CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
139


__ADS_3

Puas melihat-lihat unit yang akan dibeli, Lucky meminta pendapat Nia "Sayang, bagaimana menurutmu?"


"Ikut Kakak saja bagaimana baiknya, karena Nia juga tidak paham dengan investasi" Nia yang masih buta dengan investasi memilih menyerahkan semua keputusan di tangan Lucky, lagi pula Lucky yang akan membayarnya


"Kalau menurut saya, nilai investasi unit ini sangat menjanjikan, selain letaknya yang cukup strategis, juga memiliki pemandangan yang menyedapkan mata baik itu di waktu pagi maupun malam hari, yang merupakan nilai lebih dari unit ini dibandingkan dengan unit-unit lain. Lagi pula cocok buat kalian yang masih usia muda" Pimpinan pemasaran memberikan saran


"Baik Pak, kami mengambil unit ini" Lucky yang dari awal sudah sangat jatuh cinta dengan unit tersebut segera mengiyakan untuk membayarnya


"Kalau memang sudah mantap, mari kita selesaikan seluruh pengalihan unit di kantor kami"


Mereka bertiga menuju kantor pemasaran untuk menyelesaikan administrasi pembayaran sampai penyerahan surat-surat penting lainnya.


"Kalian bisa langsung menempatinya malam ini, kunci kami serahkan beserta semua berkas kepemilikan"


"Terima kasih Pak" Lucky sangat bahagia bisa mendapatkan unit yang banyak diminati orang lain, namun kini sudah berada di tangannya


Malam sudah mulai menjelang, mereka pulang ke kediaman keluarga Lucky dan berencana mengunjungi orang tua Nia untuk mengambil baju dan buku milik Nia sekaligus untuk berpamitan kepada mereka karena mereka memilih pindah ke apartemen baru mereka.


"Sayang, baju-baju tidak usah dibawa semua saja. Bawa secukupnya dan biarkan sebagian di sini, jika nanti kita ke sini biar tidak repot-repot membawa baju lagi"


Selesai mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa ke apartemen, Lucky dan Nia menikmati malam dengan duduk di balkon kamar disertai menikmati makanan ringan yang dibeli ketika perjalanan pulang.


"Sayang, bisa minta tolong tidak?" Nia menoleh ke arah suaminya dan menjawab dengan anggukan


"Kamu bisa mendekat ke sini tidak, biar Kakak bisikin"Nia berjalan mendekat ke arah kursi suaminya dan dalam waktu sekejap tangan Nia ditarik oleh Lucky, karena tidak ada kesiapan tetap saja badan Nia oleng dan tidak bisa menahnya untuk tetap berdiri yang mengakibatkan kini dirinya sudah berada dalam pangk*an Lucky.


"Kakak, lepasin tidak? Nia geli kalau harus berada dalam posisi ini" Namun Lucky tidak mau melepas tangannya yang kini dengan erat berada di pinggang istrinya dan meletakkan kepadanya di bahu Nia

__ADS_1


"Kakak ingin seperti ini dulu, sebentar saja. Kita nikmati kebersamaan kita malam ini" Nia merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya, ada rasa desiran di sana yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, yang ada hanya rasa nyaman serta tidak ingin dilepaskan


Merasa Nia sudah tidak menolah untuk dipel*uk, Lucky semakin mengeratkan tangannya, Tidak mau berdiam saja kini tangan Lucky sudah mulai aktif ke sana ke mari disertai bibirnya yang mulai menyusuri tengkuk milik Nia dan meninggalkan gigitan kecil.


"Kak, yang sekarang Nia duduki apa? Mengapa ada sesuatu yang keras dan bergerak?" Lucky tidak bisa menjawabnya karena sedang menikmati apa yang sedang dia lakukan, namun setelah sadar dia menjawab "Apakah kamu ingin tahu?" Nia mengangguk dengan cepat dan mulai berdiri dan berusaha untuk melihat apa yang dia duduki tadi.


