CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
101


__ADS_3

Malam semakin larut, mereka semua tertidur dengan lelap melupakan sejenak semua rasa penat dan melepas lelah. Selepas subuh mereka semua bersiap di depan layar yang telah terhubung dengan kamera yang mereka pasang di gedung tempat penyekapan Nia.


Ditemani beberapa cemilan yang disediakan oleh karyawan Lucky, selain itu ada juga minuman hangat, sesuai dengan udara pagi yang masih dingin.


"Mas, semua sudah siap di bawah" Salah satu karyawan Lucky menghampirinya dan berkata dengan berbisik


"Siapkan juga sarapan untuk kita" Perintah Lucky sebelum karyawannya beranjak pergi meninggalkannya


"Menunya apa mas?"


"Seadanya saja, apapun pasti mereka makan, minta cepat ya, kita sudah lapar banget" Pesan Lucky lagi


Karyawan Lucky hanya mengacungkan kedua jempolnya sambil berlalu meninggalkan lantai atas


Hampir satu jam belum ada juga tanda-tanda orang yang masuk ke gedung itu lagi. Rasa lelah semakin mendominasi, ditengah mereka sedang menikmati sarapan, terlihat sebuah mobil yang terekam kamera yang mengarah ke halaman yang cukup luas. Namun, tidak ada yang keluar dari dalam mobil bahkan hanya sebentar saja berhenti di sana.


"Huft, kirain orang yang kita tunggu, taunya orang lewat" Vicky sudah merasa bosan menatap layar yang tidak seberapa besar dihadapannya


"Sabar bisa tidak, kita tunggu setengah jam lagi, jika tidak ada yang datang kita sudahi saja dan akan kita cek lagi hasil rekaman hari ini" Lucky tidak mau membuat teman-temannya yang sudah membantu merasa terikat dengan pekerjaan yang tidak penting bagi mereka


"Setuju, kita tunggu setengah jam lagi. Kalau memang tidak ada pergerakan kita bubar" Nalen juga menyetujui usul Lucky. Dia juga merasa tidak enak hati sejak kemarin sudah merepotkan mereka.


Makanan di meja sudah mereka lahap habis, kini tinggal piring dan juga gelas yang isinya sudah berpindah tempat. Mereka membubarkan diri ketika sudah dipastikan tidak ada yang mendatangi gedung semalam.


Nalen mengajak Nia untuk pulang bersama dengan mengendarai mobilnya.


"Dek, yok kita pulang" Nia berdiri menghampiri kakaknya yang sudah bersiap untuk keluar restoran

__ADS_1


"Tidak boleh, lo pulang duluan, Bunda ingin bertemu dengan Nia terlebih dahulu, ada sesuatu yang akan dibicarakan" Lucky mencegah Nia yang akan pulang bersama Nalen


"Tapi, mama lebih khawatir dengan dia" Nalen masih bersikeras untuk mengajak adiknya pulang


"Bunda juga khawatir dengannya" Lucky lebih tidak rela jika Nia pulang bareng Nalen


"Kalian berdua bisa diam tidak. Yok kita keluar dari sini, Kak Pandu ajak kamu ke rumah saudara Kakak" Mendengar Lucky dan Nalen berebut yang tidak berkesudahan, membuat Pandu gerah mendengarnya, dia menarik tangan Nia untuk ikut dengannya


"Tidak boleh" Nalen dan Lucky berbicara bersamaan


"Tapi Nia mau, dari pada pulang bareng kalian yang kayak anak kecil, lebih baik Nia bareng Kak Pandu" Nia berjalan mendahului Pandu yang masih berdiri tertegun melihat kekompakan antara Lucky dan Nalen.


"Kak Pandu cepetan, kendaraan online sudah menunggu" Nia berteriak memanggil Pandu, ketika ada seorang sopir yang menanyakan nama Pandu


Pandu berlari ke arah Nia yang sudah mendekati kendaraan yang dia pesan. Nia membuka pintu samping mobil bagian belakang dan bergegas memasukinya diikuti oleh Pandu di belakangnya. Melihat kejadian di depan matanya Otomatis membuat Lucky tidak senang. Karena hal itu Lucky ikut-ikutan berlari ke arah kendaraan yang hampir tertutup pintunya namun berhasil dia tahan.


