
"Ah sial.... kenapa tuh cewek ada di sini" Lucky mengumpat dalam hati namun dia masih bersikap dingin dan berjalan dengan santai menghampiri sang pemilik suara.
Kedua temannya bingung mengapa Lucky menghampiri cewek itu, padahal dia tidak memanggilnya.
"He, bro ngapain kita nyamperin mereka, lo mau nyari cewek?" Tanya Vicky penasaran
"Lo udah tuli ya, memangnya lo gak dengar dia tadi manggil gue?"
Berjalan dengan malas Lucky menghampiri teman SMPnya dulu, meskipun sebenarnya dia tidak menyukainya namun tidak baik juga ketika harus mengecewakannya, karena sudah sejak mereka lulus belum pernah bertemu lagi.
"Sini Luck, gue kenalin teman-temanku" dengan riangnya Manda menarik sebuah kursi disampingnya dan meminta Lucky untuk duduk di sana
Namun dengan santainya Lucky meminta Vicky untuk duduk di sana, dan Lucky memilih duduk diseberang Manda. Manda tidak mempermasalahkan hal itu, malah dia berfikir kalau Lucky ingin melihat kecantikannya dari depan secara langsung. Padahal di dalam hati Lucky ingin menjaga jarak dengan dia karena Lucky merasa ilfeel dengan tingkah laku Manda.
Untuk mengurangi rasa canggung Lucky memilih menyapu seluruh ruangan dengan matanya mencari tempat yang sekiranya sudah mau ditinggalkan oleh pelanggan yang lain. Setelah menemukan kursi kosong Lucky bergegas meninggalkan teman SMPnya itu.
"Maaf sebelumnya, sepertinya kami akan pindah ke kursi lain saja, kebetulan di sebelah sana ada kursi kosong" Lucky berbicara dengan nada sopan biar tidak menyinggung Manda
"Bukan bermaksud untuk tidak sopan, tapi kami ke sini untuk membicarakan sesuatu, jadi tidak mungkin jika kami tetap di sini." Lanjut Lucky dengan sedikit alasan
"Oh OK, gue juga sudah mau pulang kok." sebenarnya Manda tidak rela jika Lucky pindah meja, tapi tidak mungkin juga memintanya untuk tetap tinggal
Lucky dan teman-temannya pindah ke meja yang kosong. Ketika mereka menuju ke kursi Lucky dikagetkan dengan suara seseorang yang menggumamkan namanya
"Rasya" Gumam seseorang
Lucky mengamati orang yang berada di sekelilingnya mencari asal suara yang menggumamkan namanya karena hanya teman-teman dekatnya dulu yang memanggil dengan nama itu.
Dari belakang seseorang mengagetkannya dengan menepuk bahunya dengan cukup keras. Lucky telah bersiao memukuk orang yang telah mengagetkannya dengan berbalik badan, namun dengan cekatan pula orang yang mengagetkannya menghindar. Bahkan saat ini Lucky benar-benar dibuat kaget dengan apa yang ada dihadapannya saat ini. Lucky langsung memeluknya dengan cukup erat dan berucap dengan nada kesal namun juga bahagia
__ADS_1
"Gak ada cara lain apa selain ngagetin orang?"
"Sorry, ngagetin lo"
"Sendirian saja?" Tanya Lucky sambil mencari-cari seseorang
"Enggak, gue berdua tapi dia baru ke toilet, mungkin bentar lagi balik ke sini" Nalen menerangkan dengan panjang lebar
"Oh..." Namun Lucky hanya menjawab singkat
"Sudah kangen ya lo, sudah lama juga kalian tidak ketemu" Ejek Nalen
"Mana ada, gue kangen sama dia, yang ada kita berantem mulu kalau ketemu" Sanggah Lucky karena dia tidak ingin diketahui siapapun kalau sebenarnya dia sangat menyukai Rasya adik Nalen yang tak lain sebenarnya adalah Nia yang selama ini menjadi adik kelasnya.
