
"Lalu apakah mereka mencari siapa pelakunya?" Nana makin penasaran mengenai kejadian sore ini
"Sampai saat ini sih belum ada yang mencari siapa pelakunya, tapi mungkin nanti setelah kegiatan selesai, kalau tidak mungkin setelah kita sampai di sekolah akan mereka usut, karena sangat membahayakan bagi yang lainnya" Sonya menjelaskan
Malam semakin larut, mereka menarik selimutnya masing-masing dan berlayar mengarungi samudera mimpi dan menguapkan segala lelah dan letih. Terdengar suara kokokan ayam memanggil-manggil orang yang masih enaknya berada di bawah selimut tebal.
Para siswa mulai menggeliat meregangkan otot-ototnya dan segera bergiliran menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu untuk mengerjakan sholat Subuh berjama'ah di aula seperti sholat magrib dan isya tadi malam.
Selesai menjalankan kewajiban masing-masingmasing-masing, semuanya kembali berkumpul untuk melakukan olahraga pagi dan langsung dilanjutkan untuk sarapan dan persiapan menuju start finish dengan diangkit menggunakan mobil bak terbuka secara bergantian, karena rute untuk menuju start hanya bisa dilalui mobil berukuran kecil dan tidak mungkin akan menggunakan bus yang mereka bawa dari sekolah.
Briefing dilakukan lagi sebelum benar-benar mereka masuk ke sungai dengan aliran air yang cukup deras, dengan sedikit mengulangi briefing yang sudah disampaikan semalam mengenai keamanan dan tindakan-tindakan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan selama dalam jalur rafting dan harus mengikuti setiap instruksi dari pembimbing setiap perahu untuk menghindari kecelakaan yang tidak diharapkan.
"Ok, sekarang kalian boleh memilih tim kalian masing-masing, setelah dapat anggota silakan melapor dan akan diambil foto terlebih dahulu"Instruksi awal dari pemimpin instruktur
Semua murid sibuk memilih teman untuk dijadikan tim yang solid dalam mengarungi jeram yang ada di sungai tersebut.
Dengan tambahan dia orang lainnya Nia dan Nana memutuskan untuk menjadi sebuah tim, sudah menjadi rahasia umum jika keduanya tidak akan mungkin berpisah mereka berdua dikenal sebagai sahabat sejati di sekolah mereka.
"Ayo, kita ambil foto dulu" Ajak Nana
"Eh, boleh nggak kalian berdua tukar tim dengan gue dan Risma?" Tiba-tiba Sonya mendatangintim Nia yang sudah terbentuk
"Emang kenapa sih harus bertukar tim?" Tanya seorang tim Nia yang terbentuk awal
"Nggak, karena kami berempat sudah saling kenal kita satu kamar pasti kami akan jadi tim yang solid pastinya" Sonya dengan percaya diri mengatakan hal itu
"Oh ya sudah, kita tukeran saja" Akhirnya mereka memutuskan untuk bertukar anggota tim
Sekarang Nia, Nana, Sonya dan Risma menjadi satu tim, Sonya dengan tujuannya yang sudah tersusun dengan rapi di otaknya. Setelah berfoto, semua handphone dan perhiasan yang mereka bawa harus disimpan ditempat yang aman terlebih dahulu.
__ADS_1
Semua mulai turun satu persatu ke sungai menuju perahu yang sudah siap dengan memakai pelampung juga helm keselamatan tak lupa peralatan yang terpenting dayung.
"Silakan duduk di tepi perahu, jangan ditengahnya, letakkan salah satu kaki di bawah pelampung yang berada di tengah perahu sebagai kuda-kuda apabila perahu mengalami terbalik." Intruksi dari pembimbing ketika semua sudah naik ke perahu "Jangan lupa paling depan diisi, jangan sampai kosong" Lanjutnya
Tanpa menunggu lama semuanya telah bersiap dengan alat dayung di tangan mereka rafting pun dimulai, dengan bergiliran mengarungi sungai ketika sampai di aliran air yang tenang perang airpun dimulai dari saling menyerang dengan air, ada juga yang saling menarik untuk memasukkan lawan ke dalam air.
kesempatan seperti inilah yang ditunggu Sonya, dia ingin menarik Nia ke dalam air karena dia tahu Nia tidak pandai berenang, pasti sangat menyenangkan jika hal itu terjadi pikirnya.
