
"Baik Mas, jangan takut mbaknya pasti selamat sampai di penginapan, mas Pandu hati-hati karena sudah terlalu larut" Pesan bapak penunggu penginapan
"Iya Pak, jangan dibiarkan dia menangis, biar tidak Malu-maluin"Pesan Pandu
" Serahkan pada Pak Parno mas, semua pasti aman terkendali"Kata Pak Parno mulai berjalan di depan Nia sambil tersenyum ramah
Sampai di penginapan Nia merasa haus dan menuju ke dapur penginapan untuk mengambil air minum kemudian duduk di lobby penginapan seorang diri sambil menikmati hujan yang semakin lama semakin deras. Nia enggan kembali ke kamarnya, rasanya tidak nyaman jika harus masuk ke kamar itu.
Semakin lama semakin larut, matapun tidak bisa diajak kompromi lagi, dengan bersandarkan kursi Nia mulai terhanyut dalam nyanyian gemericik air hujan dan terbuai mimpi yang mulai menghampiri, belum juga benar-benar terlelap, ada seseorang yang menepuk bahunya seraya berucap "Hei, anak ingusan, lo benar-benar nggak bisa menjaga diri ya? bisa-bisanya tidur di tempat terbuka kayak gini, kalau ada orang jahat bagaiman?"
Nia kembali terjaga setelah mendengar seseorang mengomel di dekatnya. "Berisik banget sih" Nyawa Nia masih belum terkumpul sempurna dan langsung terbelalak ketika mendapati Pandu berada di dekatnya
"Kak Pandu mau ngapain" Nia kembali buka suara saat Pandu mau menyelimuti tubuh Nia dengan selimut yang dia ambil dari salah satu kamar di penginapannya
"Lo pikir, gue mau ngapain?"Nia menyilangkan kedua tangannya di depan dada " Gue tidak tertarik dengan cewek ingusan kayak lo, Nih, pake selimut!" Pandu melemparkan selimut yang dia pegang ke pangkuan Nia.
"Terima kasih Kak" Ucap Nia Malu-malu
"Lagian mengapa tidak kembali ke kamarmu saja?" Tanya Pandu penasaran, Pandu memperhatikan Nia sejak tadi seperti sedang memikirkan sesuatu dan tidak ingin bercerita kepada orang lain
"Lagi pengen sendiri" Jawab Nia berbohong
Lucky keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di luar, dia kaget ketika melihat Nia yang masih berada di luar kamar sementara malam sudah semakin larut, memang setelah Dia meninggalkan Nia di taman sendirian, Lucky tidak melihat keberadaan Nia lagi hingga saat ini dia baru melihatnya, bahkan sekarang dia dengan santainyaa mengobrol dengan laki-laki yang tidak dia kenal. Dengan perasaan canggung dia mendekat setelah mendapatkan apa yang dia mau.
"Siapa yang ngobrol dengan Nia, mengapa mereka terlihat akrab?" Tanyanya dalam hati
Sampai di lobby penginapan Lucky ikut duduk di seberang kursi yang Nia duduki dan bertanya kepada Nia "Jam segini mengapa belum masuk ke kamar?" Nia tampak kaget melihat Lucky yang mendatanginya di malam yang telah larut
__ADS_1
"Belum ngantuk Kak, Kakak mengapa belum istirahat juga?" Nia malah balik bertanya
"Nih, ambil minum, tadi lubang tidak membawa minum ketika masuk ke kamar" Jawab Lucky sambil memperlihatkan botol yang telah berisi air yang dia ambil dari dapur
"Bukannya kamu tidak pernah tidur malam sebelum jam 10 malam?" Nia malu karena ketahuan berbohong
"He... he..."
