
Tidak berselang lama dari Elsa, Manda juga ikut keluar rumah. Dia merasa di rumah seperti tidak ada yang mau mendengarnya lagi, bagaimanapun dia teriak saat ini Nana sudah tidak peduli lagi dan memilih untuk mengunci diri di kamar, menghabiskan waktu untuk mendengarkan musik dan juga bermain game online untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Setelah cukup jauh Manda meninggalkan rumah, lelaki itu bergegas masuk ke halaman rumah besar nan terawat. Mengetuk pintu berulang kali dan akhirnya ada penghuni rumah yang membukakan pintu untuknya.
"Maaf mas, Manda tidak ada di rumah" Belum sepenuhnya pintu terbuka Nana sudah berbicara ketus ketika melihat wajah tamu yang mengetuk pintunya
"Tapi, gue tidak mencari Manda" Jawab Andi santai tanpa beban
"Kalau tidak mencari Manda, terus Anda mencari siapa, mencari bapak saya?" Nana masih mempertahankan suara tingginya
"Kalau memang Bapaknya ada boleh juga, biar sekalian gue lamar anak gadisnya" Andi semakin gemas dan ingin menggoda Nana yang berada dibalik pintu yang terbuka sedikit
"Maksudnya? Mas mau melamar Manda? Tapi sayangnya anda belum beruntung karena bapak juga tidak ada di rumah" Nana malah terpengaruh ikut melontarkan kata yang terkesan akrab
"Bukannya bapaknya sudah meninggal mbak?"
"Sudah tahu, pakai tanya segala?"
"Yuk kita ke makam bersama"
"Untuk apa?"
"Melamarlah. Sekarang begini saja, ini gue boleh masuk atau tidak, kalau tidak boleh ayo kita keluar mencari udara segar, biar otak Lo yang tinggal separo itu tidak habis" Andi berusaha bernegosiasi demi mengenal lebih jauh kehidupan dan kepribadian Nana
Nana sudah tidak tahan mendengar ocehan lelaki yang sebenarnya tidak dia kenal, namun sudah merasa sok akrab dengannya. Dibukanya pintu lebar-lebar dan mempersilakan Andi untuk masuk. Di siapkan minuman juga beberapa toples camilan sebagai teman bicara, supaya tidak ada rasa canggung.
Nana mulai menikmati toples yang berisi camilan favoritnya dan mempersilakan Andi untuk minum.
__ADS_1
"Terima kasih" Tanpa rasa canggung Andi meneguk habis minumannya dan meminta Nana untuk mengisi lagi tanpa rasa malu
"Baru kali ini gue ada tamu yang tidak ada malunya sama sekali kayak dirimu" Nana sudah dibuat jengkel oleh Andi karena meminta ini dan itu yang tidak jelas
"Yang penting tidak malu-maluin" Sahut Andi sekenanya
"Sebenarnya Lo itu siapa dan apa mau Lo datang ke rumah gue, sedangkan kita tidak kenal sebelumnya? Nana sudah tidak tahan dan tidak nyaman duduk berlama-lama dengan lelaki yang tidak dia kenal
"Kenalin, gue Andi. Sebenarnya kita sudah kenal lama, Lo saja yang tidak ingat dengan gue. Tapi, lebih baik jika Lo tidak ingat gue. Dari pada setelah ingat bakalan jutek dan tidak mau bertemu lagi, lebih baik seperti ini saja" Andi belum ingin mengungkap jati dirinya yang sebenarnya
******
Sesampainya Nara dari rumah sakit, dia langsung mengambil laptopnya dan mencari sesuatu yang sebenarnya sudah gatal ingin dia lakukan di rumah sakit, namun dihalangi oleh Nalen. Dengan memanfaatkan pengetahuannya di bidang teknologi dia mulai berselancar memasukkan kode-kode yang tidak dimengerti oleh orang awam. Sepuluh menit hingga tiga puluh menit baru berhasil memecahkannya dan mendapatkan informasi yang cukup mencengangkan.
