
"Kak mampir mini market depan dulu sebentar ya" Nia menunjuk sebuah minimarket yang tidak jauh dari posisi mereka
"Mau beli apa?Bukannya di belakang sudah banyak makanan" Lucky menoleh ke belakang bagian penumpang yang sudah ada berbagai macam makanan
"Tapi, Nia tidak ingin beli makanan" Nia cemberut karena Lucky berusaha mencegahnya mampir ke tempat umum
"Lantas, mau apa pergi ke mini market?" Lucky penasaran, biasanya mereka pergi ke mini market hanya untuk membeli makanan ringan
"Emmmm...... emmm beli yang ada sayapnya" Nia menyebutkan keinginannya sambil nyengir tidak bersalah
"Kita ke tukang ayam depan saja, nanti kamu bisa pilih mau yang ada sayapnya, ada ekornya, ada paruhnya, tinggal pilih biar kakak yang bayar" Lucky bersemangat menuju penjual ayam goreng
"Berhenti di sini Kak" Nia berteriak menghentikan laju mobil
"Tapi di sana lebih hangat dari pada yang di mini market Y*ng" Lucky masih pada pendiriannya
"Nia mau yang di sini" Nia semakin cemberut karena sepertinya terjadi kesalahpahaman antara dirinya dengan Lucky
Lucky menghentikan mobilnya dan mencari tempat parkir, dia memilih menuruti keinginan Nia. Selesai memarkirkan mobilnya, Lucky bergegas menyusul Nia yang hampir memasuki mini market yang lumayan ramai pengunjung. Lucky sedikit khawatir terjadi sesuatu jika Nia sampai lepas dari penglihatannya.
Namun kenyataannya orang yang dikhawatirkan tidak peduli, Nia melenggang dengan santai menuju rak-rak yang berisi beraneka dagangan yang dipajang dengan rapi, hanya satu yang menjadi tujuan utamanya, hampir sampai pada rak yang diincarnya, namun Lucky segera menarik tangannya untuk menuju pada rak yang berisi ayam yang siap santap.
Dari kejauhan Lucky melihat Andi yang sedang berjalan mendekatinya, tanpa disadarinya Lucky memanggilnya untuk duduk bersama menikmati ayam yang sudah dia pesan.
"An, duduk sini biar tambah ramai" Lucky menepuk sebuah kursi yang berada di dekatnya
"Tidak usah Sya, takutnya mengganggu waktu kalian" Andi menolak dengan halus, namun Lucky tidak mau menerima penolakan apapun itu
"Ada yang ingin gue bicarakan dengan Lo" Lucky membuat alasan yang tidak bisa ditolak oleh Andi
__ADS_1
"Baiklah, gue akan duduk di sini, kapan lagi ditraktir bos muda yang sukses, siapa tahu bisa menular" Andi berkelakar menghadapi Lucky
"Wuih..... siapa ini, cantik banget... adik Lo Sya?" "Punya adik cantik begini kok diumpetin" Lucky tampak memerah wajahnya ketika mendengar Lucky memuji Nia
"Lo benar tidak ingat? Dia cewek gue, yang...... " Lucky tidak bisa melanjutkan perkataannya, dia takut Nia akan tahu siapa yang berusaha mencelakainya
"Oh... Pantas banyak yang iri dengan dia, cantik gini. Pasti orang lain akan merasa tersaingi jika melihat orang yang dia suka jalan dengan orang yang sempurna seperti dia, Lo jagain yang benar" Andi menepuk bahu Lucky, dia sadar jika gadis yang didepannya adalah gadis yang berusaha disingkirkan oleh Manda
"Tanpa Lo minta pasti akan selalu gue jaga sepenuh tenaga" Lucky menjawab dengan penuh percaya diri
"Kemarin-kemarin kemana saja, hingga bisa kecolongan olehku?" Andi langsung mematahkan argumen Lucky
"Saya pastikan waktu itu adalah yang terakhir orang lain bisa menyentuhnya" Lucky semakin dibuat terpojok oleh Andi
"Baiklah, gue tunggu" Andi menantang kesungguhan kata-kata Lucky
"Sudahlah kalian bicara apa sih sebenarnya, tidak jelas banget" Nia yang sejak tadi diam karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan mulai menggerutu
Andi tidak lagi menghiraukan panggilan Lucky yang sebenarnya masih terdengar sangat jelas di telinganya, tetapi dia memilih untuk meninggalkan mereka karena dia melihat seseorang yang baru saja berjalan melewatinya menuju ke kasir. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengobrol dengan orang yang dia kagumi, dengan mengambil barang yang dia lewati dan bergegas pergi ke kasir agar bisa berada tepat dibelakang gadis manis itu.
