CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
77


__ADS_3

Nara menjadi sangat penasaran dengan reaksi Lucky kalau itu yang mendengar langsung ada cowok lain yang mengutarakan perasaannya kepada kekasihnya, tidak hanya kekasih bahkan tunangannya.


"Lalu reaksi Lucky bagaimana" Nia mengingat lagi kejadian malam itu


"Nia tidak berani melihat wajah Kak Lucky, handphone Nia langsung diambil sama Kak Lucky dan di bawa pergi dari hadapan Lucky, entah mereka ngobrol apa sampai sekarang Nia tidak berani bertanya kepada Kak Lucky" Nara sedikit kecewa mendengar jawaban Nia, padahal awalnya dia berharap Lucky akan memaki-maki Pandu namun kenyataannya di luar dugaannya


****


Di sebuah kamar yang terletak di lantai dua, meskipun Nana sendirian tetapi dia tidak kesepian karena setiap jam ada yang memantaunya dengan melakukan panggilan, entah itu penting atau tidak penting tetap saja mereka berulang kali menelpon Nana, awalnya dia merasa takut jika berada di lantai dua sendirian, namun karena selalu ada yang menelponnya dia tidak merasakan apapun yang ada hanyalah rasa jengkel yang diakibatkan sang penelpon yang selalu menanyakan ini dan itu.


"Sudah gue bilang, jangan sering menelpon, gue gerah dengar suara lo yang cempreng itu lagian dengan ataupun tanpa lo suruh gue juga akan ngelakuinnya, meskipun bukan karena desakan dari lo, tapi gue punya perhitungan sendiri, kapan gue akan beraksi, sekali lagi lo mengancam, gue bakal ngebongkar semuanya kepada mereka" Nana sangat geram mendengar ocehan penelpon yang selalu mendesaknya untuk segera melakukan sesuatu


"Dasar mak Lampir, memangnya gue apaan, dengan seenaknya memerintah gue, meskipun gue adik lo, gue juga punya perasaan dan pendirian" Gerutu Nana setelah mematikan panggilan telepon


Nana saat ini bergelut dengan fikirannya antara melaksanakan perintah saudaranya atau berdasarkan hati nuraninya, sebenarnya Nana tidak enak jika harus berurusan lagi dengan Nia, karena dia sudah berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya yang dulu, namun disisi lain dia juga mendapat ancaman dari saudaranya, meskipun dia tadi seperti berani membantah namun dia masih harus berfikir ulang jika harus memberontaknya. Selain itu dia juga masih berharap mampu menarik perhatian cowok yang selama ini dia kagumi.


"Huh.... gue harus bagaimana, semua serba salah, bagaimana caranya agar mereka bisa berpisah? sedangkan mereka kemanapun selalu berdua, gue harus mikirin matang-matang sebelum bertindak"


Lelah berfikir, tindakan apa yang akan dilakukan Nana malah terlelap dalam tidurnya dengan suasana yang sunyi dan juga dengan sirkulasi udara yang sejuk masuk ke dalam kamar melalui celah jendela menambah rasa nyaman di dalam kamar yang semakin mengayun dalam mimpi yang indah.


****

__ADS_1


Hari-hari berlalu dengan kegiatan yang itu-itu saja membuat mereka jenuh. Di hari terakhir menginap di villa, mereka merencanakan akan berpesta ria semalaman hingga pagi menjelang, dengan mempersiapkan berbagai macam bahan makanan yang dibeli dari warga sekitar villa serta masih ada beberapa makanan siap saji yang mereka bawa dari kota.


Ketika malam menjelang semua makanan di keluarkan dari kulkas dapur dan membawanya ke halaman belakang yang biasa mereka gunakan untuk berkumpul diwaktu malam meskipun hanya sekedar bercengkerama dan ngobrol yang tidak jelas.


Setelah semua terkumpul mereka bersama-sama bahu membahu menyiapkan segala keperluan hingga pukul sembilan semua sudah selesai dan tinggal mengolahnya sesuai dengan keinginan masing-masing, ada yang di bakar, digoreng bahkan ada yang direbus meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama, semuanya merasa bahagia bisa bergotong royong dan akhirnya menikmati hasil kerja bersama-sama diselingi dengan canda dan gurauan satu dengan yang lainnya, bahkan mereka saling meledek dan menceritakan kejelekan sahabat mereka.


