CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
32


__ADS_3

"Kapan gue mutusin untuk membantu lo?!" Gadis itu bertanya-tanya


"Nama lo, no telephone" Todong Nalen tanpa basa-basi


Dongkol, pasti itulah yang kini dirasakan gadis imut itu, bisa-bisanya ada orang minta nomor dengan angkuh. terpaksa dia meminta handphone Nalen dan mengetiknya di sana, setelah selesai dia meninggalkan Nalen seorang diri tanpa pamit.


******


Ketika melewati rintangan yang airnya begitu deras dengan sengaja Sonya yang berada di belakang Nia berusaha menarik bajunya dengan menggunakan dayungnya, sehingga membuat Nia terjatuh dari perahu dan terkena bebatuan yang begitu banyak. Untung sang instruktur langsung. bergerak cepat untuk melakukan pertolongan, dengan sedikit panik Nia berterial minta tolong, berulang kali juga instruktur meneriakinya tidak boleh panik.


"Tolong jangan panik, kami akan segera menolongmu" Teriak instruktur yang bergegas masuk ke air setelah memastikan perahu yang dia bawa terkendali dan berada pada tempat yang aman dan dibawah pengawasan instruktur lain. Dengan saling membantu, Nia akhirnya bisa naik lagi ke perahu dengan luka-luka baret di tangan dan kakinya akibat terkena hantaman bebatuan.


Instruktur tidaknhabis pikir, mengapa ada orang seperti itu, namun dia hanya diam saja dan tidak berani untuk menegurnya, dia hanya bisa memindahkan Nia ke perahu yang lainnya.


"Tolong kamu pindah ke perahu yang itu saja" Instruktur memerintahkan pada Nia


"Tapi Pak, saya nggak mau pisah dengan sahabat saya" Nia merasa keberatan untuk meninggalkan perahunya


Instruktur itu kaget, Nia masih menyebut mereka sahabatnya padahal jelas-jelas salah satu dari mereka dengan sengaja ingin mencelakai dirinya.


"Maaf ya Nia, gue tadi nggak sengaja, kepala dayungku tersangkut di bajumu" Ucap Sonya dengan muka yang sok polos dan merasa tidak berdosa.


"Iya nggak apa-apa, santai saja, lagian gue juga nggak sakit kok" Dalam hati Sonya bersorak kegirangan karena Nia tidak curiga sama sekali.


Kali ini dia berhasil mencelakai Nia meskipun hanya dengan sedikit luka, tapi ada satu luka yang mungkin tidak akan pernah hilang bekasnya, namun untungnya luka tersebut ada di lututnya, jadi dia nggak akan malu apabila bertemu seseorang.

__ADS_1


"Sial kenapa tidak di wajahnya sih luka itu"Meskipun sudah berhasil melukai Nia, namun dia masih belum puas dengan hasil kerjanya saat ini


"Ok, akan gue buat lebih sakit dari ini" Sonya mulai memikirkan apa yang akan dia perbuat lagi untuk memberi pelajaran kepada Nia


Bukannya Nia tidak tahu kejadian yang menimpanya memang sengaja dilakukan Sonya, namun dia tidak memiliki bukti kuat untuk menuduhnya lagi pula alasan apa yang membuat Sonya berlaku kasar seperti itu kepadanya, Nia merasa bahwa dirinya tidak pernah menyentuhnya bahkan kenal saja baru disaat mereka sampai dipenginapan pada waktu penentuan kamar.


Selesai rafting,siswa naik ke dataran yang lebih tinggi untuk beristirahat barang sebentar sambil menunggu siswa lain yang sedang menyelesaikannya. Kebetulan kelas Nia masuk ke air lebih dahulu, jadi dia juga naik terlebih dahulu


Nia sudah naik ke daratan dan kini sedang menuju tempat penginapan kembali untuk membersihkan badan dan juga melaksanakan kewajiban yang sudah sedikit terlambat. Dengan bergantian masuk ke kamar mandi. Nia memilih masuk kamar mandi paling awal karena yang lain beralasan ingin istirahat terlebih dahulu, hal itu tidak disia-siakan oleh Nia. Setelah mandi dia berencana keluar untuk mencari sesuatu untuk dimakan serta ingin membeli obat oles untuk mengobati lukanya yang sudah mulai agak perih.