Nia menyadari ada yang aneh dengan teman kekasihnya itu dan berucap "Ada apa sih kok buru-buru amat"
"Entahlah, tidak usah menghiraukan dia, katanya mau makan sayap, cepat makan kalau dingin nanti tidak enak" Lucky mengalihkan keingintahuan Nia mengenai temannya
"Eh, tapi lihat deh Kak, di sana sejak kapan teman kakak kenal dengan Nana dan bicara sedekat itu" Nia menunjuk ke luar minimarket dan melihat Andi dan Nana sedang duduk bersebelahan dan berbincang dengan jarak yang cukup dekat
"Di mana, tidak mungkin Andi kenal dekat dengan Nana, apalagi dia belum lama di kota ini. Mungkin hanya sekedar menyapa dan menemani Nana karena melihat dia tidak ada temannya" Lucky lupa jika Andi pernah bertanya tentang Nana dan mengira bahwa Andi hanya sekedar menemani Nana menghabiskan roti yang dia makan
Lucky dan Nia fokus pada makanan yang ada dihadapannya apalagi kalau bukan sayap ayam dan juga teman-temannya. Nia tidak habis pikir dengan kelakuan kekasihnya yang tidak memahami keinginannya. Sebenarnya bukan sayap ayam yang dia maksud, tapi mengapa malah membelikannya ayam. Nia menggelengkan kepalanya beberapa kali mengingat kelakuan Lucky yang tidak jelas dengan membelikan banyak sayap ayam untuknya.
__ADS_1
"Kalau tidak habis bungkus saja Y*ng, nanti kita habiskan di rumah" Lucky melihat Nia yang sudah menarik napas panjang karena sudah kenyang
Lucky meminta seseorang untuk membungkiskan sisa ayam yang belum mereka makan agar bisa di bawa pulang.
Beranjak dari kursi ingin meninggalkan minimarket tetapi Nia menarik lengannya lagi.
"Ada apa lagi, masih kurang sayapnya?" Lucky bingung dengan tingkah Nia, sebenarnya sudah cukup banyak jika akan di makan sendiri, namun Nia masih menganggukkan kepalanya sebagain tanda membenarkan perkataan Lucky
"Kita beli lagi ya" Lucky mulai membujuk Nia yang kini mulai cemberut
"Bukan sayap ayam Kak yang Nia ingin beli" Nia makin cemberut
Nia menarik lengan Lucky ke deretan rak yang memanjang berjejer berbagai produk makanan maupun keperluan lainnya. Nia melepaskan dan berjalan dengan cepat menuju ke sebuah rak yang sejak tadi menjadi incarannya.
"Y*ng pelan-pelan bisa tidak, jangan berlari seperti anak kecil" Lucky yang melihat Nia berlari menjadi sedikit khawatir, namun Nia sudah tidak peduli dengan ocehan Lucky
Nia berbinar setelah mendapatkan sebuah produk yang ingin dia beli. Dia bergegas mengambil sesuai dengan kebutuhannya, menghampiri Lucky yang masih berjalan mendekatinya, namun lagi-lagi ditarknya lengan Lucky menuju kasir dan meletakkan barang belanjaannya di meja kasir.
Melihat barang yang diletakkan di meja kasir, Lucky hanya bisa menepuk jidatnya berulang kali dan tersenyum sendiri mengingat kelakuannya sejak tadi.
"Jadi, yang kamu maksud mau beli yang ada sayapnya ini Y*ng?"
"He... em"Jawab Nia singkat
" Pembal*t Y*ang, terus yang kita beli tadi tidak ada gunanya?"
"Ada"
"Terus mana sayapnya"
__ADS_1
"Nanti kalau mau lihat sayapnya, biar Nia tunjukkan"