CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
161


__ADS_3

Manda pagi-pagi sudah bersiap pergi, dengan berjalan kaki menuju jalan utama untuk menunggu angkot, dia memilih menggunakan kendaraan umum, agar tidak meninggalkan jejak dimanapun. Dengan memakai kaca mata hitam dan juga selendang sebagai penutup wajahnya.


Langkahnya seringan kapas berharap dia bisa memberikan kabar baik untuk mamanya yang saat ini berada di penjara. Dan bisa memberikan rasa bahagia baginya. Tas plastik berwarna hitam berisi makanan kesukaan mamanya, Manda memasuki pintu gerbang sebuah rutan. Tidak lupa meminta izin kepada seorang sopir yang sedang bertugas.


"Ma.... bagaimana kabar mama, Manda harap mama baik dan sehat" Manda memeluk erat Elsa yang baru saja keluar dari pintu khusus


"Manda punya kabar membahagiakan. Manda berhasil membuat Nia istri Rasya keguguran, sebenarnya target Manda cuma membuat dia sakit perut, namun kenyataannya Tuhan membantu kita memberika efek lebih buat kanduangannya" Manda menceritakan dengan berbinar


"Mulai sekarang kamu harus berhati-hati dalam bertindak, karena mama saat ini tidak bisa membantumu, untuk saat ini mama harap kamu bisa hidup dengan tenang tanpa ada seorang yang mengganggumu" Elsa saat ini mengkhawatirkan anaknya jika bertindak gegabah apalagi sekarang hanya sedikit mendapatkan uang bulanan dari perusahaan milik ayah Nana.


"Mulai saat ini harus merencanakan dengan matang sebelum bertindak" Lanjut Elsa


"Mama tidak usah mengkhawatirkan Manda, yang terpenting mama harus tetap sehat di dalam sini. Manda bisa menjaga diri"


"Kamu jangan bodoh Manda, saat ini mereka sangat kuat. Mereka bisa menemukanmu kapan saja dengan bantuan orang-orang yang bekerja dengan dia"


"Sudahlah Ma, jangan parno.... Kenyataannya sampai saat ini mereka tidak mencari Manda. Mungkin dikiranya orang lain yang melakukannya"


"Terserah kamu saja, yang penting kamu harus berhati-hati"


Waktu berkunjung sudah hampir habis, Elsa kembali ke balik jeruji besi sedangkan Manda telah bersiap dengan penutup kepala dan juga wajah untuk meninggalkan hotel prodeo.


Masih tetap menggunakan angkot, Manda menuju ke sebuah tempat tujuan utamanya. Di dalam angkot tangannya sibuk mempersiapkan sesuatu yang sudah dibawanya dari rumah. Dia tidak menyadari jika sejak dari penjara Manda diikuti oleh seseorang yang selalu memperhatikan gerak-geriknya serta melaporkan kepada seseorang.


Langkahnya ringan tanpa ada beban. Menuju ke sebuah toilet yang berada di dalam gedung tujuannya. Mengganti baju yang dia kenakan dan juga memperbaiki riasan wajahnya, tidak lupa masker berwarna hijau yang menutupi sebagian besar wajahnya. Manda mulai merlancarkan aksinya setelah semuanya siap.


Manda mendorong sebuah troli makanan yang sudah tertata rapi makan siang yang harus diantar kesetiap kamar dengan secarij kertas di setiap setnya. Manda berusaha tidak meninggalkan kecurigaan di setiap langkahnya.

__ADS_1


Memasuki satu persatu kamar selayaknya petugas yang sedang mengantarkan makan siang, hingga tibalah di sebuah kamar VVIP paling ujung dan merupakan satu-satunya kamar yang menjadi tujuan utamanya.


"Permisi, maaf saya yang bertugas hari ini mengantar makan siang buat pasien" Manda memerankan perannya dengan sangat berhati-hati


"Iya, mbak.... Terimakasih" Nia menjawab dengan sopan


"Apakah Mbak di sini sendiri?" Tanya Manda berpura-pura


"Tidak mbak, kebetulan suami saya sedang keluar membeli makanan"


"Oh, Apakah mbak mau dibantu untuk makan sekarang?"


