CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
110


__ADS_3

Tanpa menghiraukan keadaan sekitar, Nia mulai menikmati makanan yang tersaji di mejanya. Mulai dari makanan dan juga minuman yang terlihat sangat menggoda. Dia sudah tidak memikirkan lagi siapa yang menambahkan pesanan makanan yang sudah tersaji, toh nanti dia juga yang membayarnya sekalipun dihabiskan saat itu juga.


Dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan segala gerak gerik Nia yang sedang menikmati makanan. Dia merasa senang makanan yang dia tambahkan pada buku pesanan Nia kini mulai masuk ke mulut Nia sedikit demi sedikit. Setelah menyaksikan sendiri semua makanan telah habis, dia bergegas meninggalkan tempat persembunyiannya untuk menghindari bertemu langsung dengan Nia.


Selesai menikmati makan siang, Nia menuju kasir dan bertemu dengan Pandu yang juga sedang nemesan makanan.


"Kak Pandu baru datang?" Nia tanpa basa-basi menyapa Pandu yang masih fokus memilih menu makan siangnya


"Eh... iya, kamu sendirian? Lucky di mana?" Pandu yang tidak tahu jika saat ini di tempat Lucky menimba Ilmu sedang melaksanakan Ujian akhir, menanyakan keberadaan sepupunya itu.


"Kak Pandu bagaimana sih, Kak Lucky jam segini masih di sekolah, mungkin sebentar lagi pulang" Jawab Nia cuek


"Kamu sendiri, kok ada di sini, memangnya kau tidak sekolah?"


"Enak saja meledek Nia tidak sekolah, otak ini masih butuh nutrisi ilmu Kak. Sekolah Nia saat ini libur, kelas tiga ada ujian akhir, makanya Nia di sini, ikut Kak Nalen kuliah. Tapi malah digangguin orang-orang tidak jelas" Nia berkata dengan cemberut mengingat ada orang yang akan berbuat asusila terhadapnya


"Ya sudah, temani Kak Pandu makan dulu saja, sambil nungguin kakakmu pulang, dari pada sendirian, nanti digangguin lagi bisa bahaya" Pandu meminta Nia untuk menemaninya makan dan mendapat anggukan dari Nia

__ADS_1


"Kamu nambah pesan lagi saja, takutnya nanti ada yang berfikir menelantarkan cewek cantik, kan Kak Pandu juga yang malu" Pandu menawarkan beberapa makanan yang berada di dalam daftar menu yang saat ini masih ada di tangannya.


"Terserah Kakak saja, tapi yang ringan saja ya... takut meledak perut Nia" Nia merasa ngeri jika harus duduk sendiri di luar menunggu Nalen keluar kelas dan memilih menerima ajakan Pandu untuk duduk di kafe terlebih dahulu


Pandu mengajak Nia untuk duduk di meja yang terletak dekat dengan jendela yang menghadap langsung ke kampus Nalen untuk memudahkan mereka memantau keberadaan Nalen yang masih saja nyaman dengan kelas yang full AC pastinya.


Seseorang masih dalam posisi nyamannya, duduk sendiri menikmati makanan sembari matanya tidak lepas mengawasi Nia dan Pandu yang juga menikmati makanannya sambil bercerita. Dari arah pintu terlihat seorang perempuan muda yang sedang berjalan melenggang dengan angkuh menuju sebuah meja yang sudah tidak kosong lagi, dan berucap "Bagaimana dengan pekerjaanmu, lo jangan hanya duduk santai disini, menikmati makanan dan harus panggil gue untuk membayarnya"Gerutu perempuan itu dengan angkuh dan berlalu meninggalkan meja itu disertai meletakkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah di atas meja.


Namun, belum juga dia berhasil melangkahkan kakinya, terdengar sebuah keributan yang berasal dari sebuah meja yang terletak di dekat jendela. Semua mata tertuju ke tempat dimana sudah banyak orang berkerumun di sana. Bukan Manda, kalau mempunyai rasa empati untuk sekedar melihat apa yang sedang terjadi, dan bersiap untuk melanjutkan langkahnya. Dengan santai lelaki yang sedang duduk di meja dekat Manda berucap "Bukannya tadi tujuanmu ke sini untuk melihat pekerjaanku?"


"Memangnya kami tidak penasaran dengan apa yang sudah terjadi di kerumunan itu"


"Gue tidak peduli dengan urusan orang lain" Suara Manda semakin meninggi karena sudah dihalangi ketika ingin beranjak pergi


"Gue kira, lo bakal senang ketika melihatnya" Lelaki itu berlalu meninggalkan meja sambil mengambil uang yang ada di sana


Manda sukses dibuatnya penasaran, setelah kepergian lelaki itu, Manda berusaha menghampiri dan menerobos kerumanan.

__ADS_1


Hiruk pikuk banyak orang yang berusaha menolong seorang wanita muda yang terus-terusan memuntahkan isi perutnya yang sudah terlihat sangat lesu. Pandu sangat khawatir dengan apa yang ada dihadapannya saat ini, dia berusaha menghubungi Nalen dan juga Lucky, namun tidak ada satupun yang menjawabnya.


Dalam keadaan panik, muncul di tengah-tengah kerumunan, seorang perempuan muda yang terlihat menunjukkan simpati berusaha mendekat.


"Mbak, boleh minta tolong tidak?" Pandu mengiba


"Maksudnya?" Dengan nada angkuh perempuan itu mulai menampakkan kesombongannya


"Tolong jagain adik saya sebentar, saya akan menyiapkan mobil di depan dulu" Pandu menjelaskan permintaan tolong ya


Namun, Nia menarik tangan Pandu dan menggelengkan kepalanya "Jangan Kak, telpon Kak Nalen saja" Nia berucap dengan lirih menggunakan sisa tenaganya


"Eh, jadi orang jangan belagu, siapa juga yang mau bantuin lo" Bukannya bersimpati, Manda berlalu meninggalkan merekalah sambil tersenyum penuh kemenangan. Dia tidak mengira pekerjaan lelaki itu sungguh sangat rapi dan juga elegan


Lucky yang baru keluar dari kelas, membuka tas dan mengambil ponsel miliknya yang sudah dia tinggalkan sejak tadi. Dia mengernyitkan dahinya ketika melihat notifikasi yang menunjukkan puluhan panggilan tidak terjawab dari Pandu. Tidak biasanya dia melakukan panggilan sebanyak itu. Lucky sempat tidak menghiraukannya, namun karena rasa ingin tahunya, dia menekan tombol panggil dan tidak lama sudah ada jawaban dari seberang yang terdengar panik.


"Ada apa, tumben lo telpon gue sebanyak itu?" Lucky tidak berfikir macam-macam terhadap sepupunya itu

__ADS_1


__ADS_2