
Sebelum kembali ke atas dengan membawa tas yang berisi uang, kedua orang yang mengikuti Lucky memastikan isi dari tas yang kini berada di tangan Lucky.
"Sekarang kita kembali ke atas" Perintah salah satunya dengan mendorong badan Lucky agar berjalan di depan sebagai antisipasi agar tidak melarikan diri
Mereka tidak menyadari jika di belakang mereka sudah ada beberapa orang yang bersiap membantu Lucky ketika mendapat komando. Mereka memasuki lantai dasar dan suasana begitu sepi, Lucky melancarkan aksinya dengan membalikkan badannya dan memutar tas yang berisi uang menyasar ke wajah kedua orang yang mengawalnya. Melihat aksi Lucky bantuan segera merapat dan membantu Lucky untuk melumpuhkan keduanya, berhasil melumpuhkan mereka, Lucky naik dengan diikuti oleh beberapa orang. Sepanjang jalan menuju ke lantai atas, ada penjaga yang siap menghaj*r Lucky jika berani berbuat onar. Mereka baru menyadari jika yang mengikuti Lucky saat ini bukan temannya, mereka mulai memberikan bogem mentah kepada Lucky dan temannya, namun lagi-lagi Lucky bisa melumpuhkan mereka.
Sampai di lantai atas, Lucky hanya ditemati oleh dua orang seperti pada waktu dia turun tadi namun yang membedakan kalau sekarang orang-orangnya Lucky. Melihat Lucky membawa tas besar di tangannya, ketua penculik tidak menyadari jika orang di belakang Lucky sudah berbeda orang, dia hanya fokus pada tas saja.
"Letakkan tas itu di sini" Ketua penculik memberi perintah kepada Lucky untuk meletakkan tas yang berisi uang di atas meja depannya
Mengingat di lantai ini masih banyak gerombolan penculik, Lucky mengikuti perintah Ketua penculik dan meletakkan tas di atas meja
"Buka tas itu" Salah satu penculik mendekat dan membuka tas dan mengeceknya. Setelah yakin isi dalam tas berupa uang, penculik itu mengacungkan kedua jempolnya tanpa menaruh curiga jika di lantai bawah sudah ada beberapa teman Lucky yang bersiap melakukan serangan.
"Sebelum kalian masuk ke dalam dan melepaskan mereka berdua, kalian harus berjanji tidak akan melaporkan kami ke polisi" Ketua penculik memberikan satu syarat
"Setuju, asal kalian bisa mengatakan siapa yang menjadi dalang atas semua kejadian ini" Lucky menyetujui untuk mengurangi terjadinya perkelahian lagi
"Kami tidak bisa mengatakan kepada kalian, karena kami juga punya etika yang harus kami pegang untuk tidak mengatakan kepada siapapun siapa yang ada di balik semua kejadian ini" Meskipun mereka penculik, tapi tetap tidak akan membocorkan siapa yang sudah memberi perintah karena sudah ada di dalam Perjanjian awal.
"Bagaimana bisa begitu, tapi kami membayar mahal kalian agar kami bisa mendapatkan informasi yang jelas" Lucky sedikit menaikkan suaranya yang sejak tadi sudah dia tahan
__ADS_1
"Maaf, kami juga dibayar untuk tidak membongkar kedok mereka, jadi kalau kalian ingin mengetahui siapa mereka, silakan tunggu sampai besok pagi"
"Mengapa harus besok pagi?"
"Karena mereka akan ke sini besok pagi, silakan atur sendiri bagaimana kalian bisa mendapatkan informasinya"
Uang sudah ditangan Ketua penculik, informasi akan segera Lucky dan kawan-kawannya dapatkan. Para penculik segera berkemas untuk meninggalkan gedung tua yang sudah lama tidak berpenghuni nan pengap. Rencana awal Lucky ingin menghabisi semua penculik, namun semua dia urungkan melihat gelagat dari para penculik yang begitu memegang prinsip dan juga telah memberikan sedikit petunjuk untuk mendapatkan siapa dalang dari tragedi penculikan.
