CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
105


__ADS_3

Manda yang berada di dalam ruangan bekas tempat membekap Nia bersama Elsa yang sedang menghardik segerombolan penculik melalui panggilan telepon, menyadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dan berusaha mengingatkan mamanya yang masih saja bicara kasar dengan penculik.


Manda yang sudah tidak tahan dengan kelakuan mamanya yang tidak meresponnya akhirnya menyapa sesorang yang kini memandangnya dengan tatapan mengintimidasi. Untuk mencairkan suasana Manda menyapa dengan suara yang dibuat selembut mungkin


"Hai Luck, apa kabar? Apa kamu mencariku?" Manda berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya dan berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi


"Hai, Lo sendiri mengapa ada di tempat yang kotor seperti ini?" Lucky ikut-ikutan berpura-pura


"Tidak, sebenarnya gue dengan nyokap sedang melihat-lihat tempat ini, karena kami dapat informasi jika tanah ini mau dijual" Manda masih saja berkilah, tetapi Lucky tidak kalah cerdik dari pada Manda


"Berapa harga yang ditawarkan pemilik kepadamu? Karena gue juga sempat membaca dan sepertinya gue juga berminat, lumayan untuk melebarkan usaha"Lucky berbasa-basi


"Yang lebih tahu secara mendetail Mama, gue cuma diajak lihat-lihat saja" Manda sudah


kehabisan kata-kata untuk berbohong


"Bukannya kalian ke sini mencari seseorang?" Lucky yang sudah muak dengan kebohongan yang diperbuat oleh Manda dan Mamanya bicara dengan terus terang


"Ma... maksudmu apa? Kami ke sini tidak. mencari siapa-siapa. Lagi pula memangnya ada orang yang tinggal di tempat jorok seperti ini?" Manda sudah mulai tergagap dengan ucapannya


"Ada, kemarin gue lihat ada banyak orang yang ada di dalam sini" Lucky mulai memancing reaksi Manda dari ucapan yang keluar dari mulutnya


Manda mulai terpancing dengan ucapan Lucky, tapi hal itu tidak berlangsung lama karena Elsa segera mendekati mereka setelah beberap kali mencuri dengar pembicaraan antara Lucky dan Manda dan mulai melibatkan dalam pembicaraan untuk menolong putri kesayangannya


"Ada apa ini, kok ramai-ramai?" Elsa berusaha bersikap tenang seolah tidak tahu topik pembicaraan Lucky dan Manda

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa kok Ma, kami sedang bicara mengenai sekolah" Manda tidak ingin mamanya ikut terlibat dalam pembicaraan mereka


"Oh.... Jadi mereka teman sekolahmu? Mengapa bertemu di sini? Ajak saja ke rumah, bukan ke tempat yang belum menjadi milik kita" Elsa yang tadi sempat mendengar pembicaraan berusaha untuk membantu anaknya


"O, berarti tempat kumuh ini sebentar lagi milik anda?" Lucky bertanya dengan nada sedikit mengejek


"Iya, memangnya salah jika kami membeli tempat ini, jika harganya masih bisa kami jangkau?"Elsa tidak terima ketika mendengar ejekan seorang anak yang masih ingusan


"Bukannya kamu anak ingusan pemilik restoran yang dulu pernah menyajikan daging mentah?" Elsa mengingat wajah anak yang kini berada di depannya adalah orang yang sama dengan yang pernah punya perhitungan dengannya dan tidak lain adalah anak Pras


"Ingatan anda benar-benar masih bagus ya?! Dan yang tidak pernah ada dalam benak saya anda adalah orang tuanya. Dasar sama-sama licik"Sambil menatap ke arah Manda, Lucky berucap


"Maksudmu apa?" Elsa kini terbakar emosi


"Dengan membuat kebohongan di restoran saya, dan meminta ganti rugi yang tidak pernah kami lakukan, apa itu tidak licik?" Amarah Lucky semakin menjadi


Pandu mencoba melerai perdebatan antara dua orang beda generasi itu


"Sudahlah Luck, lebih baik kita segera telepon polisi, buat apa kita buang-buang tenaga hanya untuk orang yang tidak mempunyai etika seperti mereka" Perkataan Pandu malah menyulut emosi Elsa, dia tidak terima ada anak kecil yang mengajarkan masalah etika kepadanya


"Bukannya kalian yang tidak beretika, bicara tidak sopan dengan orang yang lebih tua, orang tua kalian tidak pernah mengajarkan sopan santun?"


