
Manda menuju ke sebuah restoran yang berada di dekat kampus, dia mencari pemilik dari restoran dengan wajah yang kalang kabut. Bertanya kepada setiap orang yang dia jumpai mengenai keberadaan sang penguasa restoran.
"Mas, lihat Pak Farhan tidak?"
"Tidak Mbak, mungkin ada di kantornya" Jawab singkat seorang karyawan laki-laki
Manda masih merangsek masuk ke lorong yang dibuat khusus untuk menuju ke kantor pemiliknya. Manda cukup hafal dengan lorong ini, karena dahulu dia sering berkunjung ke sini. Kantor sudah di depan mata, pintu juga sudah mulai dia buka, ada seorang lelaki muda yang tengah fokus dengan pekerjaan yang berada di depannya, hingga tidak menyadari ada seseorang yang memasuki ruangannya tanpa permisi.
"Gue butuh makan, tolong ambil buat gue" Farhan terlonjak mendengar suara memerintah dari jarak yang dekat
"Mengapa tidak minta dahulu sama mereka dan suruh mereka mengantarnya ke sini?" Farhan yang masih pusing memikirkan pekerjaannya yang belum selesai malas untuk menelppn karyawannya dan meminta makanan untuk diantar ke kantornya
"Apa susahnya sih, tinggal telepon juga bisa" Perut Manda yang kelewat lapar membuatnya tidak bisa mengontrol emosi
Farhan tahu jika saat ini pasti Manda dalam keadaan kelaparan, untuk menghindari amukan yang lebih ekstrim lagi, Farhan mengalah dan menelpon seseorang untuk mengantarkan makanan ke kantornya
Sambil menyantap makanan yang sudah tersedia lengkap dengan minuman dan juga hidangan penutup, Manda meminta tolong agar diberikan tempat persembunyian untuk sementara waktu.
"Kali ini aku tidak bisa lagi menolongmu, bahkan saat ini kamu adalah seorang buronan, kalau sampai kamu tertangkap oleh pihak berwajib, bukan tidak mungkin usahaku ataupun aku akan ikut terseret jika menolongmu, lebih baik kamu cari tempat sendiri dan akan aku beri kamu uang" Farhan tidak ingin usahanya yang sudah dirintis oleh ayahnya akan mengalami nasib buruk karena membantu persembunyian seorang yang memiliki catatan kriminal
"Darimana kamu bisa tahu jika saat ini polisi mengincarku?" Karena sampai saat ini Manda belum menceritakan keadaan akhir-akhir ini
"Tidak sulit bagiku untuk mengetahui kondisimu saat ini"
"Baiklah, kalau memang kamu tidak mau membantuku, mungkin kita akan bertemu di balik jeruji yang sama" Manda memberikan ancaman kepada Farhan, namun Farhan tidak gentar karena bagaimanapun Manda tidak mempunyai bukti untuk menyeretnya kedalam kasus yang akan menjeratnya di kemudian hari
__ADS_1
"Dan aku tidak akan pernah berubah pikiran untuk membantumu"
Setelah kenyang Manda bergegas pergi meninggalkan Farhan yang masih saja sibuk dengan pekerjaannya tanpa pamit. Uang yang saat ini ada di tangannya akan dimanfaatkan untuk mencari tempat yang aman.
****
"Kak, kamu lihat paper bag yang aku taruh di atas kasur tidak?" Nia mencari hadiah yang diterimanya dari Nara siang tadi, seingatnya dia letakkan di atas kasur namun saat ini sudah tidak ada lagi di sana
"Paper bag apa? Kakak tidak tahu, coba diingat lagi mungkin kamu lupa meletakkannya"
"Tidak, Nia tidak lupa, jelas-jelas tadi Nia letakkan di sini" Nia cemberut karena belum menemukannya padahal dia sudah penasaran dengan hadiah yang diberikan oleh Nara
"Ini bukan s*y*ng....." Lucky memperlihatkan tas berwarna putih yang berada di meja rias
"Iya, benar itu Kak" Mata Nia berbinar melihat barang yang sudah dia cari sejak tadi
Nia mulai membuka dan mengeluarkan isinya dari sana, masih ada pembungkusnya lagi.