"Lo, pindah depan" Lucky tidak ada hormat sama sekali dengan Pandu dan memintanya untuk pindah tempat duduk


"Maaf, sebelumnya mas, kita bisa jalan sekarang tidak?" Pak sopir juga merasa pusing mendengar perdebatan dua orang yang beranjak dewasa namun kelakuan seperti anak taman kanak-kanak


"Jadi Pak" Jawab Pandu ramah


"'Ini tidak ada yang mau pindah duduk di depan?" Tanya sopir lagi


"Tidak!" Lucky dan Pandu menjawab bersamaan


"Ya sudah biar Nia saja yang duduk di depan, jika kalian masih ada yang harus diselesaikan" Belum juga beranjak dari duduknya, tangan Nia sudah ditarik Lucky untuk tetap duduk di tempat

__ADS_1


"Kalian seperti anak kecil tahu tidak, Nia pusing mendengar perdebatan kalian, mau tidak mau, boleh tidak boleh Nia tetap pindah tempat duduk, kalau kalian masih ingin berdebat lebih baik Nia pergi dari sini" Nia mulai mengancam dua orang yang sudah seperti anjing dan kucing yang enggan untuk saling mengalah


Nia berpindah tempat duduk, menghindari perdebatan dua orang beranjak dewasa bersifat kekanak-kanakan.


"Yang, mau kemana? Yang harusnya pindah tempat itu dia" Lucky mencegah Nia yang ingin pindah tempat


"Lo, panggil dia apa?" Pandu beberapa kali mendengar Lucky memanggil Nia dengan sebutan yang sama, namun kali ini dia tidak ingin penasaran lagi mengapa Lucky memanggilnya seperti itu


"Pikir saja sendiri" Lucky mulai ketus lagi menjawab pertanyaan Pandu


Kali ini Nia sudah duduk di samping kursi kemudi dan memerintahkan dang sopir untuk segera menjalankan mobilnya.


"Jalan Pak, daripada mendengarkan mereka yang tidak jelas lebih baik jika cepat sampai tujuan" Sang sopir menuruti perintah Nia dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, sebagai usaha untuk. menghentikan perdebatan dua orang yang duduk di belakang


"Pak, apa-apaan ini, bisa sedikit pelan tidak, aku belum nikah nih, kalau sampai terjadi sesuatu bapak harus tanggung jawab" Lucky kaget dan terlihat panik mengetahui mobil sudah melaju dengan kencang


"Kalau mau jalan pelan, tolong mas berdua diam dan tidak banyak bicara"


Lucky dan Pandu akhirnya dian dan duduk berjauhan layaknya menjaga protokol kesehatan yang dicanangkan pemerintah.


Mobil melaju dengan santai, Nia memperhatikan jalan yang dilalui mobil dan baru menyadari jika ini adalah jalan menuju ke rumah seseorang yang dia kenal


"Kak, sepertinya Nia tidak asing dengan jalan ini deh, benar tidak?" Nia melihat ke arah Lucky yang kini sedang asyik dengan ponselnya mengecek email yang masuk dari karyawannya


Lucky menegakkan kepalanya dan melihat sekeliling jalanan yang mereka lalui dan benar saja dia langsung mengernyitkan dahinya.


"Wajarlah kalian tidak asing dengan jalanan yang kita lalui, tidak mungkin kalian tidak paham dengan jalanan di kota kalian" Pandu memperhatikan interaksi Nia dan Lucky yang sama-sama mengernyitkan dahi mereka.

__ADS_1


Nia mangguk-mangguk membenarkan perkataan Pandu, sedangkan Lucky kembali asyik dengan beberapa laporan yang dikirim kepadanya dan tidak menghiraukan lagi ke arah mana mereka akan berakhir.


Mobil sudah memasuki sebuah komplen perumahan dan menuju sebuah rumah yang tampak rapi dan asri, namun sayangnya Nia kini sudah tertidur dan Lucky masih belum mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya bahkan tidak menghiraukan jika saat ini mobil sudah berhenti di halaman rumah.


__ADS_2