CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
114


__ADS_3

Lucky dan Nalen malam ini terpaksa harus menginap di rumah sakit untuk menemani Nia yang masih terbaring lemah. Sedangkan Pandu harus pulang karena dia memang tidak seharusnya di sana, dia butuh istirahat untuk menyelesaikan semua bisnisnya.


Lucky dan Nalen berada di dalam ruang rawat inap milik Nia, mereka membicarakan kejadian yang menimpa Nia siang ini yang membuat dia terbaring lemah.


"Menurutmu siapa yang melakukan semua ini?" Nalen bertanya kepada Lucky yang kini duduk di sofa berseberangan dengannya


"Gue juga belum mendapatkan pandangan, siapa yang sudah berani melakukan ini terhadapnya" Lucky terlihat frustasi melihat kekasihnya dan dia tidak berada disampingnya


"Kak, Nia haus" Suara Nia yang lemah memecahkan keheningan diantara mereka bertiga


Lucky bergegas mengambil gelas berisi air putih yang tersedia di meja dengan cekatan. Membantu Nia untuk bangun dan sedikit menyesap gelas yang berada di tangannya.


Melihat adiknya yang sudah terlihat segar dan tidak memejamkan matanya lagi, Nalen menanyakan apa yang sebenarnya terjadi siang ini.


"Dik, mengapa bisa seperti ini, memangnya kamu tadi makan apa?" Tanya Nalen sedikit geram, karena dia mengira adiknya makan sembarangan


"Nia hanya makan...." Belum selesai Nia bicara langsung dipotong oleh Nalen


"Makan apa Dik?"


"Tadi di pesanan Nia ada yang menambahkan menu yang tidak Nia pesan, karena menurut Nia mungkin kesalahan aku, jadi tidak ada masalah dan Nia habiskan, toh yang bayar tagihan juga Nia" Itu semua menurut pemikiran Nia

__ADS_1


"Kalau begitu biar gue yang mendatangi restoran itu dan menanyakan siapa yang memesannya" Lucky bergegas meninggalkan ruang rawat Nia dan mengambil mobilnya yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar rumah sakit


Lucky menyusuri jalanan ke arah restoran dekat kampus Nalen, lalu lintas yang cukup ramai membuat perjalanan Lucky memakan waktu yang lebih lama, mengingat saat ini akhir minggu yang dimanfaatkan oleh banyak orang untuk berjalan-jalan sekedar menikmati angin malam.


Sampai di parkiran sebuah restoran, Lucky menghubungi Danny dan Vicky untuk menemaninya masuk ke sana. Bukannya Lucky tidak bisa menyelesaikan sendiri apa yang dibutuhkan, namun alangkah baiknya jika dia melakukannya dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Karena Lucky tidak mengenal siapa pemilik restoran ini. Seandainya dia tahu siapa pemiliknya, bukan hal mustahil untuknua mendapatkan segala hal mengenai informasi yang menimpa Nia di restoran ini.


Vicky dan Danny berboncengan menuju ke restoran yang sudah mereka sepakati bersama Lucky. Sebelum berangkat mereka mengobrol sedikit mengenai permintaan Lucky yang tidak biasa, menemaninya mendatangi sebuah restoran. Hal yang mustahil jika hanya untuk sekedar makan saja.


"Sebenarnya kejadian apa, hingga kita harus menuju ke sana, bukannya kita lebih baik ke restoran miliknya kalau hanya sekedar makan dan membicarakan perihal yang menimpa Nia siang ini?" Danny sedikit kesal harus ke restoran yang belum pernah dia datangi dan belum pernah merasakan bagaimana menu yang tersaji di sana


"Dengar-dengar ada yang berusaha mencelakai Nia di sana, cepat naik... biar tidak terkena dampr*t Lucky" Vicky meminta Danny segera naik ke motornya ketika dia sudah melihat Danny selesai memakai helm


Mereka bergegas menuju tempat yang sudah ditentukan oleh Lucky untuk bertemu. Parkiran restoran menjadi tempat mereka membuat janji bertemu terlebih dahulu sebelum melanjutkan rencana yang sudah mereka sepakati sebelumnya.


Jalanan cukup padat, hingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mereka sampai di tempat tujuan. Mencari tempat parkir dan segera mencari keberadaan Lucky yang sudah sejak tadi menelpon terus-terusan. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka melihat sesosok yang sangat mereka kenal sedang bersandar pada dinding dengan mengangkat satu kakinya sambil menengok kanan kiri berulang kali pertanda dia sedang banyak fikiran.


"Hai, santai sedikit bisa tidak, muka sudah seperti cucian belum disetlika" Vicky menepuk pundak Lucky yang tidak memperhatikan ke arahnya


"Kalian mampir kemana, gue hampir lumutan menunggu kalian di sini" Lucky menggerutu dengan kedua sahabatnya pasalnya dia sudah menunggu cukup lama


"Tenang...., kami sudah sampai. Sebenarnya kita di suruh ke sini ada acara apa?" Danny ikut nimbrung

__ADS_1


"Kalian ikut gue masuk dulu, nanti akan gue ceritain di dalam" Lucky menarik kedua sahabatnya untuk masuk ke restoran dan memeaan beberapa makanann kuyyya yang cukup menarik perhatian mereka


Selesai memesan makanan dan minuman mereka duduk pada sebuah meja yang berada di pojok restoran dan sedikit terpisah agak jauh dengan meja-meja yang lain.


"Apakah kalian tahu siapa pemilik restoran ini?" Lucky bertanya kepada kedua sahabatnya ditengah menunggu pesanan mereka.


"Memangnya kamu tidak tahu siapa pemiliknya, bukannya sesama pemilik restoran harusnya saling kenal?" Danny menjawab santai pertanyaan Lucky


"Apakah ada undang-undang yang mengharuskan pemilik restoran harus saling kenal?" Lucky bertanya balik


"Bukannya begitu Luck, biasanya nih ya.... orang yang memiliki usaha yang sama mereka membuat perkumpulan sendiri, apakah di bidang makanan seperti kalian tidak ada semacam itu?" Danny juga penasaran dengan jalannya bisnis yang digeluti oleh sahabatnya


"Gue kurang tahu, biasanya yang ikut acara seperti itu cuma manajer saja, sedangkan pemilik jarang terjun langsung" Lucky memberikan jawaban


"Kalau seperi itu kenyataannya, mengapa Lo tidak tanya ke manajermu saja, malah bertanya kepada kita, mana tahu?" Lucky sedikit geram dengan candaan sahabat-sahabatnya


"Gue tidak mau membawa nama manajer ataupun restoran gue untuk hal semacam ini, kita harus bergerak dengan nama kita sendiri, untuk menjaga kelangsungan usaha" Lucky menyebutkan alasannya mengapa tidak mau meminta bantuan manajer restorannya


"Lalu apa yang harus gue bantu untuk Lo....?" Danny mulai mengerti posisi Lucky saat ini


"Gue punya rencana...."

__ADS_1


__ADS_2