"Gue harus memanfaatkan kesempatan kali ini dengan baik setelah dia berada di air gue akan berusaha menolongnya untuk menarik perhatian Kak Lucky" Sonya berkata-kata dalam hati sambil melihat-lihat keadaan jika memungkinkan dia akan segera mengeksekusi rencananya
"Pak, berapa kedalaman air di sungai ini?" Tanya Nia serius namun dijawab dengan candaan oleh pembimbing "Kedalaman air di sungai sini cuma sedada bebel kok mbak" Jawab pembimbing dengan santainya
"Ya iyalah lah pak, emang ada bebek yang berenang dengan menenggelamkan seluruh badannya"Sanggah Nia
(Lagian bapaknya apa-apa saja, sedalam apapun air, ya cuma sebatas dada bebek saja dia terlihat di dalamnya)
"Saya kira mbaknya nggak ngerespon dengan cepat, tapi ternyata cukup tinggi daya tangkap mbak" Pembimbing memberikan pujian ketika dia mencoba memberikan jawaban yang sedikit mengecoh
Di rumah Nia
Nalen dengan kedua orang tuanya sedang sarapan bersama, jarang-jarang mereka bisa makan bersama karena kesibukan sang Papa yang harus terbang sesuai jadwal maskapai.
"Len, kamu nggak telephone adikmu?"Tanya Dewa ditengah mereka menikmati sarapannya yang masih tersisa separo lebih
"Belum Pa, Nalen belum sempat menghubungi Nia, Karena tadi jam kuliah Nalen full"Nalen mencoba mengutarakan alasan dia belum juga menghubungi adiknya
"Ya sudah, selesai makan kamu telephone dia, kenapa mama merasa khawatir dengan keadaan adikmu"Perintah Mamanya
"Ok bos, segera laksanakan"
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan Nalen setelah sarapan dia berusaha menelphone adiknya, namun sudah berulang kali tersambung dengan handphone Nia tetap tidak ada jawaban dari pemilik nomor telephone.
"Nggak ada jawaban" Ryasmi hanya bisa menarik nafas panjang ketika mendengar Nalen berbicara seperti itu, kemudian dia meminta Nalen untuk menelphone teman-temannya
"Coba Kamu telephone temannya saja Len" Ryasmi berbicara dengan sedikit lemah
"Telephone siapa Ma, Nia saja nggak punya teman kalau di sekolah" Jawab Nalen frustasi, mengingat adiknya sangat sulit untuk memiliki teman yang sangat akrab dari dulu hingga sekarang
"Telephone Lucky saja, bukannya dia juga ikut kegiatan itu?"Ryasmi memeberi usul untuk menelphone Lucky karena dia benar-benar ingin tahu kabar dari anak gadisnya yang sedang ke luar kota
Nalen mencari kontak yang tersimpan di dalam memori handphonenya, tidak butuh waktu lama nama yang dicari sudah terpampang pada layar depan handphonnya serta langsung mending nomor tersebut. Dari seberang sana terdengar suara seseorang yang menyapa
"Halo, assalamu'alaikum Nalen" Suara Lucky mulai terdengar di telinga Nalen
"Wa'alaikum salam" Nalen menjawab singkat sebelum mereka melanjutkan mengobrol
"Ada apa, tumben pagi-pagi sudah telephone gue, kangen ya....?" Lucky sedikit bercanda dengan sahabat kecilnya
"Idiiih, jangan kepedean deh, noh nyokap lagi nyariin anak gadisnya"
"Kenapa nggak langsung telephone ke nomor Nia saja?" Tanya Lucky penasaran
"Sudah, tapi nggak ada jawaban"
Lucky menceritakan kejadian yang kemarin dialami oleh Nia, dan mengatakan kalau hari ini mereka sibuk, mungkin tidak akan bisa lagi memegang handphone selama kegiatan belum selesai.
"Apa lo bilang? Siapa yang berani mengganggu adik gue" Kata-kata Nalen membuat orang tuanya kaget dan mereka berkata "Ada masalah?"
Nalen gelagapan mendengar pertanyaan itu, dia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir kemudia Nalen meminta Lucky untuk bisa mengawasi dan melindungi adiknya selama berada di sana, dia tidak bisa Terima jika adiknya diperlakukan seperti itu
__ADS_1
"Ok, gue akan buat perhitungan dengan siapapun yang berani mengganggu adik gue"