Dari kejauhan setelah keluar dari -toilet Nia ingin kembali ke meja yang dia duduki dengan kakaknya tadi, namun dia mengurungkan niatnya karena melihat kakak kelasnya mengobrol dengan kakaknya. Akhirnya Nia memutuskan u.??ntuk langsung menuju tempat paUccfuicrkir dimana mobil yang mereka bawa tadi terparkir dan memutuskan untuk menelpon Nalen.
"Halo" Nalen menjawab telepon dari seberang"Ada apa? Cepetan lo ke sini dicariin sama seseorang"Lanjut Nalen
"Ngapain sih lo, kesambet di toilet ya...."
"Kakak.... nggak usah ngaco deh yang penting cepat balik" Perintah Nia
"Ok, lo tunggu di situ ya adik kakak yang paling cantik....."
Nalen memutuskan untuk segera menghampiri adik satu-satunya itu, karena dia tidak ingin adiknya lebih marah lagi. Nalen pamit pada Rasya dan teman-temannya.
"Sya, maaf ya kayaknya lo belum beruntung untuk bisa ketemu dia, nggak tahu kenapa dia marah-marah dan minta segera pulang bahkan dia sekarang sudah di parkiran" Nalen tidak enak hati karena harus meninggalkan teman bermainnya waktu kecil
"Oh, nggak apa-apa mungkin lain kali bisa bertemu, Sampaikan salamku untuknya Len."
__ADS_1
Nalen segera meluncur ke parkiran dan menghampiri adiknya. Nia mulai cemberut melihat kedatangan kakaknya yang sedikit berlari kecil. Dirogoh sakunya untuk mengambil kunci mobilnya yang dia simpan di sana. Setelah didapatnya langsung dibukanya pintu mobilnya.
Nia masuk dan dibandingkan pintu itu dengan cukup keras, sampai-sampai Nalen terperanjat karena kaget. Pengunjung yang berada di sana juga banyak yang memperhatikan kelakuan mereka.
"Pacarnya marah ya mas.... " Tanya seorang pengunjung."Memang seperti itu mas cewek kalau marah. Mas yang sabar ya...."Lanjutnya
"Iya mas, makasih sarannya" Nalen berucap Sambil berlalu masuk ke dalam mobil
Diperhatikannya sang adik yang masih saja cemberut tanpa ada keinginan untuk bertanya terlebih dahulu. Nalen lebih baik menunggu sang adik bersuara terlebih dahulu dari pada dia yang lebih dulu bertanya karena efeknya bisa panjang kalau dia yang memulai pembicaraan.
Setelah beberapa menit mobil melaju di jalanan yang cukup ramai Nia mulai membuka suara dan bertanya kepada kakaknya.
"Kakak tadi bicara dengan siapa, kok kelihatannya akrab banget....?" Nia mulai penasaran
"Mau tahu atau mau tahu banget nih....." Goda Nalen
"Apaan sih kakak, Nia cuma penasaran saja baru juga Nia tinggal ke toilet bentar, sudah ada teman ngobrol" sungut Nia
"Cuma teman.... " belum juga Nalen menyelesaikan pembicaraannya Nia memotongnya
"Eh, kak makasih ya untuk hari ini, kakak telah mengajak Nia keluar dan jalan-jalan, Kakakku emang the best deh...."
"Iya..... Sama-sama adikku.... apa sih yang enggak buat lo"
"Idih.... mulai dah tu kepala mulai ngembang"
Sebenarnya Nalen ingin bilang seseorang yang ia jumpai di meja mereka tadi adalah Rasya teman main mereka waktu masih kecil. Karena melihat mood adiknya yang kurang bagus Nalen menguringkan niatnya itu, mungkin beberapa hari ke depan mereka bisa ketemu langsung di rumah mereka. Karena sebelum berpisah tadi Rasya berniat untuk main dan menjenguk ayah Nalen yang mengalami kecelakaan.
Di sepanjang perjalanan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, Nia masih sangat jengkel mengapa bisa bertemu dengan kakak kelasnya di sana, Sedangkan Nalen masih sedikit kepikiran mengenai keadaan orang tuanya saat ini, meskipun Mamanya sudah menelpon dan berkata semua dalam keadaan baik, namun masih ada rasa sedikit khawatir sebelum mereka bertemu langsung.
__ADS_1
"Awas kakak..... " Nia berteriak sekuat tenaga