CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
52


__ADS_3

Lucky sudah menyelesaikan semua pekerjaannya dibantu oleh orang yang menjadi tangan kanannya ketika dia ada ataupun tidak bisa ke restoran, entah karena efek kecapekan atau jenuh menunggu Lucky yang sedang menyelesaikan pekerjaannya, Nia sudah terlelap di sofa panjang berwarna hitam. Merasa kasihan Lucky memindahkan ke ranjang yang ada di dalam kantor pribadinya, karena mau dibangunkan juga kasihan, sambil menunggu Nia bangun, Lucky membuat beberapa daftar yang mungkin akan diperlukan untuk merubah dekorasi restorannya agar semakin menarik minat para penikmat makanan.


Hampir magrib menjelang Nia baru mulai membuka matanya dengan sedikit tercengang karena dia kini sudah berpindah tempat ke ruangan yang sangat nyaman dan wangi, dengan gerakan reflek Nia membuka mata lebar dan menyingkap selimut yang digunakan untuk menutupi tubuhnya, namun untungnya semua masih menempel sempurna di badannya.


Membuka pintu dengan perlahan sambil melihat ke kanan dan ke kiri, takutnya ada orang yang akan berbuat jahat kepadanya. Setelah merasa aman, Nia keluar dan kembali menuju sofa yang siang tadi dia duduki. Namun, alangkah kagetnya ketika mendapati Lucky yang tengah memejamkan mata dengan tenang di sana. Nia mulai mendekat dan memandangi wajah lelaki yang kini menjadi kekasihnya, tanpa berkedip dia menikmati pemandangan di depan matanya.


Kumandang adzan, memaksa Lucky untuk membuka mata dan mengulurkan tangannya membelai rambut Nia yang kini jongkok di depannya sambil berucap "Mengapa cuma dipandangi?" Sambil mengangkat kedua alisnya Lucky menggoda Nia yang kini wajahnya memerah.


"Siapa yang mandangin" Sungut Nia sambil berbalik berjalan menuju sofa single, namun belum juga sampai sudah ditarik tangannya dan terduduk di samping Lucky. Memandang wajah Nia yang tersipu malu karena terpergok memandanginya membuat Lucky semakin gemas, mencubit kedua pipi Nia kemudian langsung berlalu menuju ke toilet.


Hampir jam tujuh malam, Nia baru sampai di rumahnya diantar Lucky memakai motor inventaris restorannya.


"Terima kasih Kak, sudah nganter Nia sampai rumah" Namun Lucky malah turun dari motor dan menggandeng tangan Nia mengetuk pintu rumah dan meminta maaf kepada orang tua Nia


"Maaf tante dan Om, sebenarnya tadi kami sampai masih sore, namun karena Lucky ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan, Nia saya ajak ke reatoran dulu, mungkin karena dia kecapekan makanya dia tertidur dan baru bisa Lucky antar sekarang, sekali lagi Lucky minta maaf" Lucky memilih berkata jujur kepada orang tua Nia, dia tidak ingin mendapat predikat cowok yang tidak bertanggungjawab, apapun hasilnya lebih baik berterus terang


"Oh, iya tidak jadi masalah, yang penting kalian baik-baik dan tidak terjadi sesuatu" Dewa sebagai orang tua memakluminya, yang terpenting bagi mereka pulang dengan selamat.


"Nalen tidak bersama dengan kalian?" Tanya Dewa yang menyadari anak sulungnya juga belum pulang


"Tadi, Kak Nalen ada pekerjaan yang harus di selesaikan juga, jadi kami tidak pulang sama-sama" Nia mulai bicara dengan orang tuanya


Setelah cukup berbincang-bincang, Lucky mohon diri untuk pulang karena sudah malam dan ingin segera istirahat.

__ADS_1


****


Nalen mengantar Nara terlebih dahulu ke mes restoran milik Lucky, mereka sampai ketika Nia dan Lucky juga baru saja meninggalkan restoran. Mereka masih menggunakan jasa online untuk sampai di rumah.


Nalen segera meninggalkan Nara ketika sudah memastikannya masuk ske kamar.