Lucky semakin mengejek dan mencibir


"Buat apa bicara sopan dengan orang seperti anda, bahkan harusnya mata ini tidak pernah melihat wajah anda"

__ADS_1


"Dasar, Anak-anak jaman sekarang" Sambil berucap Elsa menarik tangan Manda dan segera beranjak dari ruangan yang kotor dan pengap menuju mobil yang mereka parkir di depan gedung


"Silakan pergi dari sini segera. Tapi tunggu beberapa jam lagi, kalian akan menyesalinya" Lucky mengeluarkan ancaman yang bukan isapan jempol semata. Karena dia sudah menelppn polisi untuk memberikan laporan mengenai penculikan disertai bukti-bukti yang dikirim oleh Nara ke kantor polisi


****


Elsa dan Manda berlari menuju ke kamar Nana yang sampai saat ini penghuninya belum juga keluar kamar. Menggebrak bebarapa kali pintu yang masih terkunci rapat. Orang yang di dalam sebenarnya malas untuk membuka pintu dan berhadapan dengan orang-orang yang tidak pernah menghargainya. Namun, karena ada rasa tidak enak dengan tetangga, pintu terpaksa dibuka.


"Ada apa?" Nana berkata acuh sambil berjalan kembali ke tempat tidurnya melanjutkan membaca novel yang baru setengah yang berhasil dia baca


"Semua gara-gara kamu, anak tidak berguna. Pasti kamu yang membocorkan semuanya!" Elsa men*mp*r pipi Nana dengan cukup keras, hingga membuat warna merah yang tertinggal di sana


"Mama bicara apa? tidak ada angin tidak ada hujan, mengapa Mama men*mp*r Nana, Memangnya Nana berbuat apa?" Nana yang tidak tahu apa-apa merasa sangat kesakitan dan tidak terima dengan perlakuan mama tirinya


"Kamu jangan berlagak lugu dan tidak tahu masalahnya" Elsa semakin keras bicaranya


"Nana tidak tahu sama sekali dengan apa yang mama bicarakan" Nana yang dimaki-maki tidak terima dan meminta mereka berdua untuk keluar dari kamarnya


"Lebih baik Mama dan Manda segera keluar dari kamar Nana, sebelum Nana teriak minta tolong dan semua tetangga tahu yang sebenarnya bagaiman perlakuan mama terhadap Nana selama ini" Merasa mendapat ancaman dari anak tirinya, Elsa memilih keluar, dia tidak ingin kedoknya yang selalu memperlakukan Nana yang kurang baik diketahui oleh semua tetangganya.


Nana segera beranjak dari tempat tidurnya dan membanting pintu kamar serta memutar kuncinya.


Elsa berlalu dari kamar Nana menuruni tangga menuju kamar yang berada di lantai bawah dan masih saja mengomel tidak jelas. Sebelum masuk ke kamarnya, dia menghampiri lemari es yang dia lalui, mengambil sebotol air dingin lalu meneguknya hingga tandas, untuk mendinginkan kepalanya yang hampir meledak.


"Dasar semua tidak berguna, buat apa dibayar mahal, namun masih saja tidak melaksanakan tugas dengan baik" Elsa mengambil handphone dari dalam tak dan menghubungi seseorang, namun beberapa kali hanya terhubung dengan suara operator provider yang menjawab

__ADS_1


"Mengapa mama tidak melunasi pembayaran itu, kalau semua sudah lunas, pasti orang itu tidak akan berani berbuat seenak hatinya dan kejadian ini tidak akan pernah terjadi" Manda yang pernah mengusulkan kepada mamanya untuk segera melunasi, namun Elsa tidak mau mendengarnya merasa sangat kecewa dengan semua kejadian ini.


__ADS_2