
Nia masih belum sadar dengan apa yang sudah terjadi terhadap dirinya dan kini Lucky sudah berbicara di telephone.
"Apa" Lucky kaget dengan berita yang dia dengar dari orang yang berada di seberang sana
"Baik, kami akan segera menyusulmu" Lucky mengakhiri panggilan telephonnya dan segera beranjak mengambil jaket dan kunci mobilnya, tidak lupa dia mengajak Nia untuk segera beranjak, tidak lupa Lucky juga membawa jaket di tangannya yang dia bawakan untuk Nia.
"Ada apa Kak, mengapa tengah malam begini ada telepon dan kita harus pergi" Lucky masih saja diam dan bergegas menuju kamar orang tuanya untuk berpamitan
Lucky tidak mau berbicara di depan Nia, takutnya dia akan kaget jika mendengarnya saat ini.
Dengan membelah sepinya jalanan Lucky dan Nia menuju ke kantor polisi sesuai dengan yang Nalen katakan. Saat ini Nalen sudah menunggu kedatangan mereka di depan pintu masuk kantor kepolisian dan belum menemui kedua orang tuanya. Tidak perlu menunggu lama orang yang Nalen tunggu sudah memasuki area parkir dan segera menghampiri mereka.
"Ada apa Kak?" Nia yang sejak tadi bertanya kepada Lucky namun tidak mendapat jawaban, kini langsung bertanya kepada Nalen ketika dia sudah turun dari mobil
Nalen menggandeng tangan Nia untuk segera memasuki kantor polisi diikuti Lucky yang berjalan di belakang mereka.
"Sebenarnya ada apa sih Kak, mengapa kita kesini tengah malam begini?" Nia masih saja bertanya karena belum mendapatkan jawaban dari kakaknya maupun suaminya
"Sebentar Dik, kita masuk dulu dan akan kita dapatkan jawabannya setelah berada di sana" Nalen sebenarnya juga belum tahu kronologi yang sebenarnya, dia juga langsung bergegas ke kantor polisi ketika Papanya meminta untuk datang mengajak serta Lucky dan Nia.
Ryasmi terlihat terisak melihat kedatangan anak-anaknya bergantian saling memeluk dan memberikan kekuatan.
"Maafkan Mama dan Papa, harusnya tadi kami tidak pergi kesana dan segera pulang" Tangis Ryasmi pecah ketika berada dalam pelukan Nalen
"Bukan salah Mama dan Papa semua sudah ditakdirkan oleh sang Maha Pencipta" Nalen menguatkan mamanya yang saat ini terlihat sangat trauma dengan kejadian yang menimpanya dan juga suaminya
"Mama, duduk dulu biar Lucky belikan minum dulu" Lucky bergegas keluar mencari mini market yang masih buka dan membeli minuman untuk mengurangi rasa cemas mertuanya
__ADS_1
"Terima kasih Kak, Mama tidak salah menyerahkan Nia ke tanganmu, tolong jaga dan sayangi anak mama" Ryasmi mengusap punggung Lucky dan memberikan pesan kepadanya
"Insya Allah Ma, Lucky akan selalu menjaga dan menyayangi Nia, meskipun rasa sayang Lucky mungkin tidak sebesar rasa sayang Mama dan Papa kepadanya
"Papa dimana Ma?" semenjak kedatangan mereka, Nia belum melihat keberadaan Papanya
"Papa masih di dalam dimintai keterangan oleh polisi"
"Besok lagi kalau Mama dan Papa ingin pergi harusnya minta Nalen untuk mengantar, jangan pergi menyetir sendiri, atau kita cari sopir saja" Nalen juga merasa bersalah karena membiarkan kedua orang tuanya menyetir sendiri bepergian ke tempat yang cukup jauh
"Tidak apa-apa masalah sopir kita pikirkan lagi nanti" Ryasmi tidak ingin menambah rasa penyesalan anak-anaknya
Lucky kembali memasuki kantor polisi setelah mendapatkan beberapa botol minuman bersamaan dengan Dewa dan Manda keluar dari ruang pemeriksaan.
