
Andi berencana untuk mengumpulkan bukti yang bisa membantu Lucky untuk menyelesaikan masalahnya dengan Manda yang selalu berusaha melukai Nia.
Mereka berdua berpisah karena restoran yang mereka gunakan untuk bertemu sudah mau tutup dan sudah beranjak malam, selain sudah sangat capek Lucky juga harus bangun pagi untuk mengantar Nia ke sekolah, meskipun dia sebenarnya sudah tidak ada kewajiban untuk pergi ke sekolah mengingat ujian kelas tiga telah usai.
Langit kemerahan dihiasi sinar mentari yang sudah tidak sabar memberikan sinarnya untuk makhluk hidup di dunia ini. Lucky bersiao untuk menjemput Nia berangkat sekolah. Dengan mengendarai mobil pribadinya berjalan pelan sambil menghirup udara pagi yang masih segar serta aroma tanah yang begitu khas karena guyuran air hujan setelah lewat tengah malam.
Kicauan burung yang saling bersahutan menambah cerianya suasana pagi secerah hati Lucky yang sebentar lagi bertemu dengan pujaan hati yang dirindukannya. Meskipun ada rasa was-was dalam diri Lucky jika meninggalkan Nia di sekolah tanpa pengawasannya, namun dia harus berfikir positif tidak mungkin ada orang yang nekat berbuat jahat di lingkungan sekolah.
"Jangan lupa antar Nia sampai di gerbang ya Luck" Ryasmi berpesan kepada Lucky
"Baik tante, Lucky akan antar Nia sampai gerbang sekolah dan tidak akan pulang sebelum dia masuk kelas" Lucky tidak ingin orang tua Nia khawatir mengenai keselamatan anak gadisnya
"Tante percaya sama kamu, Berhati-hatilah ketika mengendarai mobil"
"Iya Ma, lagi pula letak sekolah juga tidak jauh banget, mama jangan terlalu khawatir, Nia pasti sampai di sekolah dengan selamat, Nia berangkat dulu Ma" Nia berpamitan dengan kedua orang tuanya diikuti oleh Lucky
"Hati-hati di jalan Nak, jangan lupa obatnya diminum dan jangan sampai telat makan" Ryasmi memperlakukan Nia selayaknya anak sekolah dasar yang baru pertama kali masuk sekolah
"Ma, jangan berlebihan Nia sudah bukan anak SD lagi, Nia sudah besar" Nia tidak Terima dengan perlakukan mamanya yang menurutnya sangat berlebihan
Memasuki mobil, keduanya tidak banyak bicara bahkan sampai dekat sekolah, Nia memilih memejamkan matanya hanya untuk sekedar menahan rasa lemas badannya. Lucky hanya bisa membiarkan Nia untuk beristirahat dan tidak berniat untuk mengganggunya. Namun, semakin dekat dengan sekolah Lucky tidak bisa menahan lagi dan ingin memecah kesunyian di dalam mobil yang hanya ada mereka berdua.
