
Seperti hari-hari yang lalu, Nia masih diantar pulang oleh Lucky meskipun kadang Nia harus nunggu karena Lucky sedang rapat OSIS ataupun ketika sedang mengawasi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, namun Nia sangat menikmatinya, seperti orang pada umumnya yang sedang jatuh cinta selalu ingin bersama kemanapun dan dimanapun.
Hari ini Lucky bermaksud menemukan Nalen ketika pulang sekolah nanti untuk membicarakan kejadian yang pernah menimpa Nia beberapa waktu yang lalu, jadi Lucky memilih pulang ketika sudah sore sambil menunggu Nalen pulang kuliah sambil menyelesaikan tugasnya sebagai ketua OSIS.
"Nia, maaf untuk hari ini kita pulang agama sorean ya, karena Kakak ada perlu dengan kakakmu" Sambil membuat laporan kegiatan Lucky bicara dengan Nia yang kini tengah duduk di sofa depan meja Lucky
"Terserah kakak saja" Nia tidak keberatan jika harus menunggu kekasih hatinya untuk menyelesaikan kewajibannya, lagi pula dia bisa tiduran dengan cukup nyaman di sofa panjang di bawah semilir pendingin ruangan
Memperhatikan wanita yang dicintai tidur dengan lelap, Lucky hanya bisa tersenyum dan kemudian mendekat, menyelimutinya dengan menggunakan jaket miliknya yang selalu di bawa kemana saja. Sedikit mengelus kepalanya dan langsung beranjak ke kursinya sendiri karena takut kebablasan.
Satu jam telah berlalu, Nia sudah menggeliatkan badannya serta menyesuaikan mata dengan cahaya lampu ruangan yang mulai dinyalakan. Masih duduk di seberang meja dan menyelesaikan pekerjaannya, dialah Lucky yang kini sudah dibantu oleh Danny dan juga Vicky.
"Nyenyak banget tidurnya, kalau ditungguin orang tersayang mah beda, lebih aman" Sindir Danny
"Bukan begitu Kak, Nia sebenarnya capek dan ngantuk banget makanya tidur Nia nyenyak" Meskipun sebenarnya apa yang dikatakan Danny ada benarnya, namun bagi Nia sangat malu jika harus berkata jujur
"Tidak usah ngeles lagi, nyaman ditungguin juga gue tidak akan protes" Danny masih saja menggoda
Nia semakin memerah wajahnya dan memilih untuk menutup dengan jaket milik Lucky yang dia gunakan untuk selimut.
"Gue duluan ya, sebelum pulang tolong nanti kunci pintunya" Lucky hendak pulang dan berpamitan kepada Danny yang tengah sibuk membereskan buku-buku yang masih berserakan di atas meja, berlalu keluar ruang OSIS sambil menggenggam jemari Nia.
"Baiklah, nanti gue kunci pintunya, lo tenang saja ada gue semuanya pasti beres" Danny memandang sekilas sahabatnya yang telah keluar meninggalkannya bersama dengan buku-buku yang berserakan di atas meja
Masih setia dengan motor sport orangenya, Lucky menyusuri jalanan menuju rumah Nia dengan kecepatan sedang, tak lupa dia juga menyempatkan untuk mampir sejenak ke restoran miliknya untuk sekedar mengecek keadaan dan meminta dibuatkan makanan untuk makan siang dirinya dan juga Nia.