"Aku pulang dulu, dan cepat masuk kamar segera istirahat agar badan kembali segar" Nara segera memasuki kamarnya setelah mereka saling berpamitan, mereka seperti tidak ingin berpisah lagi layaknya sepasang kekasih


Memang benar mereka juga baru jadian, sebenarnya Nalen mengajak Nara pulang bersama bukan karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan, melainkan dia ingin berterus terang tentang perasaannya, meskipun mereka baru beberapa minggu kenal, namun Nalen sudah sangat mengaguminya sejak pertama kali bertemu.


"Ya, kamu naik dulu baru aku masuk ke kamar" Nara memerintahkan Nalen untuk naik ke mobil terlebih dahulu sebelum dia masuk ke kamarnya


"Tidak, lebih baik kamu lebih dahulu masuk ke kamarmu" Mereka seperti anak kecil yang saling berebut. Namun akhirnya Naralah yang harus mengalah untuk masuk terlebih dahulu


Dari luar kamar Nia mengetuk pintu kamar kakaknya yang baru saja masuk.


"Kakak dari mana saja, jam segini baru pulang?" Nalen hanya tersenyum dan tidak ingin menjawab pertanyaan adiknya


"Dari mana sih Kak, tumben main rahasia ke Nia, apa mungkin Kakak tadi ngajakin Kak Nara kencan ya....?" Nia mulai menebak apa yang dilakukan oleh kakaknya


"Bukannya kamu yang pergi kencan berdua dengan Lucky?" Nalen tidak memberikan jawaban, namun malah balik bertanya


"Tidak, siapa bilang Nia dan Kak Lucky kencan" Nia malah terlihat menutupi sesuatu yang telah terjadi, hal itu membuat Nalen semakin gencar mengorek informasi

__ADS_1


"Kakak tahu kok, kalau kami tidak pergi kencan dengan Lucky, lalu mana tasnya kakak?" Nia melupakan tas mereka yang berisi baju-baju dan beberapa perlengkapan.


"Oh iya, tasnya tadi dibawa pulang Kak Danny, Nia tadi diajak Kak Lucky untuk pergi makan saja kok"


Nalen masih saja tidak percaya


"Mana mungkin hanya makan, tapi baru sampai rumah?" Nalen masih juga tidak percaya dengan perkataan adiknya


"Iya, tadi Nia ketiduran di restoran" Dengan malu-malu Nia menjawab pertanyaan kakaknya, karena hal itu sangat memalukan jika terdengar orang lain


"Wk....wk..." Nalen tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Nia "Memangnya kamu tidak malu ketiduran di tempat umum?" Lanjut Nalen


"Bukan di tempat umum, tapi di ruangan khusus kok, bahkan di sana ada ranjangnya" Nia tidak mau kalah dengan perkataan Nalen yang menuduhnya tidur di tempat umum


"Apa, memangnya kali dibawa Lucky ke restoran mana, hingga ada ranjangnya segala, Jangan-jangan kalian melakukan sesuatu di luar batas ya" Nalen mulai menyelidiki, takut adiknya kebablasan


"Kakak tahu restoran yang ada di dekat sekolah Nia, yang instagramable dan harganya tidak murah itu? Ke sanalah kami makan, eh ralat bukan kami yang makan, namun cuma Nia saja yang makan, karena sepanjang Nia makan Kak Lucky hanya berbicara dengan orang lain hingga Nia bosan dan tertidur" Nalen kaget mendengar penjelasan adiknya, karena restoran itu cukup mahal bagi seorang pelajar seperti mereka


"Jangan-jangan Lucky membayar makanan kalian dengan bekerja di sana?"


"Mana ada, tidak mungkin..... Karena Nia tadi sempat ada yang mindahin dari sofa ke ranjang, setelah Nia bangun ternyata Kak Lucky tidur di sofa yang Nia tempati tadi"


"Adik beneran tidak diapa-apain oleh Lucky?"

__ADS_1


"Tidak kakak....sumpah kami tidak melakukan apapun"


__ADS_2