"Jangan sembarangan memegang Say*ng, takutnya nanti gerakannya semakin hebat, yang ada nanti kita tidak bisa mengendalikannya"


"Jangan membuat Nia semakin penasaran Kak, cepat perlihatkan" Nia sangat penasaran dan ingin segera melihatnya


"Kalau kamu melihatnya pasti sangat menyukainya"


"Apaan sih Kak"


Lucky memperlihatkan sebuah mainan kucing berbentuk ikan yang sejak tadi berada di saku celananya dan belum sempat memberikan kepada kucing kesayangannya, karena tertindih Nia yang berada di atasnya membuat tombolnya tertekan dan bergerak


"Mengapa Bunda senyum-senyum sendiri?" Pras yang melihat istrinya tersenyum tanpa sebab membuatnya ingin tahu apa yang membuatnya kini terlihat bahagia


"Bunda sedang membayangkan jika sebentar lagi kita mempunyai cucu yang lucu-lucu"


"Bunda jangan kejauhan mimpinya, Bunda tahu kalau Nia saat ini masih harus menyelesaikan sekolahnya, jadi tidak mungkin dalam waktu dekat bisa hamil" Pras yang sudah mengetahui rencana istrinya berpesan jangan terlalu berharap yang lebih


"Kita bisa segera menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan saja sudah bersyukur, jangan meminta lebih dalam waktu dekat, takutnya nanti kamu malah kecewa"


"Bukan begitu Yah, tapi Bunda dengar mereka sedang membicarakan sesuatu yang bergerak sendiri, kalau bukan itunya Lucky apa lagi Yah..."


"Hust, sembarangan kalau mereka dengar pasti sangat malu, lebih baik kita keluar mencari angin, biarkan mereka di rumah berdua, jangan lupa ajak mbak Sri juga, kasian sudah lama dia tidak bisa keluar rumah" Pras mengajak istrinya untuk keluar mencari angin sekaligus makanan

__ADS_1


Menuju ke sebuah warung yang terletak di pinggir jalan dan menjual makanan rumahan yang menarik Pras dan Rahma untuk mencicipinya


"Sepertinya makanan di sini enak, coba Bunda lihat semua makanan yang tersaji makanan tradisional, sudah lama Ayah tidak menemukan makanan-makanan seperti itu"


Pras memesan Tiwul dan gatot yang merupakan makanan tradisional khas Indonesia. Dia sangat menikmatnya meskipun hanya ditaburi kelapa parut, namun rasanya yang khas membuat dirinya merasa seperti sedang pulang ke kampung halaman.


"Selamat malam Om, Tante" Seorang anak remaja yang berkisar seusia dengan Lucky menyapa Pras da Rahma yang sedang fokus menikmati makanan di hadapannya


"Selamat malam, kamu siapa?" Pras yang merasa tidak kenal mengira anak itu salam mengensli orang


"Saya Andi Om, teman Rasya waktu SMP dulu bahkan dulu saya sering ke rumah Om hantabinin bermain dengan Rasya


"Oh iya, Om ingat. Bagaimana kabarmu?"Pras mengingat dulu ada teman Lucky yang selalu datang ke rumahnya untuk bermain dan belajar dengan Lucky


"Baik Om, bagaimana dengan Om, Tante dan Rasya?"


"Kami dalam keadaan sehat, bahkan kami saat ini bahagia, karena anak kami Rasya sudah resmi menikah"


"Menikah?" Andi kaget mendengar bahwasannya Lucky sudah menikah "Kapan Om? Mengapa tidak ada undangan untuk saya?"


"Sebenarnya acaranya sangat mendadak dan mereka harus segera dinikahkan"


"Apakah mereka sudah melakukan sesuatu hal yang di larang?"


"Bukan, bukan seperti itu, mereka tidak melakukan hal-hal aneh"


Mereka berbincang-bincang sejenak sebelum Andi berpamitan karena hari sudah cukup malam dan harus segera pulang

__ADS_1


__ADS_2