CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
63


__ADS_3

"Sudahlah, kalau kalian bertengkar terus kapan selesainya?" Danny mulai gerah melihat kelakuan mereka


"Dia nih Kak, ngomong seenaknya, padahal gue saja tidak kenal dia sebelumnya, bisa-bisanya dia bilang kalau gue yang meminta tolong kepadanya" Sonya tidak mau begitu saja menjadi kambing hitam bagi Nana, dia saja sekarang sedang menutupi kebusukan dari Manda


"Memang benar kamu yang meminta tolong kok" Nana masih saja kekeh tidak mau disalahkan


"Ok, silakan tunggu setengah jam, akan ada bukti yang datang"Lucky melerai mereka berdua.


Sewaktu Nana dan Sonya berdebar tadi, Lucky menghubungi Nara meminta tolong kepada dia untuk mencari bukti kejadian di penginapan. Saat ini Nara sedang meretasnya sebagai bukti yang akan diperlihatkan dihadapan mereka.


Setengah jam berlalu, video yang diminta oleh Lucky sudah dikirim Nara melalui ponselnya. Diputarnya melalui proyektor yang selalu terpasang di ruangan itu, dan terlihatlah siapa yang melalukannya.


"Ok, semua sudah melihat dan tidak ada yang bisa menyanggahnya lagi, gue sangat kaget melihat semua bukti yang terputar di depan kita bersama dan tidak menyangka bahwa persahabatan kalian nyatanya tidak tulus adanya" Lucky mengungkapkan kekecewaannya terhadap perilaku adik kelasnya yang sudah keterlaluan, mereka melakukan berbagai macam cara hanya untuk sesuatu yang tidak penting


"Saya melakukan itu cuma bercanda Kak, tidak ada maksud lain" Nana masih memberikan pembelaan


"Entah itu bercanda atau apalah namanya, tetapi kamu sudah membuat orang lain merasa ketakutan dan membuat heboh seluruh siswa, hal itu tidak dibenarkan

__ADS_1


" Itu semua, Nana lakukan karena Kakak"Semua yang ada di sana kaget mendengar pengakuan Nana tak terkecuali Lucky juga sangat kaget, mengapa semua mengatakan penyebabnya adalah dirinya


"Maksudnya, bahkan saya sendiri mengenalmu karena kami sahabatan dengan Nia"


"Iya, memang gue bersahabat dengan Nia, karena memang ingin mendapatkan perhatian dari Kakak, gue sudah menyukai kakak sejak masuk pertama kali ke sekolah ini, bahkan waktu SMP gue sudaj kagum sama kakak, alasan gue bersekolah di sini semua karena kakak, namun semua yang gue lakukan nyatanya tidak bisa merubah apapun, bahkan kakak semakin lengket dengan Nia, selalu ada buat dia, perhatian kakak untuk Nia sangat besar, hal itu membuat hati ini terasa sangat sakit, namun apalah arti diri ini sedangkan Kakak saja tidak mengenal gue sama sekali. Gue melakukan itu karena ingin menjauhkan Kakak dengan Nia" Nana mengatakan yang sejujurnya alasan yang mendasari dia berbuat nekat seperti itu.


"Apapun alasan kamu, kalau yang kamu utarakan itu memang benar adanya, saya rasa tidak wajar jika seorang perempuan bisa berbuat nekat seperti itu hanya demi seorang lelaki yang sudah tidak mungkin bisa mencintai orang lain" Lucky tidak ingin semua salah paham dengannya lagi


"Asal kalian semua tahu, antara aku dengan Nia memang ada hubungan yang tidak bisa dipisahkan lagi" Banyak yang berfikir apa maksud dari perkataan Lucky, mereka kasak -kusuk membicarakan Lucky dan Nia ada yang mengatakan mereka sudah menikah secara agama dan ada yang bicara mereka hanya sebatas pacaran, mendengar kasak-kusuk itu Lucky menjelaskan lagi


*****


"Siapa yang menelphone barusan?" Nalen bertanya kepada Nara ketika melihat Nara langsung mengambil laptopnya setelah menerima telephone


"Lucky, dia minta dicarikan rekaman yang terjadi di penginapan untuk mendapatkan bukti dari masalah yang lain" Nara menjelaskan maksud Lucky menelphone dirinya


Dengan cekatan Nara langsung mengotak-atik laptopnya ketika sudah mulai menyala, waktu setengah jam yang diberikan oleh Lucky membuatnya bekerja lebih ekstra untuk mendapatkan rekaman yang sudah cukup lama kejadiannya.