"Wah, malam ini benar-benar berkesan" Seloroh Vicky ketika perutnya telah kenyang


"Iya, rasanya gue besok belum ingin pulang, beban terasa melayang" Danny ikut menimpali


"Kalau lo nggak mau pulang, memangnya tidak mau sekolah, ingat bentar lagi ujian" Lucky juga ikut berkomentar


Karena merasa lelah dan ngantuk berat serta badan terasa sakit, Nia berpamitan untuk istirahat terlebih dahulu. Matanya yang kian lengket membuatnya hanya kuat berjalan sampai di sofa ruang tamu dia langsung merebahkan diri di sana.


Mereka asyik mengobrol hingga larut malam, badan Nia semakin menggigil kedinginan tanpa ada yang tahu keadaannya, hingga Lucky masuk ke dalam villa untuk mengambil beberapa minuman yang sudah mereka beli dan mendapati Nia dalam keadaan menggigil tanpa ada yang mengetahui dan membantunya.


Dengan sedikit panik, Lucky langsung berlari menghampiri Nia yang terbaring di sofa serta menyelimutinya memakai jaket yang dia pakai. Beberapa kali menepukkan tangannya ke pipi Nia agar terbangun namun usahanya tidak membuahkan hasil. Diangkatnya tubuh Nia untuk dipindahkan ke dalam kamar, sebelum berlari ke kamar Lucky sempat berteriak minta tolong ke teman-temannya namun tidak ada yang mendengarnya, semua masih terlarut dalam obrolan.


Ketika mengangkat Nia dan hampir sampai di dekat ranjang, Lucky mengalami sedikit kesulitan ketika ingin meletakkannya di atas ranjang, posisi Lucky yang terbalik membuatnya harus naik ke ranjang dan dengan hati-hati dan menunduk dia meletakkan Nia untuk dibaringkan, namun setelah membaringkan Nia dan belum sempat dia menarik tangannya tiba-tiba Nan teriak minta tolong dan mengagetkan semua yang ada di luar


"Tolong...... " Teriak Nana berulang kali

__ADS_1


"Ada apa...." semua orang menghampiri Nana yang berada di dekat sofa yang terletak di depan pintu kamar Nia


Namun semua mata tertuju ke dalam sebuah kamar yang ada di depan, mereka melihat pemandangan yang menurutnya tidak bersusila, keadaan dimana Nia berbaring dan Lucky berada di atas ranjang yang sama dalam keadaan menunduk, yang membuat semua salah paham.


Nalen sebagai kakak kandung Nia menjadi naik pitam dan langsung menghajar Lucky yang tidak tahu menahu apa alasannya. Bahkan yang dihajar hanya diam tanpa membalas sedikitpun, kalaupun dia membalas, dia juga merasa tidak enak


"Lo, apaan sih Sya, benar lo sudah mendapat restu dari orang tua kita, tapi tidak sepantasnya lo berbuat seperti itu" Beberapa kali kepalan tangan Nalen mengenai muka Lucky hingga Nalen merasa capek baru berhenti, dia juga masih memiliki rasa iba jika harus melukai sahabat sekaligus kekasih adiknya yang sudah mendapatkan restu orang tua


Dengan napas terengah-engah Nalen berkata lagi "Lo harus bertanggung jawab atas semua yang lo perbuat ke adik gue, dan segera mungkin gue akan bilang ke nyokap bokap" Lucky kaget mendengar apa yang diucapkan Nalen


"Memangnya gue berbuat apa?" Karena merasa tidak berbuat apapun, Lucky berani membantah perkataan Nalen


"Lo bilang berbuat apa, lo berada di atas ranjang adik gue dalam keadaan adik gue tertidur, dan lagi mana jaket lo..." Melihat jaket yang tadi dipakai Lucky sudah tidak menempel di badannya membuat emosi Nalen meningkat lagi


"Jaket gue... " Lucky menunjuk ke badan Nia dan di sanalah jaketnya berada


"Sekarang lo jelasin semuanya" Perintah Nalen


"Yang jelas, saat ini Nia butuh bantuan kita, segera telpon dokter untuk memeriksanya" Lucky masih mencoba mengendalikan emosinya


"Lo jangan cari-cari alasan" Bentak Nalen

__ADS_1


"Kalau lo tidak percaya lo bisa lihat adik kesayangan lo yang manjanya minta ampun itu" Lucky sudah tidak tahan lagi dengan ucapan Nalen


__ADS_2