Mereka membiarkan para penculik pergi dengan membawa uang yang telah diberikan.
Di dalam ruangan yang pengap Nia dan Pandu sedikit khawatir, karena mereka sempat mendengar ada keributan yang cukup keras di balik pintu, namun saat ini hanya hening yang tidak dapat mereka artikan.
"Kak, bukannya tadi di luar begitu gaduh, tapi mengapa sekarang sepertinya begitu hening?" Nia menajamkan pendengarannya untuk memastikan jika ada sedikit suara yang bisa menjadi petunjuk bagi mereka, namun hasilnya tetap nihil, dia tidak mendengar apapun dari balik pintu yang kini terkunci rapat
"Jangan-jangan ma... ma apa?" Nalen yang membuka pintu dan masuk mendekati Nia dibantu dengan cahaya senter dari handphone yang dia bawa memudahkannya menjangkau keberadaan adiknya saat ini
"Kamu siapa, hingga bisa berada di sini?" Lanjut Nalen bertanya kepada sosok cowok yang berada di samping adiknya
"Gue...."Belum selesai dia bicara lagi, Pandu kaget melihat sebuah adegan yang sangat menyakitkan hatinya terjadi di depan matanya langsung
"Dia bukan siapa-siapa, mungkin dia hanya seorang yang ingin disebut sebagai seorang dewa penolong" Sambar Lucky dengan ketus melihat keberadaan Pandu di samping Nia yang juga terikat
__ADS_1
"Jangan banyak bac*t lo" Pandu juga terprovokasi dengan perkataan Lucky yang sangat begitu kentara menyindirnya
"Lo anak kecil juga tidak berarti baginya bukan?" Pandu berkata demikian karena melihat Nia yang kini berada di pelukan Nalen dengan begitu erat dan kelihatan sorot mata Nia yang begitu bahagia
"Aku tidak butuh dengan berarti atau tidak berarti baginya hanya dari penilaian matamu saat ini, sekarang lo mau gue bantu buka talinya tidak?" Jawab Lucky dengan penuh wibawa
"Iya, gue butuh bantuan Lo sekarang" Pandu pasrah karena dia juga ingin segera terbebas dari tali yang kini mengikat tangan dan kakinya yang membuatnya seperti mati rasa
"Kalau butuh bantuan bisa diam kan" Lucky mulai membuka tali pengikat yang ada di tangan Pandu dengan sedikit kasar yang membuat Pandu merasakan sakit
"Aw... bisa pelan sedikit tidak"
"Lo kan cowok, masa hanya karena sebuah tali sudah kesakitan" Ejek Lucky
Pandu diam mendengar perkataan Lucky, dia juga tidak ingin terlihat lemah di mata Nia yang kini sedang memperhatikannya
"Bisakan, membuka tali di kakimu sendiri?" Lucky menarik tali yang sudah terlepas dari tangan Pandu dan meletakkannya di depan Pandu
"Bisa" Pandu mengangguk dan mencoba membuka tali di kakinya
Nia beranjak berdiri mendekati Pandu yang berusaha dengan susah payah membuka tali pengikat dan berusaha menolongnya, melihat apa yang dilakukan oleh Nia, Lucky beranjak pergi dan keluar dari ruangan dengan membanting pintu dengan cukup keras sambil mengomel tidak jelas.
__ADS_1
"Apa-apa ini, sepenting itukan dia dimatanya, aku yang mati-matian mencarinya ke sana kemari dan sangat panik mengapa seperti tidak berarti di matanya, Huh dasar!" Lucky menggebrak meja yang berada di depannya dengan keras dan membuat mereka yang berada di sana kaget dengan perilaku Lucky yang belum pernah mereka lihat selama ini dari sosok seorang Lucky yang selama ini mereka kenal sangat lembut dan jarang berbuat kasar