Manda yang melihat keberadaan Lucky di sana mengira bahwa dia ingin membantunya dan dengan percaya diri Manda berlari menghampiri dan menangis berusaha meraih Lucky
"Maaf, tapi gue ke sini karena mertua gue" Lucky berlalu dan mendekat ke arah keluarga Nia yang sudah menunggunya
"Tapi Sya, bahkan gue tidak ada yang menemani dan mendatangi setelah gue mengalami ini semua, apakah kami tidak ada rasa empati sedikitpun?" Manda berkata dengan berteriak mencurahkan kemarahannya karena tidak ada satupun keluarganya yang segera datang setelah dia memberi kabar mengenai peristiwa yang dialaminya
"Semuanya jahat" Manda semakin frustasi
Nia mendekati Manda dan memberikan sebotol air minum agar dia lebih bisa mengontrol dan mengendalikan emosinya serta bisa meredam kemarahannya. Bukannya menerima kebaikan Nia, Manda malah berbuat onar dengan berusaha menarik rambut Nia dengan cukup keras yang menyebabkan keributan di sana.
"Mengapa... mengapa harus kamu yang dicintai oleh Rasya dan bukan gue, lagi pula mengapa kedua orang tuamu tidak mati saja setelah kecelakaan tadi, harusnya gue menyetirnya lebih kencang dan membuat Lo menjadi yatim piatu" Manda masih saja mengomel tidak jelas untuk melupakan kemarahannya
Nalen segera berlari menghampiri adiknya yang merasa kesakitan, namun tidak kunjung dilepaskan. Lucky berusaha membantu, namun Manda berusaha untuk meraih lengannya hal itu membuat Nia yang melihatnya semakin marah dan cemburu.
__ADS_1
"Apa yang Lo lakuin, singkirkan tangan Lo dari lengan suami gue" Kata-kata Nia membuat Manda berusaha mencernanya
"Apa Lo bilang, kapan Lo nikah dengan Rasya, jangan kepedean dengan menyebutnya suami Lo, sebelum ada janur kuning, Rasya masih bisa gue miliki, bahkan meskipun telah ada ijab qobul diantara kalian, gue pastikan Rasya akan menjadi milik gue" Manda berbicara dengan penuh ancaman dan sedikit tertawa mengejek
"Tidak ada yang bisa memisahkan kami, kami sudah sah menikah pagi tadi. Sah secara agama dan juga sah secara hukum pemerintah" Nia juga semakin marah
"Sudahlah Dik, orang gila seperti dia jangan diladeni membuang tenaga saja" Nalen menggandeng tangan Nia setelah bisa membebaskan adiknya dari cengkeraman Manda, sedangkan Lucky berusaha menjauh dari Manda sebelum sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Dasar kalian semua gila, harusnya kalian semua mati ditanganku" Manda masih saja memgumpat
Ryasmi yang melihat interaksi anak-anaknya dengan orang yang beradu kepala mobil dengannya, bertanya-tanya siapa sebenarnya anak itu, sepertinya tidak asing wajahnya.
"Dia siapa, mengapa kalian mengenalnya?" Ryasmi bertanya kepada Nia yang kini duduk di sampingnya
"Bukan siapa-siapa Ma, dia hanya orang gila yang tidak tahu diri" Nia tidak ingin memberi tahu kedua orang tuanya mengenai identitas Manda
"Mama jangan banyak pikiran"
Seorang polisi menghampiri mereka dan menyampaikan beberapa keputusan "Mohon Maaf, selamat malam, setelah kami mendapatkan informasi dari kedua belah pihak, kami tidak bisa menyalahkan salah satu diantara pengemudi, berdasarkan keterangan satu pengemudi mengantuk dan kecapean sedangkan yang satu sedang melamun ketika berkendara, hingga kami putuskan untuk berdamai dan menyelesaikannya secara kekeluargaan, Silakan komunikasikan dengan wali dari Manda lebih baik jika segera diselesaikan agar tidak semakin berlarut-larut, untuk kendaraan tetap akan kami tilang dan silakan diambil setelah mendapatkan surat dari kami, selamat malam dan silakan kalian meninggalkan kantor kami"salah satu petugas polisi menjabarkan hasil pemeriksaan
"Terima kasih Pak, selamat malam" Dewa sendiri yang menjawab
Sebenarnya Dewa tudak merasakan kantuk dan kelas ketika menyetir, beliau memberikan kesaksian seperti itu untuk memberikan keringan kepada seorang anak gadis yang seusian dengan anaknya, Dewa tidak tega jika nantinya polisi menjatuhkan hukuman kepada gadis itu.
Semua keluarga Nia segera meninggalkan kantor polisi untuk pulang, Dewa dan Ryasmi satu mobil dengan Nalen, sedangkan Nia dan Lucky mengikuti dari belakang.
Manda hanya bisa memandang orang yang sangat dia sayangi meninggalkan dan tanpa menghiraukan keberadaanya. Manda berusah menghubungi keluarganya dan juga Farhan namun belum juga mendapat jawaban.
__ADS_1