
Nia cukup was-was dengan suara langkah kaki yang mendekati dirinya. Mulutnya komat-kamit melafalkan do'a meminta perlindungan kepada sang Pencipta, bukan komat-kamit melafalkan mantra dari mbah dukun. Semakin lama semakin mendekat namun Nia merasakan tidak ada pergerakan lagi yang mendekat ke arahnya, perasaannya semakin kacau, dia takut yang mendekatinya tadi bukanlah manusia namun seekor binatang buas.
Pintu terdengar terbuka lagi, kali ini ada dua orang yang melakukan percakapan seraya berjalan mendekat ke arah dimana Nia sedang duduk. Penutup mata Nia mulai di buka, dia berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata dengan beberapa kali mengedipkan kelopak matanya berulang kali.
Suara bariton yang tegas mendominasi ruangan yang begitu sempit dan hanya tersedia bola lampu kecil lima watt sebagai penerangan ruangan yang kini terlihat dengan jelas di mata Nia, ruangan yang terlihat tidak terawat dan mungkin berada di posisi lantai dua atau tiga, karena Nia sempat melihat dari celah kecil yang ada di jendela terlihat di kejauhan beberapa gedung tinggi, yang pasti posisinya kali ini tidak berada di lantai dasar ataupun di bawah tanah.
"Sekarang kamu makan makanan ini" Lelaki itu melemparkan bungkusan berwarna coklat yang hanya diikat dengan dua karet gelang berwarna merah
"Bagaimana bisa makan, sedangkan tanganku saja masih diikat" Lelaki itu mendekati Nia dan mencoba melepaskan ikatannya tapi hanya tangan kanannya saja yang di lepaskan tangan kirinya masih diikat dengan kursi yang ada di belakang Nia
"Cepat makan, sebentar lagi bos akan datang, kami tidak ingin kau m*t* terlebih dahulu sebelum mereka datang" Lelaki itu kembali keluar dan mengunci pintu ruangan dengan segera, dia tidak ingin kecolongan ada seseorang yang masuk
__ADS_1
Nia membuka bungkusan yang tadi dilempar ke arahnya, dia tidak ingin terkena hujatan kalau sampai dia tidak memakannya. Namun sayangnya tidak ada air minum yang bisa melepaskan dahaganya, sehingga Nia tidak bisa melanjutkan makannya. Saat ini dia merasa seperti tercekat, karena makanan yang dia masukkan ke mulut hanya berhenti di lehernya, berulang kali dia meneguk air liurnya sendiri untuk membantu makanannya masuk ke kerongkongannya.
Suara kunci pintu terbuka lagi dan knop bergerak dari atas ke bawah, pertanda pintu ada yang membuka, hati Nia berdebar kencang menunggu siapa yang akan muncul di balik pintu. Benar saja dua sosok perempuan dan seorang laki-laki yang. muncul dari balik pintu, mereka hanya melihat dari luar, Nia tidak dapat mengenali wajah mereka karena keadaan di luar cukup gelap. Namun dapat dia pastikan lelaki yang kini di depan pintu adalah sama dengan orang yang memberi ya makan.
Terlihat salah satu wanita mengeluarkan ponsel dan mengarahkan ponsel itu ke Nia, mungkin sedang mengambil gambarnya.
"Baiklah, kita tutup dulu biarkan dia bermalam di sini, dan jangan kalian lepaskan sebelum ada perintah dari kami" Seorang wanita paruh baya memberikan perintah kepada lelaki tadi
"Asalkan harganya cocok, akan kami laksanakan apa yang menjadi perintah kalian" Dengan senyum yang mengembang lelaki itu sedikit memberikan ancaman "Namun, apabila kalian sampai ingkar janji maka jangan salahkan jika besok malam akan ada petugas yang akan mendatangi rumah kalian"
Selesai mendapatkan apa yang diinginkan, kedua wanita beda generasi itu pergi meninggalkan gedung yang mereka gunakan untuk menyekap Nia, tanpa melihat lagi ke arah ruangan yang ditempati Nia.
__ADS_1
"Ma, apakah rencana kita akan berhasil?" Manda mempertanyakan rencana yang dibuat mamanya
"Dengan cara ini pasti kita akan berhasil" Dengan penuh keyakinan Elsa menjawab pertanyaan anaknya
"Mama jangan terlalu yakin, Manda tidak ingin rencana kita kali ini gagal lagi" Elsa hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi ketakutan dan kepanikan Manda yang tanpa alasan
"Kamu sudah lihat sendiri, sekarang Nia berada di tempat yang jauh dari jangkauan mereka, tidak mungkin dalam waktu singkat mereka bisa menemukan keberadaannya, Mama jamin Lucky akan menjadi milikmu, dan semua harta Pras akan kita keruk lambat laun"
*****
Nia kini hanya ditemani cahaya yang minim dan juga terdengar suara-suara aneh yang jarang sekali dia dengar di rumahnya. Dari balik kursi di belakang Nia, ada bayangan yang keluar dari sana, Nia hampir teriak namun dengan cekatan bayangan itu membekap mulutnya lagi.
__ADS_1
Nia melotot melihat siapa yang kini berada di hadapannya dengan hanya memakai kaos oblong dan juga celana warna abu-abu ciri khas seorang pelajar menengah atas. Nia berusaha melepaskan bekapan tangan yang masih setia menempel di mulutnya, namun matanya melihat sebuah isyarat tangan yang lain, telunjuknya menempel di mulut cowok di hadapannya, yang berarti memintanya untuk tetap diam.
Nia menganggukkan kepalanya pertanda dia mengetahui maksudnya.