
Setelah dari mini market, mereka beranjak pulang selain Nia harus segera istirahat, Lucky juga memiliki pekerjaan untuk mengecek persediaan bahan masakan di restoran utama dan juga di cabang. Serta mengecek secara langsung bahan sayuran yang dikirim oleh para petani binaannya.
Ketua petani sudah menunggu kedatangan Lucky meskipun sebelum datang mereka sudah memberi kabar, tetapi kenyataannya mereka memilih menunggu. Mereka tidak enak hati jika nantinya terlambat datang karena waktu para pekerja pulang kantor biasanya jalanan macet.
Lucky bergegas menyapa mereka setelah memarkirkan mobilnya.
"Maaf Pak, saya terlambat" Lucky merasa bersalah atas keterlambatannya
"Tidak apa-apa mas, kami yang salah karena mas Lucky sudah menentukan waktu, tapi kami yang tidak menepatinya" Ketua petani juga merasa bersalah karena lebih memilih menunggu
Mereka menurunkan hasil panen kali ini, yang terdiri beberapa jenis sayuran yang pastinya baru saja di petik dari sawah. Lucky menerima semua kiriman sayuran dan tidak ada yang dikembalikan sama sekali karena para petani sudah hafal dengan standar Lucky. Mereka tidak ingin main-main dengan kerja sama yang sudah terjalin baik, selain memberikan pelatihan rutin, Lucky juga memberi bantuan pupuk beberapa kali. Sehingga mereka enggan untuk berbuat curang.
Selesai pembayaran para petani beranjak meninggalkan restoran, Lucky segera meminta para karyawan untuk memasukkan ke dalam lemari penyimpanan sayuran dan menaikkan beberapa sayuran untuk restoran cabang.
Pekerjaan Lucky selesai selepas isya, dia bergegas pulang karena Bundanya sudah berulang kali menelponnya. Rahma duduk di teras rumah menunggu putra satu-satunya yang kini telah menyelesaikan bangku sekolahnya, berulang kali Rahma berdiri dari kursinya hanya untuk mengecek kedatangan sang putra.
"Semakin besar, semakin sibuk saja sampai-sampai bundanya dilupakan, apa memang pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan" Gumam Rahma ketika sudah yang kesemian kali dia berdiri dan duduk kembali
"Sri, tolong ambilkan syal di kursi" Rahma meminta asisten rumah tangganya yang kebetulan keuar untuk menata bagian luar
"Baik Nyonya" Sri segera bergegas masuk dan mengambil syal yang diminta majikannya
Udara yang terasa dingin sebenarnya tidak bagus terhadap kesehatannya, namun dia tetap bertahan ditemani segelas minuman jahe untuk menghangatkan tubuhnya mengurangi rasa dingin yang terasa menusuk hingga ke tulang.
Suara deru mobil memasuki pelataran rumah, menandakan Lucky sudah datang, Rahma segera berjalan mendekati mobil yang terparkir seolah sangat merindukan anaknya yang sudah lama tidak bertemu.
"Bunda, mengapa di luar, udaranya sangat dingin tidak bagus untuk kesehatan Bunda" Lucky yang baru saja turun dari mobil segera menghampiri Rahma yang telah menyambutnya di ujung depan teras rumah
"Habisnya kamu lama banget, bunda sudah nunggu dari tadi"
"Kan bisa nunggu didalam Bund, Lucky tidak ingin Bunda sakit lagi"
"Lagi pula Bunda tidak lama nunggunya, setelah ada suara mobil, Bunda baru keluar" Rahma tidak ingin membuat sang putra khawatir, jadi dia berbohong
__ADS_1
Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, mereka duduk di ruang keluarga sambil bercengkerama membicarakan hal-hal yang menyenangkan sambil menikmati minuman hangat dan beberapa makanan ringan serta melepas lelah seharian bekerja.