"Tidak mbak, nanti saja setelah suami saya kembali"


"Kalau mbak butuh apa-apa bisa panggil saya"


Manda meninggalkan ruang yang di tempati Nia, namun dia tidak pergi jauh dari tempat Nia berada, dia masih memantau keadaan di sekitarnya.


Lucky kembali ke kamar Nia setelah membeli beberapa makanan yang dipeaan oleh Nia, dia juga membeli kebutuhannya sendiri. Kedua tangannya menenteng tas plastik berisi berbagai makanan ringan. Ketika Lucky berjalan ke arah Kamar, tidak luput dari penglihatan Manda yang berada tidak jauh dari tempat Lucky berjalan.


"Mengapa senyum-senyum begitu?" Lucky memperhatikan Nia yang semenjak kedatangan Lucky, Nia memperlihatkan wajah cerianya


"Kak Lucky tahu tidak?" Nia mengajukan pertanyaan


"Tidak tahulah, kamukan belum bicara"


"Oh, iya... Bukannya Nia tidak kecewa dengan kejadian yang menimpa kita saat ini, tapi... menurut Nia ini mungkin suatu berkah yang diberikan oleh Allah untuk kita, dimana kita masih harus mempersiapkan diri sebagai orang tua. Di mata Allah mungkin Nia masih belum layak jika nantinya menjadi seorang ibu dan juga masih harus sibuk dengan sekolah"Nia mengatakan dengan sedikit tersenyum meskipun sebenarnya dalam hati terdalamnya juga merasa kehilangan, mungkin itulah yang terbaik untuk mereka saat ini

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu bisa menerimanya dengan lapang dada, Insya Allah kita akan mendapatkan yang terbaik dikemudian hari" Lucky menarik Nia ke dalam pelukannya sambil mengusap rambut panjang Nia yang tergerai


Merasakan rambut Nia yang berantakanberantakan, Lucky beranjak dari duduknya mencari sisir yang berada di dalam tas, dan meminta Nia untuk duduk. Dengan telaten Lucky merapikan rambut Nia agar terlihat lebih rapi dan nyaman.


Lucky harus pergi mengambil uang untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit, hari ini Nia sudah diijinkan untuk pulang, karena kondisinya sudah mulai membaik dan hanya membutuhkan istirahat beberapa hari untuk memulihkan tenaga.


Manda tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan mengendap-endap dia berusaha menyelinap ke dalam kamar Nia dan menjalankan rencananya. Setelah berhasil masuk dan bersembunyi di balik meja, Manda mempersiapkan sebuah alat suntik dan segera dia isi dengan obat.


Nia terlihat memejamkan mata ketika Manda mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Kesempatan terbaik pikir Manda saat itu. Manda mulai mendekati bankar Nia dan meraih selang infus dengan berdiri di samping Nia. Tiba-tiba Nia membuka matanya.


"Lho mbak...." Tanya Nia kaget, hal itu membuat Manda terkejut


"Iya Mbak, maaf mengganggu istirahatnya, ini saya hanya mau memberikan suntikan terakhir sebelum mbak Nia meninggalkan rumah sakit" Manda berkilah agar tidak dicurigai oleh Nia


"Oh.... Baik mbak silakan" Nia tersenyum memperhatikan Manda yang menyuntikkan di selang infusnya


Nia tidak menaruh rasa curiga sedikitpun. Dari luar seorang perawat masuk membawa baki yang berisi beberapa obat yang sudah dipersiapkan untuk dibawa pulang oleh Nia.


"Selamat siang mbak, ini saya mengantar obat yang harus mbak Nia bawa pulang dan harus dihabiskan agar mbak segera pulih" Perawat masuk dan menutup pintu segera


Mendengar seseorang yang masuk ke kamar Nia, Manda bergegas menyelinap keluar.


"Selamat siang Sus, baru saja seorang perawat memberikan suntikan terakhir untukku" Nia mengatakan dengan jujur


"Maksud mbak Nia apa? Saya yang bertugas memberikan obat terakhir untuk mbak Nia dan juga yang mempersiapkan semua obatnya. Saya tidak pernah meminta orang lain untuk membantu saya" Perawat yang bertugas curiga seseorang telah menyelinap ke kamar ini


Perawat tersebut bergegad pergi mencari dokter untuk melakukan pengecekan lebih lanjut, dia takut jika orang yang telah menyuntik Nia memberikan obat yang tidak benar

__ADS_1


__ADS_2