"S*yang, kalau masih lemas lebih baik jika tidak masuk dulu, kasihan kamunya masih pucat begitu" Lucky berbicara sambil mengusap puncak kepala Nia yang masih saja terpejam matanya, sedangkan tangan yang satunya harus mengendalikan mobilnya
"Tidak bisa Kak, Nia tidak mau jika harus mengikuti tes susulan dan harus mengerjakannya sendirian, lebih enak ada teman meskipun nanti Nia tidak bisa mendapatkan nilai maksimal" Nia bersikeras tetap masuk sekolah
"Yang penting kamu harus bisa menjaga diri, jika tidak kuat, kamu minta ijin saja dan segera telpon kakak" Lagi-lagi Nia mendapatkan pesan layaknya anak kecil yang tidak tahu apa-apa
__ADS_1
"Mengapa semua orang memperlakukan Nia layaknya anak kecil sih" Nia bersungut menanggapi ocehan Lucky layaknya emak-emak
"Siapa bilang gadis cantik ini masih anak kecil, kalau masih kecil tidak mungkin kakak ajak nikah" Lucky mulai menggoda Nia agar tidak cemberut lagi
"Tapi Nia tidak mau kalau harus nikah sekarang"
"Berarti gadis cantik ini masih kecil dan butuh perhatian yang lebih" Nia semakin cemberut mendengar perkataan Lucky yang mengejeknya
"Cepat masuk, waktu istirahat nanti kakak akan ke sekolah lagi setelah pekerjaan kakak selesai semua" Lucky segera beranjak pergi setelah Nia memasuki gerbang sekolah dan memastikannya masuk kelas dengan selamat
Nia berjalan memasuki gerbang sekolah dengan cepat menghindari siswa lain yang penasaran dengan kejadian yang menimpanya, karena memang berita tersebut sudah menyebar di lingkungan sekolahnya. Memasuki ruang ujian, di sana Nana sudah menunggunya dengan perasaan cemas pasalnya jam hampir menunjukkan waktu ujian segera dimulai. Untungnya bel belum juga berbunyi, hingga Nia masih bisa mengambil nafas untuk mengurangi rasa grogi dan lemasnya.
"Bagaiman keadaanmu?" Nana tulus bertanya kepada Nia, saat ini Nana tidak pernah berbuat jahat kepada Nia, apapun yang diminta Manda untuk menjahili Nia selalu dia bantah, Nana tidak ingin kehilangan salah satu sahabat yang sangat baik kepadanya
"Sudah mendingan kok" Jawab Nia singkat, dia masih enggan untuk berbicara banyak
"Bagaimana, apa ada kesulitan?" Tanya Lucky ketika mendapati Nia berdiri dihadapannya sambil mengusap kepala Nia
"Tidak" Nia masih saja menjawab singkat
"Masih belum semangat, belum minum obat ya, atau mau obat yang lain?"
"Obat lain apa kak, memangnya ada obat penghilang rasa sakit?" Nia penasaran dengan obat yang dimaksud Lucky
"Ada, mau tidak?"
"Mahal tidak harganya?"
__ADS_1
"Murah banget, malah bisa jadi gratis"
"Mau dong Kak, ayo cepat kita ke apotik!" Nia menarik tangan Lucky untuk segera beranjak dari kantin
"Ngapain ke apotik?" Lucky kini yang dibuat bingung
"Katanya beli obat gratis, cepetan nanti kehabisan" Nia semakin merajuk
"Kalau kamu bersikap manja seperti ini, bakalan dapat obat gratis kamu Y*ng" Lucky bergumam sambil memanyunkan bibirnya untuk memberi obat gratis kepada Nia
Lucky hanya mengikuti langkah Nia yang semangat untuk segera ke apotik demi obat yang bisa membuatnya pulih lebih cepat. Bergegas memasuki mobil dan memasang seat beltnya.
"Kamu benar mau obat gratis itu?" Lucky penasaran dengan jawaban Nia
"Iya" Jawab Nia singkat namun penuh semangat
"Nih, Kakak kasih" Lucky mendekatkan wajahnya ke arah muka Nia yang membuat Nia kaget dan jantungnya berdebar sangat hebat. Dia belum pernah melihat Lucky melakukan hal sedekat itu dengannya meskipun mereka sudah tunangan sekalipun
"Kakak mau ngapain" Nia menahan dada Lucky dengan kedua tangannya
"Mau..." Lucky meletakkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke bibirnya sendiri dan dengan cepat memindahkannya ke kedua pipi Nia sebelum pemilik pipi menyadarinya
Ketika menyadari aksi Lucky, namun semua sudah sukses jari Lucky mendarat di pipi mul*s milik Nia.
"Kakak..." Nia berbicara lirih karena masih kaget dengan aksi Lucky yang sangat cepat, namun sukses membuat wajah Nia memerah
"Bagaimana.... Lebih semangat kan...." Lucky kini lebih berani mengg*da Nia
__ADS_1