
Motor Lucky tidak luput dari amukan teman-teman Andi yang merasa mempunyai tanggung jawab menyelesaikan pekerjaan untuk mengh*b*si pemiliki plat nomor sepeda motor tersebut. Hingga membuat motor orange kesayangan Lucky mengalami kerusakan pada beberapa body motor meskipun tidak terlalu parah. Beberapa instalasi mesin ada yang rusak dan tidak bisa dikendarai hingga mengharuskan Lucky untuk menuntunnya sampai bengkel terdekat.
Andi merasa bersalah ketika targetnya adalah sahabatnya sendiri yang telah memberikan pekerjaan yang halal untuknya. Dia berencana malam ini sebenarnya adalah terakhirnya berbuat jahat di jalanan. Namun yang membuatnya rasa bersalah dan merutuki dirinya sendiri mengapa target terakhirnya bukan orang lain.
"Maaf ya Luck, aku tidak menyangka mengapa bisa terjadi terhadapmu" Lucky hanya menganggap dengan senyuman
"Tidak apa-apa, tapi mengapa kamu berbuat sesuatu yang membahayakan pengguna jalan, bahkan kamu sendiri tidak tahu siapa target" Lucky tidak bisa membayangkan jika yang menjadi target operasinya tidak lain adalah salah satu anggota keluarganya
"Bahkan jika yang menjadi target adalah keluargaku, akupun tidak tahu dan tidak bisa menolaknya" Sesal Andi mengingat pekerjaannya yang sekarang hanya menerima perintah melalui sambungan telepon dan tidak saling mengenal siapa yang membayarnya
"Kamu tahukan nomor yang menghubungimu?" Tanya Lucky penasaran dengan sepak terjang sahabatnya
"Mereka akan mengganti nomor ketika pekerjaan kami sudah selesai, jadi agak sulit jika harus melacaknya" Lucky beberapa kali menganggukkan kepalanya tanda mengerti
"Tapi untuk malam ini, pekerjaanmu tidak mendapatkan hasil yang memuaskan untuk mereka, apakah dia akan menghubungimu lagi?" Lucky bertanya dengan serius
"Kemungkinan besar mereka akan menghubungiku untuk mengembalikan uang yang sudah mereka transfer, sebagai ganti rugi karena pekerjaan yang tidak bisa selesai"
"Apakah semua anggota akan menerima keputusanmu untuk membantuku?"
"Mana mungkin mereka akan memaafkanku, perbuatanku ini sebenarnya melanggar aturan mereka, dalam benak mereka tidak ada ampun bagi siapapun yang menjadi targetnya sekalipun orang tuanya sendiri" Andi menjelaskan tidak terlalu detail aturan mana yang dimaksud
__ADS_1
"Sudahlah tidak usah kamu pikirkan, semua akan berjalan seperti awal sebelum kita bertemu, lebih baik mulai sekarang kamu lebih berhati-hati, jangan sampai berkendara sendirian apalagi pakai motor, alangkah baiknya untuk beberapa saat yang akan datang jangan mengendarai motor terlebih dahulu, karena saat ini kamu dalam bahaya"Lanjutnya
Mereka sudah sampai di bengkel terdekat, Andi segera bergegas pergi untuk menemui teman-tenannya dan menjelaskan duduk permasalahannya yang terjadi malam ini.
****
Di rumah Lucky, Rahma tampak tidak tenang, beberapa kali keluar masuk rumahh diselingi menatap jam yang ada di dinding rumah. Tidak biasanya Lucky pergi dari rumah tanpa kabar hingga larut. Pemandangan itu tidak luput dari mata Pandu yang saat ini masih bermalam di rumah Lucky untuk beberapa hari ke depan.
"Tante terlihat sangat cemas, apakah sedang menunggu Lucky?" Pandu menghampiri Rahma yang kini duduk di teras rumah sambil memandangi jalanan yang berada di depan rumah
"Eh, Pandu. Sudah malam mengapa kamu belum istirahat? Kamarnya kurang nyaman ya?" Rahma mengalihkan pertanyaan Pandu
"Nyaman kok Tan. Apakah Lucky sering pulang terlambat dan tidak memberi kabar terlebih dahulu?" Pandu mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab
"Iya Tan, Pandu ingin keluar sebentar" Pandu sekaligus berpamitan
"Apakah penting? Kalau boleh tante kasih saran, alangkah baiknya besok saja, karena sudah sangat larut, Tante tidak ingin terjadi sesuatu" Rahma sebenarnya tidak enak jika tidak memberinya ijin, namun dalam hati kecilnya merasa sangat khawatir
"Ya sudah tante, Pandu ikut tante saja. Apakah Pandu boleh menemani tante di sini?" Pandu berhati-hati ketika bertanya, dia tidak ingin menyinggung perasaan Rahma dan juga tidak ingin dianggap tidak tahu sopan santun
"Boleh, Tante malah senang kalau ada teman bicara" Rahma merasa senang ada teman bicara dan mengalihkan pikirannya
__ADS_1
*****
Nia menerima telepon dari Lucky ketika malam telah larut. Nia sempat kaget ada panggilan masuk dari Lucky. Meskipun sudah sering mereka bertelepon waktu malam, tapi kali ini Lucky terlihat sangat kacau meskipun dia tidak menceritakan keseluruhan apa yang dialaminya.
"Kakak ada di mana, sepertinya masih belum sampai di rumah ya?" Nia langsung memberi pertanyaan Lucky ketika melihat background
"Iya, ini masih di bengkel, kebetulan tadi sempat ada instalasi mesin motor yang sedikit mengalami kerusakan, jadi harus dibetukkan dulu" Lucky tidak ingin membuat Nia khawatir
"Memangnya harus ditunggu? Lebih baik kakak pulang saja, sudah terlalu larut, lagi pula tidak baik untuk kesehatan kakak" Nia khawatir angin malam membuat tubuh Lucky menjadi terganggu
"Ini juga mau pulang, masih nunggu GOCEKAN, tapi belum datang"
"Atau biar kak Nalen jemput saja, kasihan kalau terlalu larut, Bunda pasti sangat khawatir" Lucky dibuat tercengang karena baru ingat jika dirinya. belum memberi kabar ke rumah
"Oh iya, kakak lupa belum telpon Bunda, pasti Bunda khawatir, Kakak tutup dulu ya, mau memberi kabar ke Bunda dulu" Lucky bergegas mengakhiri panggilan telepon dengan Nia
Ryasmi mendengar percakapan dari kamar sang putri, berusaha mengetuk pintu yang sebenarnya tidak terkunci, namun Ryasmi juga menghormati pemilik kamar, meskipun dia anak kandungnya
"Nia, belum tidur ya?" Ryasmi mengetuk pintu sambil berbicara agar tidak timbul pertanyaan siapa yang mengetuk pintu
"Belum Ma, Nia belum tidur, barusan Kak Lucky telpon" Nia tidak pernah menutupi kegiatannya pada sang mama
__ADS_1
"Cepat tidur, sudah larut malam" Ryasmi beranjak meninggalkan kamar anaknya dengan langkah yang cukup lebar sebelum dihentikan oleh sang putri untuk menemaninya tidur.