__ADS_1


Tanpa ada rasa lelah, Nara terus saja mencarinya dan setelah mendapatkannya langsung dia kirim kepada Lucky. Nalen tidak berbicara sama sekali ketika. Nara sedang bekerja, sebenarnya banyak yang ingin diketahui oleh Nalen namun dia menunggu sampai Nara benar-benar selesai.


"Rekaman apalagi yang Lucky perlukan?" Nalen bertanya setelah melihat Nara mulai menutup laptopnya


"Itu rekaman di penginapan, dia mencari bukti bahwa yang memasukkan mainan ular ke dalam. tas. Nia. Karena kini dia berhadapan dengan orang yang jadi tersangka menurut seorang siswa di sana, karena anak itu selalu berkilah maka dia mita bantuan ke gue"Nara tidak mau terjadi salah paham antara Nalen dengan dirinya, lebih baik dia menceritakan yang sebenarnya dari pada harus menutupinya


"Karena Nia lagi, sungguh kasihan Nia, sejak kecil selalu saja ada yang berbuat jahat kepadanya, padahal menurut gue Nia anaknya tidak pernah mengganggu orang lain, mungkin karena itu juga sampai sekarang dia malas untuk memiliki seorang sahabat, sahabat baginya hanya akan merugikan dirinya sendiri dan sekarang terbukti apa yang menjadi ketakutannya selama ini, dia memiliki seorang sahabat namun dia juga yang berbuat jahat kepadanya" Nalen mengingat apa yang pernah Nia katakan kepadanya ketika Nalen bertanya mengapa tidak mau bermain dengan anak-anak seusianya dan memilih untuk selalu menempel kepadanya


Nara hanya sebagai pendengar, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nalen karena mau berkomentar dia juga belum mengenal betul mengenai kebiasaan Nia, selamat mengenalnya hanya melihat keceriaan saja di wajah Nia dan tidak pernah terlihat muram sama sekali. Namun siapa sangka sebenarnya dia tidak nyaman dengan orang yang berteman dengannya, bukannya apa-apa namun dia tidak nyaman jika mereka sudah dekat, ada maksud tersembunyi mereka mendekatinya.


"Maaf, karena telah membuatmu tidak nyaman mendengar keluh kesahku" Nara hanya tersenyum mendengar perkataan Nalen


"Tidak apa, mungkin dengan bercerita kamu merasa sedikit lega meskipun gue tidak bisa banyak membantumu menyelesaikan, tapi gue akan berusaha menjadi teman, sahabat sekaligus kakak bagi Nia" Nara selama ini juga tidak mempunyai teman yang bisa mengerti dirinya, dia bertemu Nia sama seperti bertemu dengan saudara yang sudah lama tidak bertemu dan kini tengah melepas rindu di antara keduanya


"Terima kasih, sudah mau menjadi teman Nia dan telah membantunya hingga saat ini, meskipun kalian baru saja bertemu" Nalen berterima kasih dengan tulus, karena baru kali ini dia bertemu dengan gadis seperti Nara yang mempunyai masalahnya sendiri tetapi masih mau membantu orang lain


"Iya, Sama-sama, karena gue juga merasa selama ini tidak mempunyai teman yang benar-benar tulus berteman dengan gue, baru dengan kalian gue merasa mempunyai teman dan sajabat yang bisa memahami gue" Nara merasa sedih karena dirinya selama ini hanya dimanfaatkan saja selain untuk menyelesaikan kepentingan mereka sendiri, perhatian mereka semuanya hanya sebagai tameng saja agar dia percaya dengan mereka

__ADS_1


__ADS_2