CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
183


__ADS_3

Lucky mengikuti perawat yang tadi memanggilnya, memasuki ruangan yang sangat khas dengan bau obat, disana Lucky sudah ditunggu oleh dokter yang menangani Nia.


"Silakan duduk mas Lucky" Seorang dokter dengan perawakan tinggi dan masih terlihat tampan mempersilakan Lucky untuk duduk dihadapannya


"Terima kasih Dok" Lucky menjawab dengan ramah


"Sebelumnya maaf mas, karena kondisi istri anda saat ini... "


"Ada apa Dok, apakah istri saya mengalami hal yang membahayakan nyawanya? Atau saat ini dia sudah..... " Air mata Lucky sudah tidak bisa dibendung lagi dia belum siap jika harus ditinggalkan oleh sang istri untuk selamanya


"Mas, kami mohon tenang dahulu"


"Tenang bagaimana Dok...."


"Dengarkan dahulu penjelasan kami"


"Begini, saat ini kondisi pasien sangat baik dan siap untuk dipindahkan ke bangsal. Namun untuk menjaga kebersihan bagi bayi, kami harus memisahkannya terlebih dahulu untuk beberapa jam ke depan, serta untuk memudahkan kami untuk memantau keadaan bayi hingga dua puluh empat jam ke depan" Dokter menjelaskan keadaan Nia saat ini


Lucky segera mengusap air matanya yang sudah mulai berhenti mengalir setelah mendengar penjelasan dokter kandungan langg*nan Nia dan Lucky saat ini.


"Terima kasih Dok, atas semua kerja keras dokter dan juga team medis yang sudah memberikan pelayanan terbaiknya untuk istri dan anak saya" Lucky segera meninggalkan ruang dokter kandungan menuju ke depan ruang operasi menunggu Nia keluar dari ruangan tersebut untuk dipindahkan ke bangsal VVIP yang sudah dipesan oleh Lucky sebelumnya.


Dua orang perawat keluar dari ruang operasi dengan mendorong bangkar yang di atasnya ada Nia yang mulai tersenyum melihat seluruh anggota keluarganya berada di luar menunggunya. Dalam pandangan Nia ada seorang yang tidak asing baginya, tapi dalam benaknya mungkin karena efek dari operasi yang baru dia jalani hingga melihat sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan hadir di rumah sakit ini.


Nia mengabaikan apa yang dia lihat dan hanya fokus pada keluarganya.


"Bagaimana Nak, apakah sakit?" Tanya Ryasmi yang terlihat jelas wajah panik sekaligus bahagia dengan hadirnya cucu pertamanya


"Tidak apa-apa Ma.... Nia kuat kok"

__ADS_1


Senyum Ryasmi mulai mengembang mendengar jawaban dari sang putri


"Selamat Nak, saat ini kamu sudah menjadi seorang ibu" Rahma juga memberikan selamat untuk menantunya


"Terima kasih bunda, pastinya Nia kedepannya akan banyak merepotkan mama dan bunda"


"Dulu mama juga banyak merepotkan orang tua ketika baru memiliki satu anak, karena belum pengalaman merawat bayi, jadi.... sekarang sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk membantu anak-anak kita juga, benar tidak?" Ryasmi mencari pembelaan dari Rahma yang kini sedang duduk di sebelahnya


"Benar itu, Bunda juga ketika mempunyai Rasya masih merepotkan eyangnya Rasya, jangankan membedongnya, bahkan menggendongnya saja Bunda masih kaki, hingga ditertawakan oleh eyangnya Rasya dan tidak boleh menggendongnya lagi karena takut jatuh katanya. Maklum Rasya cucu kesayangan eyangnya" Rahma memberikan pembelaan untuk besannya


Setelah semua memberikan ucapan selamat kepada Nia, Manda mendekati brangkar Nia berusaha meminta maaf kepadanya. Namun, Nia masih menganggap kehadiran Manda di dekatnya hanyalah sebuah ilusi.


