dan segera menyerahkan kepada ojol sambil berucap "Kembaliannya ambil saja mas"
__ADS_1
"Terima kasih Mas, sering-sering ya.... dan jangan cemburu lagi dengan ojol" Pesan sang driver ojol ke Lucky di hadapan Nia dan Nalen
"Cemburu sama siapa kak.....?" Nia mengerutkan dahinya dan bertanya pada Lucky