
"Hm... Hm, Pulang sana, jangan membuat iri orang yang melihat, lagi pula bisa tidak kasih tempat buat para jomblo" Andi yang melihat kemesraan pasangan suami istri baru terlihat iri
"Eh.. Eh..." Nia gelagapan ketika seseorang mengomentari dirinya
"Apaan sih, tidak seperti itu, gue cuma menyelamatkan istri gue yang mau jatuh" Selain menutupi rasa malu Nia, Lucky juga ngeles karena sebenarnya dia juga menunggu momen-momen seperti tadi
"Tidak usah ngeles, lanjut di rumah sana, di larang bermesraan di tempat umum" Andi masih saja mengejek Lucky yang terlihat malu
"Eh, sama siapa Lo ke sini? Tidak mungkin sendirikan?"Lucky melihat seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka namun berusaha membelakangi dan menjauh
"Eng... Enggak gue ke sini senrian" Andi menjawab dengan terbata-bata
"Iya deh.. sendirian, kalau begitu kami pulang dulu, mau melanjutkan yang tadi"
Lucky dan Nia masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan baseman mal yang sangat ramai. Di dalam mobil Nia masih diam, antara malu dilihatin dan terpergok orang juga malu karena baru kaki ini dia berada dalam pel*kan seorang cowok di muka umum.
"Say*ng, kok diam"
"Ada apa Kak?"
"Tidak, mengapa kok diam sejak tadi? Eh, bentar Say*ng jangan bergerak" Lucky menyilangkan tubuhnya di depan badan Nia, tangan kirinya memegang kepala Nia dan kepalanya semakin mendekat ke arah Nia hingga menyisakan jarak yang sangat dekat, jantung Nia berdebar kencang melihat wajah Lucky yang semakin dekat dengan wajahnya. Dengan terbata Nia berkata "Kakak mau ngapain?" Nia enggan untuk membuka mata untuk menyaksikan wajah yang berada di depan mukanya, Nia hanya takut jika Lucky melakukan hal yang tidak-tidak
"Kenapa, Kakak cuma mau ambil daun yang menempel di rambut sebelah kirimu" Sambil memperlihatkan daun yang kini sudah berpindah ke tangannya. Melihat Nia yang salah tingkah membuat Lucky ingin menggodanya lagi
"Kamu mau kakak ci*m?"
"Enggak mau" Nia menjawab dengan ketus
"Kalau mau juga tidak apa, sini mendekat" Lucky semakin mendekatkan wajahnya ke muka Nia yang semakin merah karena malu
"Bagaimana mau diterusin di sini atau di rumah?" Lanjut Lucky semakin menjadi menggoda istrinya
"Cepat pulang, keburu malam" Nia yang menahan malu sembarangan bicara
__ADS_1
"Ok say*ng kita lanjut di rumah saja, takutnya nanti kebablasan di sini bisa ditangkap satpol PP"
"Kakak mikirin apa sih? Cepat pulang...." Suara Nia yang manja membuat Lucky semakin gemas hingga mendaratlah cubitan di pipi Nia.
Lucky yang sudah gerah juga ingin segera pulang sejak pagi mutar-mutar membuatnya penat. Diinjaknya pedal gas dan melaju dengan kecepatan yang cukup cepat, tujuan mereka adalah rumah Dewa untuk mengambil barang-barang milik Nia.
Mereka tiba di rumah Dewa ketika semua penghuninya sedang berkumpul makan malam, termasuk Nara juga ada di sana.
