
Hujan gerimis mengiringi perjalanan Nia dan Lucky semenjak keluar dari gerbang rumah orang tua Nia. Banyaknya kendaraan yang melintas membuat para pengguna jalan berjalan dengan hati-hati, tidak terkecuali Lucky menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah.
Karena di apartemen mereka belum ada bahan makanan ataupun makanan yang siap saji, Lucky memutar mobilnya untuk mampir terlebih dahulu ke mini market yang mereka lalui untuk membelinya sekaligus menghindari jalanan yang masih padat karena hujan yang tidak kunjung berhenti.
"Kak, bukannya kita mau pulang, mengapa putar lagi?"
"Kita mampir di minimarket dulu, Sayang.... sambil menunggu hujan agak reda"
"Oh, iya kita beli perlengkapan harian kita juga ya"
Lucky mendorong troli sembari melihat-lihat rak yang berjajar berisi beraneka bahan makanan mentah maupun bahan instan. Melihat kondisi mereka, tidak mungkin jika membeli bahan makanan mentah. Untuk beberapa hari ke depan lebih mempersiapkan bahan makanan instan agar lebih praktis sebagai persediaan di rumah, untuk makan bisa mengambil atau datang langsung ke restoran mereka.
Hingga detik ini yang dimasukkan ke dalam troli oleh Nia hanya bungkusan makanan ringan yang beraneka ragam, melihat trolinya yang penuh dengan jajanan itu Lucky hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum memperhatikan tingkah istrinya.
"Sayang, ini kita mau jualan atau bagaimana, mengapa sudah penuh dengan jajanan?"
"He.. he... Untuk persiapan jika nanti tidak bisa keluar rumah" Tanpa merasa berdosa sedikitpun Nia menjawab pertanyaan suaminya
"Bukannya di lantai bawah apartemen kita ada minimarket, Kakak kira di sana juga jualan makanan seperti ini"
__ADS_1
"Nia malas kalau harus naik turun hanya untuk membelinya"
"Terserah kamu saja, kakak ikut asalkan ini makanan nanti jangan sampai dibuang dan mubadzir"
"Tidak akan ada yang mubadzir Kak"
"Makanan sudah, perlengkapan mandi dan bersih-bersih sudah, lalu.... yang perlu dibeli lagi apa ya....?" Nia bertanya pada dirinya sendiri sambil melihat barang belanjaannya mungkin saja masih banyak yang belum kebeli.
"Kakak mau beli apa?"Nia baru menyadari jika hanya dirinya yang membeli banyak barang dan Lucky selalu setia mendorong belanjaannya
"Ada sesuatu yang harus kakak beli, ayo ikut kakak" Kini Nia yang mengikuti langkah Lucky menuju ke kasir dan meminta seorang pramuniaga mengambilkan beberapa obat yang ada di dalam etalase dengan menunjuknya.
"Mbak, tolong ambilkan obat obat merah, kasa, parasetamol, plester luka dan juga ini (Lucky menunjuk sesuatu yang entah apa, karena berada dalam kemasan kotak kecil) masing-masing dia buah" Lucky menyebutkan beberapa obat untuk persediaan di apartemen mereka
"Baik mas" Dengan cekatan sang pramuniaga mengambilkan barang-barang yang dipesan oleh Lucky.
Tidak menunggu lama semuanya sudah tersedia dan kini mereka menuju ke kasir untuk menyelesaikan pembayarannya. Selesai dengan urusan kasir mereka pergi ke sebuah outlet makanan, rasa lapar yang tiba-tiba mendera membuat Nia ingin sekali makan sesuatu.
"Kak, beli makan dulu ya"
__ADS_1
"Ke restoran sebelah saja ya Sayang, di sana ramai pengunjung pasti rasanya enak"
Tangan Lucky tidak lepas menggandeng Nia yang berjalan di sampingnya. Mereka menjadi perhatian banyak orang karena perlakuan Lucky yang berlebihan kepada Nia, kebanyakan dari mereka mencemoob tindakan Lucky yang dinilai tidak sesuai dengan norma pergaulan seorang yang masih pacaran.
"Mas, takut pacarnya pergi ya, erat banget pegangnya?" Celetuk seseorang yang berpapasan dengan mereka
"Manis banget sih... perlakuannya, jadi pingin punya pacar seperti masnya" Salah seorang cewek yang melihat kemesraan mereka juga terlihat gemas
Begitulah ocehan orang yang kebetulan berada di dekat mereka.
"Hai Luck, wah kebetulan banget bertemu kamu di sini, memang beda ya kalau sudah menikah, bawaannya tidak mau jauh-jauh" Danny juga berada di restoran yang sama dengan Lucky
"Bisa saja, dengan siapa Lo?"
"Dengan orang tua, tapi mereka sudah ada di dalam. Kayanya sih mau dikenalin dengan rekan bisnis mereka"
"Rekan bisnis atau mau dijodohkan?" Lucky meledek sahabatnya
"Benar rekan bisnis kok"
__ADS_1
"Ya sudah, yuk kita masuk bersama, jangan lupa tetap digenggam biar tidak ada yang menikungnya" Lanjut Danny
Orang-orang yang tadi sempat mencibur perlakuan Lucky yang dinilai berlebihan setelah mendengar percakapan mereka menjadi malu, bagaimanapun meskipun mereka masih terlihat sangat muda tetapi kenyataannya mereka sudah menikah.