
Lucky kembali ke rumah setelah menyelesaikan laporannya, masuk ke rumah setelah mengucapkan salam. Dia menuju ke kamarnya untuk sekedar memastikan jika Nia belum sampai di rumah. Karena di kamar tidak menemukan siapapun, Lucky turun lagi menuju ruang makan. Perutnya yang sudah keroncongan minta diisi memaksanua untuk melupakan sejenak perihal Nia yang belum pulang juga sampai saat ini.
Dari balik pintu utama terdengar ketukan. Asisten Lucky membukanya dan mempersilakan masuk setelah mengetahui tamu yang datang adalah sahabat-sahabat majikannya yang sering menginap di sini.
Vicky berteriak memanggil Lucky dari ruang tamu. Mendengar sahutan sahabatnya berasal dari ruang makan, Vicky dan Danny menuju ke sana, karena mereka juga belum makan semenjak keluar dari rumah dan berputar-putar mencari keberadaan Nia.
Masing-masing menarik kursi dan mengambil nasi beserta lauk-pauknya tanpa menunggu dipersilakan oleh pemiliknya.
"Sopan santun kalian dimana? Enak benar datang-datang langsung ambil nasi" Lucky yang lahap memakan nasinya yang tinggal satu suap harus berhenti sejenak untuk menyapa sahabatnya
"Yang kelaparan tidak hanya kamu saja, kami juga lapar sejak tadi putar-putar mencari istrimu, eh.... ini yang punya istri malah makan dengan lahap di rumah, memangnya sudah ketemu?" Danny berbicara tanpa henti
"Belum, ini juga nunggu dia, siapa tahu nanti muncul tiba-tiba" Lucky masih berbicara santai di depan sahabatnya yang bertolak belakang dengan kondisi hatinya saat ini yang sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya. Dia takut Nia bertemu dengan Manda dan diperlakukan tidak baik dengan Manda
"Khawatir juga butuh tenaga" Vicky mengejek Lucky dengan entengnya
"Apaan sih kalian, kalau butuh makan cepat makan, setelah itu kalian ikut gue" Lucky memerintah layaknya seorang pemimpin
Danny dan Vicky melahap makanannya tanpa bersuara, sebenarnya mereka paham betul perasaan sahabatnya saat ini, namun mereka juga harus menghibur dan sedikit melupakan semua perasaan khawatirnya.
****
__ADS_1
Di tempat lain, pada sebuah warung yang tidak begitu ramai pengunjung dua orang lelaki sedang berbincang sambil melahap makanan yang mereka pesan.
"Terima kasih atas bantuan Bapak, ini ada sekedar imbalan dan ucapan terima kasih saya" Farhan menyerahkan amplop warna coklat ya g berisi segepok uang lembaran berwarna merah
"Sama-sama Mas, mungkin bantuan saya tidak seberapa jika dibandingkan dengan semua bantuan yang sudah Mas Farhan lakukan kepada keluarga kami" Lelaki paruh baya yang memiliki hutang budi yang harus dia bayar dengan sebuah kebohongan besar. Sebenarnya ada rasa bersalah di dalam hatinya, namun karena tuntutan ekonomi yang sangat membutuhkan uang, dia mau menjadi seorang polisi gadungan yang menerima dua pengaduan sekaligus yang dilayangkan kepada seorang gadis bernama Manda.
"Setelah dari sini, saya harap bapak untuk pergi ke kampung sebelah dahulu dan jangan pernah kembali ke sini lagi sebelum saya memberikan ini, untuk tempat sudah saya siapkan lengkap dengan keperluan keluarga bapak. Untuk kebutuhan sehari-hari, nanti akan ada seseorang yang saya tugaskan untuk mengantarnya"Farhan tidak ingin diketahui oleh siapapun tentang polisi yang menerima aduan tentang Manda di Kantor Polisi adalah atas perintahnya
"Iya Mas, saya akan segera pergi dari sini dan mengajak seluruh anggota keluarga saya"
"Biarkan nanti sopir saya yang mengantar kalian, akan lebih aman jika kalian tidak menggunakan alat transportasi umum"
Farhan memerintahkan seorang pegawainya untuk datang ke warung dengan membawa mobil. Tidak lama orang suruhan Farhan sampai lelaki paruh baya itu bergegas masuk ke dalam mobil sebelun banyak orang yang melihatnya. Semua pembayaran di warung diselesaikan oleh Farhan. Setelah kepergian mobil suruhan Farhan, dia pulang dengan arah yang berlawanan untuk menghindari kecurigaan dilain waktu jika polisi gadungan itu terlihat masalah.