"Mengapa banyak banget bungkusnya, membuat repot saja" Nia menggerutu dengan hadiah yang diterima banyak pembungkusnya
Setelah tiga kali membuka dan membuang kertas pembungkus, terlihatlah sebuah hadiah berwarna merah dan putih yang tertata rapi di sana. Dan segera menariknya
"Kakak ini apa?" Nia berteriak kencang hingga membuat Lucky yang duduk di sebelahnya ikut kaget
"Wah, apa ini.... Sepertinya Kak Nara memberikan hadiah yang memang sangat kita butuhkan saat ini" Lucky ikut membentangkan sebuah kain tipis yang sudah dibuat sebuah pakaian yang sangat menarik bagi kaum adam jika seorang wanita memakainya
__ADS_1
"Baju seperti ini, mana mungkin kita butuhkan" Nia masih bersikap sok polos, meskipun sebenarnya dia malu melihat model pakaian itu
"Di coba saja dulu" Lucky meminta Nia untuk segera mencobanya
"Cepat s*y*ng, pasti sangat cantik dan juga s**si, apalagi yang memakai kamu malam ini" Lucky terlihat sangat gemas dengan wajah malu-malu Nia
Nia menurut dan membawanya ke kamar mandi untuk mengganti baju yang dia pakai saat ini dengan hadiah pemberian Nara.
Beberapa kali Nia memperhatikan pantulan cermin yang memperlihatkan potret dirinya di sana, sangat risih namun mungkin sudah saatnya dia memakai baju seperti itu di depan suaminya. Nia mulai membuka pintu dan melangkahkan kakinya keluar.
Dia perhatikan keadaan kamar sebelum dia sepenuhnya menuju kamarnya. Tidak ada Lucky di sana, entah dimana orang yang menyuruhnya memakai baju itu kini pergi.
Terdengar suara dari arah balkon kamar yang terbuka pintunya. Terlihat Lucky yang sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang. Nia tidak berani mendekatinya takut mengganggu.
"Bagus, semoga rencana kita tidak gagal lagi dan polisi segera menemukannya, bagaimana keadaan Nana saat ini?" Lucky berbicara dengan Andi
"Sampai saat ini Nana baik-baik saja, dan mulai saat ini aku akan menjaganya dengan baik dan tidak akan meninggalkannya" Andi tidak mau terjadi apa-apa dengan Nana apalagi sekarang dia tahu jika Manda memiliki kunci duplikat yang di simpan entah dimana yang bisa jadi sewaktu-waktu perempuan jahat itu bisa memasuki rumah ini tanpa menunggu seseorang membuka pintu
"Benar, kalian harus hati-hati menghadapi perempuan itu"
"Sudah ya.... Nia sudah menungguku di dalam, kalian istirahat dengan baik jangan lupa beri pengamanan ekstra di sekitar rumah kalian" Lucky menutup telepon dan memasuki kamarnya
Nia masih duduk di depan cermin riasnya, memoles bibirnya dengan pelembab dan tidak lupa merapikan rambutnya dan memakai pewangi yang lembut aromanya.
Lucky masih memperhatikan istrinya yang sudah berdandan cantik serta mengenakan baju warna merah pemberian Nara, dari jauh mata Lucky tidak berkedip sedikitpun, menutup pintu akses ke balkon dengan hati-hati dan tidak menimbulkan bunyi. Berjalan mengendap-endap mendekat ke arah istrinya yang masih fokus dengan cermin di hadapannya.
__ADS_1
"Cantik banget, istriku" Lucky m**eluk Nia dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Nia yang terekspos jelas
"Apalagi jika ini sedikit diturunkan" Lucky sengaja menggoda istrinya dengan menarik sedikit baju bagian pinggang Nia dan membuat bagian atas sedikit lebih turun lagi, yang sebenarnya potongan baju itu sudah cukup rendah dan memperlihatkan milik Nia