"Tidak... tidak... " Nia mengibaskan tangannya beberapa kali di depan matanya berharap ilusinya menghilang saat ini juga, namun kenyataannya tidak mau menjauh sama sekali dan saat ini malah semakin dekat dengannya


"Nia, sebelumnya saya minta maaf atas semua kejahatan yang pernah aku lakukan selama ini ke kamu, itu semua saya lakukan hanya demi mendapatkan Rasya, tetapi pada kenyataannya hatinya sudah terpatri kuat namamu di sana, berbagai car sudah aku lakukan namun aku tetap gagal. Saat ini keberadaanku di sini bukanlah ilusimu semata, semuanya berkat bantuan Nana dan yang lainnya hingga aku bisa terbebas dari semua tuduhan yang dilayangka kepadaku, dan juga atas kebaikan kalian semua yang mau memaafkan aku. Insya Allah aku akan selalu mengingat kebaikan kalian serta tidak akan kembali berbuat jahat lagi" Manda bicara panjang lebar menjelaskan keadaannya saat ini


"Terima kasih Nia" Manda memberikan pelukan untuk Nia


"Selamat siang semuanya..... " Pandu yang baru datang dari luar kota ketika mendengar Nia sudah melahirkan bergegas meluncur ke rumah sakit


"Selamat siang Kak Pandu.... " Nia menyambut kedatangan Pandu dengan hangat, namun lain halnya dengan Lucky yang tidak suka dengan kedatangan sepupunya itu


"Bukannya kamu ada di luar kota?" Lucky berkata dengan sinis


"Baru sampai, jangan ketus begitu dong.... aku hanya ingin melihat keponakan aku tidak akan merebut ibunya" Pandu mengejek Lucky


"Ganteng tidak? Mirip papanya atau malah mirip aku?" Lanjut Pandu yang membuat Lucky semakin geram


"Mana mungkin mirip kamu yang jelek itu.... pastinya mirip akulah.... " Seperti anak kecil yang berebut mainan saat ini Lucky dan Pandu bertengkar

__ADS_1


"Sudah... sudah... saat ini kita sedang si rumah sakit, kalau kalian mau bertengkar lebih baik keluar..." Pras melerai keduanya namun malah semakin menjadi


"Sekali lagi ayah bilang BERHENTI" Pras bicara lebih keras hingga membuat keduanya diam seketika dan pastinya mengundang tawa seluruh orang yang berada di ruangan Nia


Suasana kekeluargaan yang tercipta disaat kebahagiaan Nia dan Lucky atas kelahiran putra pertama mereka, menjadikan sebuah momen yang tidak bisa dilupakan.


Sehari setelah kelahiran semuanya masih berada di rumah sakit, di pagi ini sang pangeran yang ditunggu dibawa ke bangsal milik Nia, dan menjadi rebutan nenek-kakeknya dan juga om, tantenya.


"Mana Sus biar aku yang bawa" Danny berada di depan pintu dan mencegah suster untuk masuk ke ruangan sebelum bayi itu diserahkan kepadanya


"Heh... anak siapa biar aku yang gendong, kamu tidak punya hak" Lucky merebut bayinya yang kini ada di tangan Danny


"Siapa yang bawa mobil ke rumah sakit, jadi aku yang pertama menggendongnya" Danny masih belum mau mengalah


"Sudah biar aku saja, kalian dilarang merebutnya dari tangan aku" Nalen yang juga penasaran dengan keponakannya ikut berebut


"Stop semua, karena aku yang terjauh jadi aku yang lebih dahulu menggendongnya" Pandu ikut nimbrung


"Sudah, mana bayinya.... biar dis*s*i ibunya dahulu" Suster tidak bisa mentoleransi lagi atas kelakuan bayi-bayi besar yang ada di bangsal ini


"Semuanya silakan keluar terlebih dahulu"Lanjutnya


"Tapi Sus.... "Semua kecewa serentak ketika mendapat pengusiran dari perawat


"Gara-gara sikap kalian yang seperti anak kecil, kita harus keluar dari kamar ini, dan tidak bisa menggendongnya" Pras dan Dewa juga ikut dongkol harus meninggalkan cucu ganteng mereka


"Memang mereka semua seperti anak kecil yang berebut mainan, memangnya cucu kita itu mainan apa" Ryasmi dan Rahma juga ikut menggerutu


Anak-anak muda yang lain hanya bisa memandang kekecewaan di raut wajah orang tua yang baru sehari menjadi nenek dan kakek

__ADS_1


__ADS_2