"Bagaimana pekerjaanmu Nak" Tanya Rahma
"Semua lancar Bun, omset penjualan juga semakin meningkat baik yang pusat maupun cabang, kalau hanya untuk kebutuhan Lucky Insya Allah lebih dari cukup Bun" Lucky bersemangat menceritakan perkembangan usahanya yang semakin hari semakin maju
"Apa Bunda ingin jalan-jalan? Nanti setelah Nia selesai Ujian kenaikan kelas bisa kita rencanakan, Bunda maunya kemana?" Lanjutnya
"Tidak, Bunda hanya ingin istirahat di rumah, capek kalau harus bepergian jauh. Kamu tahu sendiri kondisi Bunda bagaimana"
"Kita liburan di dalam kota saja Bun, tidak usah jauh-jauh. Biar Bunda semakin segar dan bisa menghirup udara di luar rumah"
"Eh, kamu bilang apa, udara di sekitar rumah kita lebih segar dan bersih dibanding di luar sana, banyak tanaman segar juga di rumah. Bunda tidak ingin pergi"
"Ikut kata Bunda saja kalau begitu, setelah libur nanti, Nia biar main ke sini menemani Bunda membersihkan dan menata bunga milik Bunda"
"Bukan ide yang buruk, selesai beres-beres bunga lanjut belanja, dan kamu bagian yang membayar, Bagaimana menururmu?" Rahma mengerlingkan sebelah matanya meminta pendapat sang putra
"Baiklah, akan Lucky usahakan uang Lucky cukup untuk belanja Bunda dan juga Nia" Lucky memeluk Bundanya yang semakin hari terlihat lebih kurus karena penyakitnya tidak kunjung sembuh. Demi menyenangkan hati Bundanya apapun yang beliau minta akan Lucky usahakan
Sesuai janji Lucky, liburan hari pertama Lucky mengajak Nia untuk berkunjung ke rumah bundanya untuk sekedar menemani Rahma berkutat dengan tanaman bunga-bunganya. Dengan senang hati Nia ikut dengan Lucky meskipun pada dasarnya dia sendiri tidak begitu suka dengan aktivitas menanam bunga. Dia lebih bersemangat ketika Lucky berkata setelah selesai akan diajak belanja oleh Rahma.
Dengan memakai kaos dan celana panjang, Nia bersiap duduk di teras menunggu kedatangan Lucky yang berjanji akan menjemputnya pagi ini.
"Anak Mama pagi-pagi sudah cantik saja, mau jalan-jalan Dik?" Ryasmi yang baru pulang belanja di depan komplek melihat anaknya yang sudah rapi dan wangi mau tidak mau menghentikan langkahnya untuk bertanya
"Mama lupa ya... Tadi malam Nia sudah bilang sama mama jika pagi ini adik mau ke rumah Bunda"
"Oh iya mama lupa, dijemput Lucky?"
"Iya Ma... Ini adik lagi nunggu"
Baru saja mereka membicarakan Lucky, tapi saat ini mobilnya sudah masuk ke halaman rumah Nia. Turun dari mobil mengucapkan salam dan menyalami Ryasmi.
__ADS_1
"Wah, panjang umur.... Baru juga diomongin sudah datang saja" Ryasmi berkomentar ketika menyambut kedatangan calon mantu
"Pantas Ma...." Lucky belum menyelesaikan perkataannya ketika Ryasmi memotongnya
"Pantas kenapa?"
"Telinga Lucky sakit, berdengung terus"
"Kamu bisa saja, ayo masuk dulu" Ryasmi mengajak Lucky untuk masuk rumah untuk sekedar minum teh
"Terima kasih Ma, tapi Lucky sudah makan, ini juga sudah ditungguin sama Bunda" Lucky dengan sopan menolak ajakan Ryasmi, karena Rahma sudah menunggu mereka sejak pagi
"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan dan sampaikan salam mama untuk Bunda"
"Iya Ma, kami pergi dulu. Mungkin kita akan kembali malam nanti" Lucky meminta ijin kepada Ryasmi
Ryasmi menganggukkan kepalanya ketika melepas anak-anaknya untuk pergi. Di tengah perjalanan Nia meminta Lucky untuk berhenti sejenak ke sebuah kedai buah.
"Beli buah mangga buat apa Y*ng, Bukannya itu asem?" Lucky melihat Nia yang sempat memegang mangga yang masih hijau langsung mencegahnya
"Tapi Nia mau yang ini Kak" Nia sebenarnya tidak berniat untuk membelinya, dia hanya iseng memegang saja
"Mungkin istrinya nyidal mas...." Komentar sang penjual buah
"Kamu nyidam Y*ng?" Lucky dibuat kaget ketika Nia menganggukkan kepalanya bersemangat
"Kapan kita buatnya Y*ng, bahkan menci*m saja belum boleh, bagaimana bisa hamil?" Lucky berbicara sedikit keras dan khawatir, dia takut dia melakukannya tanpa sadar ketika Nia menginap di rumahnya beberapa minggu yang lalu
"Tapi Nia beneran hamil Kak, Kakak tidak mau tanggung jawab, ya sudah Nia pulang saja, tidak usah menemui Nia lagi" Nia pura-pura pergi setelah menyerahkan uang ratusan ribu kepada penjual buah
"Ok, kalau memang itu anak Kakak, pasti kakak akan tanggung jawab, tapi jangan pergi begitu Y*ng, semua bisa kita bicarakan baik-baik" Lucky mengejar Nia yang hampir naik ojek yang kebetulan lewat
Nia tertawa melihat reaksi Lucky yang panik dan juga bingung mendengar jika Nia hamil anaknya.
__ADS_1
"Kak, tidak usah bingung seperti itu" Nia kasihan melihat Lucky yang benar-benar bingung, harus berbuat apa