"Dia baru kembali dari taman dan kehujanan sok-sokan tidak takut apa-apa" Pandu ikut menimpali
"Memang gue nggak takut" Nia tidak mau kalah
"Ya, sudah sekarang balik ke kamar, takutnya besok kamu sakit kalau perjalanan pulang" Pinta Lucky dengan tulus
"Tapi Kak, boleh ngomong dulu tidak, tapi kalau kakak ngantuk nggak apa-apa silakan kakak kembali ke kamar" Belum juga Lucky menjawab Nia langsung menyimpulkan karena Lucky terlihat mengernyitkan dahinya
Merasa ada yang mau diomongin oleh kedua siswa berjenis kelamin berbeda itu, Pandu memilih meninggalkan mereka berdua dan duduk agak menjauh namun masih bisa mengawasi, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang memalukan di penginapannya.
Mereka diam beberapa saat tanpa ada yang memulai bicara, Nia mulai merapatkan selimut yang diberikan oleh Pandu tadi karena memang udara semakin dingin dan Nia tidak ingin sakit.
"Kak, apa saya boleh mengambil kamar lain untuk malam ini?" Tanya Nia ragu-ragu
"Kasih saya alasan yang masuk akal mengapa kamu meminta kamar lain dan tidak kembali ke kamar kamu dengan teman-temanmu?" Interogasi Lucky ketika mendengar permintaan Nia yang mengada-ada
"Bukannya Nia tidak mau kembali ke kamar Nia, tapi Nia merasa tidak nyaman untuk kembali ke kamar dan tidur bersama mereka" Jawab Nia jujur
"Entah mengapa menurut perasaan Nia mereka semua jahat, semua kejadian yang terjadi Nia rasa akibat ulah mereka dan terlihat sudah direncanakan dengan matang"Lanjut Nia
__ADS_1
" Kamu punya bukti, kalau ada setelah pulang dari sini, akan kami laporkan kepada guru biar bisa diselidiki"Tanya Lucky
"Belum ada sih Kak, tapi Nia yakin kok salah satu dari mereka berniat jahat ke Nia" Nia masih ngotot mempertahankan pendapatnya
"Ya sudah, gini saja sekarang kamu minta ke penjaga penginapan, minta satu kamar, biar nanti kakak yang bayar secara pribadi" Lucky akhirnya meminta Nia minta satu kamar dan dia yang akan membayar, karena melihat Nia seperti tertekan membuatnya tidak tega jika harus memaksanua untuk tetap kembali ke kamarnya yang lama
Terbukti Nia baru kembali dari taman ketima malam telah larut bahkan dalam keadaan kehujanan dan tidak mau kembali ke kamar malah memilih berada di lobby yang bahkan dia tahu itu sangat berbahaya bagi seorang perempuan muda sepertinya tidur di tempat terbuka seperti ini.
Secepat kilat dan perasaan senang, Nia mendatanginPak Parno untuk meminta sebuah kunci salah satu kamar yang masih kosong, dengan didampingi oleh Lucky untuk membayarnya secara langsung.
"Berapa Pak?" Tanya Lucky
"Hanya untuk malam ini ya Mas?" Tanya Pak Parno
"Iya Pak, hanya untuk dia saja, paling besok pagi kami juga sudah chek out dari sini" Jelas Lucky
"Sebentar Mas, saya tanyakan ke pemiliknya dulu, karena ini juga sudah terlewat tengah malam" Pak Parno tidak bisa memberikan harga secara langsung kepada Lucky dia mau bertanya dulu kepada Pandu pemilik penginapan ini, karena sepertinya pemiliknya ini sedikit tertarik terhadap Nia
Pak Parno bercakap-cakap dengan Pandu membicarakan keinginan Lucky untuk mengambil sebuah kamar single bed hanya untuk sampai besok pagi dan akan membayarnya secara pribadi, dimana kamar itu akan ditempati oleh Nia.
"Bagaimana Mas?" Tanya Pak Parno
"Begini saja Pak, karena kamar itu juga ada yang kosong, lebih baik kita kasih harga separo saja dan beri kebebasan sampai besok mereka chek out" Pandu menjelaskan kepada Pak Parno
"Baik Mas, akan saya beri tahu mereka" Pak Parno meninggalkan Pandu yang masih dalam mode tanda tanya mengenai dia siswa yang berbeda usia itu
"Mas Pandu?" Pak Parno menepuk bahu Pandu yang membuatnya bertingkat kaget
__ADS_1