__ADS_1
"Kakak nanti akan bicara dengan Nalen mengenai peristiwa yang menimpamu beberapa waktu yang lalu, dia sudah mempunyai bukti yang sangat kuat mengenai pelakunya" Lucky jujur kepada Nia tentang peristiwa yang dialaminya ada seseorang yang dengan sengaja melakukannya
"Memangnya siapa? Apakah Nia kenal dengan orang tersebut?" Nia penasaran siapa yang tega melakukan dengan sengaja terhadapnya karena selama ini dia tidak pernah merasa menyakiti seseorang
"Bisa jadi kamu mengenalnya, namun bisa juga kamu tidak mengenalnya" Lucky belum mau berkata siapa sebenarnya yang melakukan sebelum dia bertemu dan berbicara dengan Nalen juga Nara
"Mengapa bisa begitu?" Alasan yang digunakan Lucky untuk tidak mengatakan siapa orangnya sangat tidak masuk akal
"Setelah kita bicara dengan Nalen dan juga Nara, kita akan mengetahui secara pasti siapa orangnya, lebih baik cepat kita selesaikan makannya, Nalen sudah menunggu di rumah" Dengan cepat mereka menyelesaikan kepentingan mereka di restoran dan segera pulang karena Nalen dan juga Nara sudah menunggu
****
"Kita harus segera menentukan siapa dulu yang akan kita tanya, untuk memastikan siapa pelakunya" Nalen berbicara dengan Nara yang sejak tadi menatap laptop yang ada di depannya
"Nanti akan kita pelajari terlebih dahulu dengan Lucky, mengenai seberapa besar keterlibatan mereka dalam peristiwa itu" Nara tidak mau mengambil keputusan sendiri sebelum membicarakan dengan Lucky, meskipun sebenarnya dari sudut pandang dia sudah dipastikan siapa orangnya yang berpotensi melakukannya
"Aku mandi dulu, sembari menunggu mereka datang"
"Ok, biar nanti aku yang bicara dengan mereka terlebih dahulu setelah mereka sampai"Nara masih berkutat dengan laptopnya ketika Lucky dan Nia memasuki pintu utama keluarga Dewa
" Kalian coba ke sini dan lihat sebentar rekaman ini" Nara menginstruksikan Lucky dan Nia untuk mendekat kepadanya dan memberikan pendapat mengenai video yang dia putar di layar laptopnya
"Lihat apa sih Kak, sepertinya serius amat" Nia yang belum faham apa yang dimaksud oleh Nara mulai mendekat dan memperhatikan layar laptop milik Nara
"Ini kakak dapat dari mana, janganlah kalian mengeluarkan banyak uang untuk menyewa hacker profesional untuk menyelesaikan hal sepele yang menimpa Nia, lagian Nia juga sudah tidak ingin memperpanjang masalah" Lanjut Nia, dia tidak ingin membuang waktu, biaya dan tenaga hanya untuk sesuatu yang kurang penting.
__ADS_1
"Bukan menyewa hacker profesional, tapi memiliki seorang profesional tanpa keluar biaya" Nalen tiba-tiba ikut nimbrung pembicaraan sambil menuruni tangga berjalan mendekati mereka
"Maksud kakak apa? Sejak kapan kita punya hacker, atau orangnya Kak Lucky ya.... untuk mensabotase restoran lain agar tidak sebagus milik Kakak" Nia menatap tajam ke arah Lucky, karena dia tidak rela jika sangat tunangan melakukan hal yang tidak baik demi sebuah bisnis
"Mana ada, kakak tidak pernah pakai kayak gituan, restoran ramai bukan karena kakak mensabotase bisnis orang lain" Tidak mau kalah dengan Nia yang sudah hampir mengeluarkan singa, Lucky bicara agak keras
"Kenapa Kak Lucky ngegas gitu, berarti benarkan..." Nia malah menjadi salah paham
"Oke, Kakak jelasin, jadi yang kita maksud adalah Nara, dia hacker pribadi kita yang telah membantu kakak menyelidiki orang yang telah berbuat jahat kepada adik kesayangan kakak yang cantik ini" Nalen berusaha meredam kemarahan Nia, dia tidak ingin adiknya bertengkar dengan sahabat sekaligus calon adik ipar hanya karena hal sepele
"Wah, keren banget sih Kak, kapan-kapan Nia minta ajarin ya...." Nia sangat kagum dengan kemampuan Nara yang diluar nalarnya, seorang gadis muda memiliki kemampuan yang sangat hebat
"Jangan mimpi deh, Otakmu tidak mungkin mampu Dik, yang ada nanti malah stress dan membuat keluarga kita ikut-ikutan stres mikirin keadaanmu" Nalen memukul kepala Nia dengan menggunakan buku yang ada di atas meja
"Apa sih Sya sebenarnya yang lo suka dari adik gue, memangnya lo tidak muak melihat tingkah lakunya yang manjanya minta ampun"Nalen kini mencibir Lucky dengan pilihan hatinya yang dinilainya sangat rendah spesifikasinya
"Kakak, apa kami bilang"Nia mengejar Nalen yang sudah mengatai dirinya tidak memiliki spesifikasi apapun
Dan terjadilah kejar-kejaran diantara keduanya, bahkan saat ini tidak hanya Nia saja yang kekanak-kanakan, Nalenpun terlihat sama. Hal itu juga dinikmati oleh Nara yang hanya bisa melihat berapa bahagianya mereka tidak seperti dirinya
"Huft..... " Nara menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan sedikit kasar, hal itu membuat Lucky mengalihkan pandangannya ke arah Nara
"Ada apa?"Lucky kaget dengan apa yang dilakukan Nara
******
__ADS_1
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1443 H MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR BATIN MOHON MAAF APABILA BANYAK SALAH