"Jadi, begini sebenarnya.... Dasar manusia licik" Nara bergumam dengan rasa kesal yang tidak tertahankan
"Sudah berulang kali berbuat jahat, bahkan mereka tidak menuntutnya, tapi mengapa dia lagi yang berulah lagi" Nara berbicara sendiri
"Hallo, Assalamu'alaikum, Ada apa Nar?" Suara di seberang mengalun dengan penuh cinta
"Kamu tahu tidak sebenarnya dalang dari semua yang menimpa Nia?" Nara ingin sekali berterus terang, namun takut jika Nalen akan menyalahkannya
"Untuk sementara belum, tapi dalam waktu dekat pasti sudah didapatkan, Kalau hanya berdasarkan CCTV, bukti itu masih kurang kuat, kita harus menemukan saksi kunci terlebih dahulu untuk membawanya ke ranah hukum" Nalen sudah tahu kemampuan kekasihnya dalam mencari informasi melalui teknologi, namun Nalen juga harus menyiapkan satu bukti kuat untuk bertindak lebih jauh lagi
"Tapi, setidaknya kamu harus tahu terlebih dahulu siapa dia" Nara menjadi kesal sendiri karena Nalen tidak ingin mengetahui siapa dalangnya
"Memangnya siapa?" Nalen yang tidak ingin membuat kekasihnya kecewa memilih untuk menanyakannya
__ADS_1
"Orang sama yang mencari ulah dengan Nia dari kegiatan outing class dulu" Nara juga tidak menyebutkan namanya
"Maksudmu Manda?" Nalen sedikit tercengang, belum juga kasus penculikan Nia yang dilakukan oleh Manda dan Ibunya selesai, kini berulah lagi
"Siapa lagi kalau bukan dia?" Nara semakin bersemangat
"Baiklah, biar nanti aku bicarakan dengan Lucky
Selesai melakukan panggilan dengan Nara, Nalen berkumpul dengan Lucky juga sahabat-sahabatnya yang masih setia menemani Nia. Nalrn duduk dan bingung ingin mulai dari mana, takutnya mereka tidak akan percaya dengan yang baru saja dia bicarakan dengan Nara. Dalam beberapa menit Nalen masih juga belum buka suara.
Lucky yang melihat Nalen terlihat sedang berfikir, mencoba memulai pembicaraan.
"Apakah ada informasi penting?" Nalen tergagap mendengar pertanyaan Lucky
"Sebenarnya, Nara sudah mengecek CCTVnya dan juga sudah mendapatkan dalang dari semua yang menimpa Nia siang ini, sebenarnya Andi hanyalah sebagai tangan, bukan otak dari kejahatan yang terjadi siang ini" Nalen belum selesai bicara sudah dipotong oleh Danny
"Kalau bukan dia, lalu siapa yang tega melakukannya?"
"Kalian bakal kaget jika mendengar namanya, dia adalah Manda" Nalen menyebutkan nama Manda dengan lirih, dia tidak ingin Nia mendengarnya terlebih dahulu
"Lagi-lagi dia, apa sih sebenarnya maunya, kalau tahu akan diulangi lagi mungkin sudah sejak dulu gue bawa ke ranah hukum saat penculikan itu" Vicky ikut mengomel
"Tidak semudah itu, kita membawa sebuah kasus ke ranah hukum, sebelum kita menemukan bukti yang kuat serta di dukung dengan adanya saksi yang memberatkan, baru kita bisa melangkah percaya diri ke ranah hukum" Nalen juga tidak ingin gegabah melaporkan ke polisi, bukannya tidak percaya dengan kinerja pihak berwajib, namun Nalen berencana mengumpulkan bukti dan saksi terlebih dahulu, agar benar-benar bisa memenangkan pertarungan hukum
"Jika bukti sudah di dapat, maka yang paling penting berikutnya adalah saksi, gue akan mencoba membujuk Andi untuk menjadi saksi dan akan berusaha membantunya agar tidak terlibat dalam hukum" Lucky semakin bersemangat untuk menemui Andi, karena saat ini dia sudah mempunyai bukti kuat
"Selain Andi kita juga mempunyai satu orang saksi yang mungkin akan menambah bukti memberatkan Manda" Vicky juga lebih percaya diri
__ADS_1
"Siapa?" Mereka serempak bertanya
"Siapa lagi...., Orang yang memiliki foto ini bisa kita jadikan saksi kita dan tinggal membayarnya, dia juga masih mempunyai beberapa foto lain selain ini" Lanjut Vicky