"Mengapa tiba-tiba datang lagi, bukannya kamu bilang jangan bertemu dahulu untuk beberapa hari?" Manda yang kaget atas kedatangan Farhan ke tempatnya mengumpat Farhan dengan banyak kata-kata sumpah serapah
"Jangan berharap lebih, gue hanya mengantar makanan untukmu, orang yang bertugas mengantar makanan sedang ada tugas khusus yang lebih penting" Farhan berdalih hanya ingin mengantar makanan untuk Manda
"Yakin.... hanya mengantar makanan, bukan minta yang lain?" Manda semakin berani ketika Farhan terlihat salah tingkah
"Kalau mau yang lain juga boleh" Lagi-lagi Manda melancarkan aksinya menggoda Farhan dengan mengambil makanan yang berada di tangan Farhan, sengaja dia memegang tangan Farhan
__ADS_1
"Sudah makan sana, gue mau pulang dahulu. Ingat pesan saya, jangan pernah menghubungi gue lagi sebelum ada perintah yang harus kamu lakukan" Farhan melenggang pergi tanpa menghiraukan Manda lagi, dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak dia inginkan, karena sebenarnya dalam hati Farhan, masih menyimpan rasa suku kepada gadis itu
****
Di sebuah outlet makanan ayam, Nia menikmati makanan yang disajikan oleh seorang pramusaji dilengkapi dengan lauk lain yang disiapkan oleh pemiliknya.
"Makan pelan-pelan, habis semuanya jangan sampai ada yang tersisa" Perintah Pras yang juga menikmati makanan di depannya bersama dengan menantu kesayangannya
"Iya Pa, terima kasih atas makanan yang Papa siapkan untuk Nia. Nia tidak tahu lagi bagaimana nasib Nia jika tidak bertemi dengan Papa" Wajah ceria Nia tampak jelas tergambar
"Nia benar-benar tidak membawa uang sepeserpun, bahkan handphone berada di tas yang di bawa oleh Kak Lucky. Oh iya Pa, boleh tidak Nia pinjam handphone Papa untuk menghubungi Kak Lucky? Nia takut jika nanti suami Nia khawatir dengan keadaan Nia"
"Biarkan saja dia khawatir. Enak saja kamu ditinggal sendirian tanpa diberi uang sama sekali. Lain kali biar tidak terulang lagi"
"Tapi Pa...."
"Biar nanti Papa yang memberi kabar kepadablnya, kamu tenang habiskan makanannya. Jika kurang kamu bisa minta kepada Papa"
"Terima kasih Papa..."
Mereka menghabiskan semua makanan yang tersaji di meja beserta makanan ringan. Nia hendak berpamitan untuk segera pulang, tetapi di tahan oleh Pras dengan alasan untuk membantu merapikan beberapa berkas yang ada di meja kantornya.
__ADS_1
Sebenarnya Pras hanya ingin memberikan pelajaran kepada anak lelakinya agar tidak seenaknya meninggalkan istrinya di tempat umum. Bahkan dia sengaja tidak memberi kabar kepada Lucky dan berniat mengantarkan Nia selepas magrib.
Beberapa kali Lucky menghubungi Ayahnya, namun tidak ada jawaban sama sekali. Dewa dan Ryasmi juga tidak menghiraukan panggilan dari menantunya. Mereka sudah sepakat untuk tidak memberi tahu keberadaan Nia saat ini.