
Nia sedang mempersiapkan segala sesuatu yang sudah direncanakan dengan dibantu oleh Nana dan juga beberapa temannya. Persiapan sebuah pesta kejutan kecil-kecilan sebagai perwujudan rasa syukur masih diberi usia sampai saat ini.
"Semua persiapan hampir selesai, apakah kami sudah menelpon Kak Lucky saat ini mereka sampai dimana?" Nana juga sangat antusias mempersiapkan kejutan ini
"Katanya sih baru selesai membayar dan saat ini mereka mulia jalan lagi, Mudah-mudahan bisa selesai tepat waktu" Nia yang baru saja mengakhiri panggilan dengan suaminya memberikan respon
"Kalian masih sangat muda tapi sudah berani mengambil keputusan untuk menikah, salut banget dengan kalian terutama denganmu Nia" Andi yang sejak tadi diam mengungkapkan kekagumannya dengan pasangan muda yang selalu rukun
"Terima kasih Kak Andi atas sanjungannya, bagaimana kalau Kak Andi segera menyusul kita saja?" Nia mulai menggoda Andi
"Mana ada yang mau dengan aku, tidak berpendidikan bahkan harta saja aku tidak punya, bukannya kebanyakan perempuan sekarang mencari yang sudah mampu segalanya?"
"Tidak semua perempuan seperti itu Kak... pasti ada beberapa perempuan yang menilai dari kepribadiannya, kalaupun sudah mampu secara finansial kalau laki-laki tersebut kurang baik budi pekertinya, perempuan juga mikir kali....."
"Masih ada ya... perempuan seperti itu?"
"Kenyataannya dia mau jadi kekasih kakak, lebih baik segera saja deh di khalalkan, biar tidak diambil orang, bisa menyesal kalau keduluan sama lelaki lain" Nia berbicara pelan sambil melirik ke arah Nan
"Apakah dia benar mau dengan Kakak yang tidak punya apa-apa?"
__ADS_1
"Coba saja dahulu, lebih baik mencoba ditolak dari pada tidak pernah mencobanya sama sekali"
Semua persiapan sudah hampir selesai, tinggal memasang beberapa ornamen yang belum terpasang sempurna. Mereka mulai sibuk lagi menyelesaikannya.
"Kita duduk dulu, sambil menunggu mereka datang" Andi menuju sofa yang terletak tidak jauh darinya
"Boleh juga, Nia juga sudah capek" Nia mengambil beberapa minuman kaleng dan duduk di sofa sambil menyerahkan kaleng minuman untuk Nana dan Andi
"Terima kasih Nia" Nana dan Andi serentak berterima kasih kepada Nia
"Cie.... kok bisa barengan.... jodoh kali ya....." Nia menggoda keduanya hingga membuat mereka salah tingkah
Belum pintu terdengar nyaring dari dalam rumah, Nia bergegas menuju pintu utama untuk membuka dan menyambut sang suami dengan penuh semangat, hatinya sangat gembira orang yang ditunggu-tunggu sudah berada di balik kayu berbentuk persegi panjang yang berdiri kokoh dihadapannya saat ini.
"Selamat dat.... " Nia tiba-tiba terdiam melihat seseorang yang berdiri di hadapannya bukanlah suaminya melainkan orang lain
"Nia... mengapa lama banget, buruan ke sini kita siapkan segera" Nana berjalan menuju tempat Nia dengan tujuan untuk mengajak Nia menyiapkan makanan yang belum sempat mereka siapkan sebelumnya
Nana berhenti dan tertegun melihat seorang wanita muda dengan dandanan yang natural namun terlihat pas, dress warna merah berkombinasi emas yang terlihat mewah dan harga yang tidak begitu murah menempel pada tubuh yang tinggi semampai.
__ADS_1
Namun, seketika Nana berbalik meninggalkan mereka yang masih berada di pintu, tidak ada yang saling berbicara. Mereka memperhatikan satu sama lain tanpa ada yang berniat untuk menyapa lebih dahulu.
Setelah beberapa menit, tamu tidak dipersilakan masuk oleh Nia, dia menerobos tubuh Nia yang berada di depannya dan berucap "Apakah kamu tidak ingin menyambut kedatangan kakakmu tercinta ini?" Dia berlari berusaha menghampiri Nana yang sudah beranjak pergi meninggalkan mereka
"Memangnya anda siapa, bahkan saya tidak memiliki kakak" Nana yang tidak sudi melihat wajah Manda lagi berusaha menghindar, namun tangannya dicekal oleh Manda dengan cepat
"Wow, sekarang adikku yang penurut sudah berani membentakku" Manda bertepuk tangan mengejek
"Bukan urusanmu, mau aku berani ataupun tidak terhadap orang seperti anda, bahkan anda sudah tidak ada hak untuk memanggilku adik" Nana tersulut emosinya
"Ada apa ini" Andi yang baru saja keluar dari ruang keluarga menghampiri keributan yang terjadi di ruang tamu
"Siapa lagi cowok ganteng ini, boleh dong kenalan" Manda mendekati Andi dan berusaha menggodanya
Dengan sigap Nana menghadangnya agar tidak bisa menjangkau keberadaan Andi yang masih cukup jauh dari tempat mereka berdiri.
"Jangan-jangan dia cowokmu, tidak pantas sama sekali seorang cowok dengan wajah tampan dan berkharisma memiliki cewek dekil seperti kamu, harusnya dia menjadi milikku, bukan milikmu" Manda memandang rendah Nan yang berusaha menghalanginya untuk berdekatan dengan Andi
"Maaf, anda sangat salah jika menilai Nana seperti itu, dia adalah gadis cantik dan juga memiliki sikap serta sifat yang sangat baik. Bahkan dia sangat baik terhadap saya meskipun saya hanya orang biasa" Andi yang tidak bisa menerima jika Nana dijelakkan di depannya langsung
__ADS_1
"Wah, pasangan yang serasi rupanya, si buruk rupa dengan pangeran miskin. Namun, meskipun miskin boleh juga jika jadi pacarku" Manda masih saja berbicara seenaknya sendiri