Keluar kamar dan berjalan meninggalkan penginapan mencari-cari lokasi apotik terdekat agar tidak terlalu capek untuk menuju ke sana, mau pakai ojek, dia juga memperhitungkan uang uang dia bawa tidak terlalu banyak.


Dari kejauhan Lucky dan kedua sahabatnya Danny dan Vicky berjalan menyusuri trotoar di luar penginapan, mereka sedang menikmati jajanan yang sedang dijajakan oleh penjual asongan yang mangkal dengan gerobak di dekat penginapan. Dari tadi Lucky memperhatikan Nia yang berjalan sendirian, seperti mencari-cari sesuatu dengan ponsel yang ada digenggamannya.


"Mau kemana?" Tanyanya dengan cepat


"Mau beli obat" Jawab Nia singkat


"Apotek?" Tanya Vicky lagi


"Ke warung bakso!"


"Mana ada obat di warung bakso?"


"Ada, obat laper." Jawab Nia sambil tertawa

__ADS_1


"Gue anterin ya...."Vicky mulai berjalan mensejajarkan langkah Nia


" Stop"teriak Nia "Gue mau jalan sendiri dan nggak butuh teman, kalau akhirnya hanya untuk nyakitin" Secara tersirat Nia mengeluarkan kekesalannya sedari tadi dan bahkan sampai saat ini belum ada tempatnya untuk mengeluarkan semuanya, kebetulan sekali Vicky memulainya, jadilah dia orang pertama yang mendapatkan ocehan Nia.


Nia adalah pribadi yang apabila memiliki teman akan benar-benar dia jaga, namun mengapa dengan kebaikannya itu hanya dimanfaatkan oleh orang lain untuk tujuan tertentu, meskipun dalam kejadian yang dialami beberapa waktu ini belum diketahui apa motifnya. Nia meyakini apa yang dialaminya saat ini ada tujuan yang tersirat


****


Sampai di apotik terdekat, Nia menyebutkan obat yang diinginkan, setelah membayarnya Nia bergegas meninggalkan apotik dan mampir ke sebuah kedai mie ayam, salah satu makanan favoritnya karena harganya yang sangat terjangkau.


"Mang, mienya satu es jeruk satu" Begitulah Nia memesan makanannya


"Ok Neng" Kebetulan kedai yang Nia datengin saat ini belum cukup ramai sehingga pesanannya dengan cepat tersaji di mejanya


Tanpa menunggu lama, Mie yang ada dihadapannya, dia nikmati dengan lahap. Selain baunya yang sangat menggoda tetapi juga karena cacing yang ada diperutnya sudah mulai demo untuk mendapatkan asupan. Di tengah menikmati mienya, handphonenya berdering.


"Hallo, Assalamu'alaikum Kakakku yang paling ganteng dan terbaik sedunia, apakah kakak sudah kangen dengan adikmu yang manis, cantik dan imut ini?" Cerocos Nia padahal di seberang sana belum menjawab salamnya


"Dek, kamu lagi ngapain?" Tanya Nalen


"Makan mie, kakak mau?? Kalau mau ntar Nia bungkusin deh, enak banget mienya"


"Boleh, tapi, sampai rumah mienya nggak boleh ngembang dan badi ya....." Begitulah candaan mereka berdua hingga larut dalam percakapan dan haripun mulai gelap. Nia masih berada di luar penginapan, padahal yang lain sudah mulai kumpul untuk makan malam.


Nia tersadar hati sudah mulai gelap dan mengakhiri obrolan dengan sang kakak, dengan langkah tergesa-gesa Nia meninggalkan kedai setelah membayar makanannya. Tanpa disadari dia menabrak sesuatu, entah dia yang menabrak atau ada yang sengaja menabraknya, karena seingatnya dia sudah berjalan di posisi yang benar, karena kejadian itu Nia terjatuh dan "Awh.... " Rintih Nia pelan "Siapa sih, nggak lihat jalan apa?" Nia mengomel tanpa melihat siapa yang menabraknya

__ADS_1


__ADS_2