"Assalamualaikum Ma, Pa, Kak Nalen" Nia menyapa semua yang duduk di meja makan
"Wa'alaikum salam" Jawab mereka serentak
"Eh, ada Kak Nara" Nia yang baru menyadari keberadaan Nara menyapanya
"Memang ya... Pengantin baru yang terlihat cuma yang tersayang, yang lain mah tidak kelihatan" Nara yang baru di sapa malah menggoda
"Kak Nara apa sih, Kakak kapan nyusul?" Tidak mau diejek terus-terusan, Nia akhirnya melemparkan pertanyaan yang sensitif. Nara menundukkan kepalanya tidak mau menjawab
"Dik, jangan malam-malam kalau mau makan segera duduk dan ambil makanan, kami sudah lapar kalau harus nunggu kamu bicara dahulu" Nalen yang mengetahui jika kekasihnya tidak mau menjawab pura-pura memarahi Nia
"Tidak bisa apa jauhan sedikit" Nalen tidak suka melihat adiknya duduk berdampingan dengan suaminya, apalagi mereka berlagak sok romantis dengan Nia mengambilkan makanan untuk suaminya disertai senyuman manis
"Kalian biasa saja bisa tidak, masih sekolah juga sudah sok-sokan" Lanjut Nalen yang terbakar rasa cemburu
"Nia begini juga karena kalian semua, masih sekolah dipaksa menikah"Nia bersungut meluapkan kekesalannya yang mengetahui jika keluarganya juga terlibat dalam jebakan pernikahannya
"Meskipun dipaksa tapi bahagia, tidak usah bohong kami Dik"
"Kamu sudah tahu Dik?" Dewa yang semenjak tadi menyaksikan pertengkaran anaknya ikut bersuara
"Sekarang Nia marah dengan kalian karena sudah menjebak Nia!" Nia berlagak marah kepada keluarganya
"Kak Nara tahu tidak, masa setelah menikah Nia tidak dibawakan baju untuk ganti, dan hanya diberi baju yang tipis serta kurang bahan, yang melihatnya pasti dikiranya tidak kuat membeli baju. Nia kan jadi malu harus pakai baju itu, untungnya hanya Kak Lucky yang melihatnya" Lucky tersedak makanannya ketika Nia menyebutkan namanya dan teringat kejadian malam itu yang melihat Nia untuk pertama kalinya memakai baju yang kurang bahan dan tipis tanpa memakai dalaman bagian atas
__ADS_1
"Adik...., jangan bicara sembarangan di meja makan, kamu tidak lihat muka suamimu seperti kepiting rebus"
"Hm.. Hm.. maaf saya sudah selesai" Lucky memilih melarikan meja makan terlebih dahulu untuk menghindari ledekan kakak iparnya
"Tidak usah malu Luck, lagi pula pasti sudah unboxing adik gue" Nalen semakin menjadi menggoda iparnya
"Tidak ada Unboxing, Lo tahu sendiri mana sempat, selesai acara kita pergi ke kantor polisi dan paginya kami sibuk" Lucky tidak terima dengan perkataan iparnya
"Wah, berarti bakal unboxing di sini dong"
"Tidak ada, kami mau pulang ke rumah" Jawab Lucky
"Rumah mana? Bukannya rumahmu belum jadi?" Setahu Nalen rumah Lucky memang masih dalam tahap pembangunan
"Apartemen" Lucky menjawab singkat
"Apa, apartemen? Sejak kapan kamu punya apartemen, kalian nyewa ya?" Nalen kaget mendengar kata Apartemen
"Tidak ada dalam kamus Lucky MENYEWA, kami membelinya" Lucky pamer kepada kakak iparnya dengan menekankan kata MENYEWA
"Kapan kalian beli? Tidak mungkin tadi pagi bukan? Memangnya beli apartemen seperti beli kacang rebus, bayar langsung dimakan?"
"Betul Kakak Iparku yang ganteng tapi tidak laku, kami baru beli tadi pagi, di daerah dekat sekolah Nia"
"Gila Lo, unit di sana harganya mahal lho.... Dasar kalian menghambur-hamburkan uang tanpa berfikir panjang, kalau uang kalian habis terus rumah kalian belum jadi bagaimana?"
"Minta kamu lah...."
"Tidak ada, uang gue mau gue pakai sendiri"
"Ya sudah kalau tidak mau, lebih baik diam dan nikmati hidup masing-masing"
"Wah.... wah... ipar tidak tahu diri, memangnya siapa yang bantuin Lo untuk dapat nikahin adik gue?"
__ADS_1
Mereka berdua berdebat tanpa ada yang mau mengalah seperti anak kecil yang berebut permen.
"Diaaaammmmmmm"