
Alifa terdiam dari duduknya,mencerna kembali semua yang sudah terjadi.Masa lalu itu memang sudah jauh tertinggal,tapi kenangannya masih tersimpan dengan jelas di dalam memori otaknya.
"Al".Sahut Akmal,memanggil kekasih hatinya.
Alifa tidak bergeming,masih dalam posisi duduknya.
"Al".Sentak Akmal sembari mengenggam tangan Alifa.
"Hmmm".Ucap Alifa, gelagapan.
"Hai,kamu ngelamun lagi yah?,lagi mikirin apa sih?".Tanya Akmal.
"Gak ada".
"Hmmm,yakin?".Tanya Akmal,penuh selidik.
"Aku yakin dan saat ini aku memang tak ingin berbicara apapun".Ucap Alifa, memandang kearah Akmal.
"Baik,jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan.Tapi,ingat bagilah masalah mu dengan orang lain, apalagi kita sebentar lagi akan menikah.Komunikasi dan saling terbuka adalah kunci sebuah hubungan yang langgeng".Ucap Akmal, memberikan nasihat pada Alifa.
"Iya".Jawab Alifa,kembali tertunduk.
Akmal memegang dagu alifa,agar dia bisa melihat wajah cantiknya.Tanpa di sadari oleh Alifa maupun oleh akmal, kemesraan mereka berdua di lihat oleh Wardah.
Yah,Wardah merupakan salah satu sahabat alifa,sekaligus naksir sama Akmal.Mentor favoritnya, sekaligus pria idamannya itu.
"Apakah itu Alifa?".Tanya Wardah pada diri sendiri.
__ADS_1
Dia mengucek matanya sekali lagi,demi memastikan orang yang terlihat mesra di hadapan umum itu adalah sahabat nya dan juga mentor favoritnya.
"Iya,betul dia adalah Alifa.Kok dia sama Akmal sih,duduk berduaan, bermesraan pula".Sentak Wardah.Tiba-tiba emosinya meninggi.
Wardah yang memang naksir sama Akmal, diam-diam rasa cinta itu hadir di dalam hatinya, seketika itu pula dia menjadi membenci Alifa.Dia sudah termakan oleh rasa cemburu.Tak sadar tangannya mengepal,geram dengan kelakuan kedua insan itu.
"CK, katanya ngerti agama.Tapi, bermesraan di hadapan umum.Dasar munafik".Gertak Wardah.
Tak ingin menodai matanya dengan pemandangan dari dua insan yang tengah kasmaran itu,Wardah berlari pergi dengan perasaan dongkol.
"Ngakunya pandai ilmu agama,tapi malah bermesraan di tempat umum".Gerutu Wardah.
Dia memang tidak mengetahui hubungan Alifa dan akmal.Dia juga tak begitu mengetahui kehidupan Alifa,sebab persahabatan mereka terjalin karena menimba ilmu aga agama di tempat yang sama.Bukan terjalin berdasarkan perasaan tidak pula persahabatan mereka sama seperti yang lainnya.
Wardah yang memang naksir sama Akmal ini melewatkan peristiwa penting yang terjadi di kehidupan akmal termasuk kehidupan pribadinya yang sudah berubah status.
Alifa dan Akmal memang tidak mengetahui perihal Wardah yang memergoki dirinya dan juga Akmal,juga tidak memikirkan tentang sahabat nya,yang dia pikirkan adalah tempat dia mencari ilmu agama.
"Kok,aku rindu majlis ta'lim yah?".Gumam Alifa, bertanya pada akmal.
"Kamu rindu tempat nya atau rindu sama mentor nya?".Tanya balik Akmal,sambil mengedipkan mata.
"Iiih genit".Sahut Alifa,sembari mencubit perut Akmal.
Akmal mengasuh kesakitan."Aw,sakit sayang".Ucap Akmal, pura-pura kesakitan.
"Lebay deh".Alifa memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
__ADS_1
"Lebay lebay gini juga calon suami kamu".Celetuk akmal.
Alifa malas sekali menanggapi ucapan akmal,pria satu ini semakin ke sini malah semakin genit saja.
"Aku serius,mal".Ucap Alifa,menoleh kearah Akmal.
"Aku juga serius".Sahut Akmal.
"Iiih mulai deh".
"Hai Al".Ucap akmal sembari memegang bahu Alifa.
Alifa,tidak bergeming.Masih memalingkan wajah ke sembarang arah."Aku serius,mal.Aku rindu tempat mencari ilmu agama,aku rindu sahabat-sahabat ku,aku rindu men_".Alifa tak melanjutkan ucapannya.
"Rindu sama mentor nya".Sahut Akmal, melanjutkan ucapan Alifa.
Alifa membalikkan tubuhnya menjadi menghadap Akmal."Sotoy".Sahut Alifa, sembari berlari.
"Hai, tunggu"Teriak akmal
Alifa berlari menjauh dari Akmal,tak ingin rasanya dia terus di permalukan lebih tepatnya dia malu,ketahuan merindukan gaya penyampaian akmal yang menerangkan tentang ilmu agama.
"Wlee,kejar aku kalau bisa".Sahut Alifa,sengaja menjulurkan lidah pada Akmal.
Merasa tertantang Akmal semakin berlari dengan kecepatan tinggi,ingin rasanya dia memeluk tubuh Alifa sambil melabuhkan ciuman bertubi-tubi, tapi itu hanya rencananya saja.Sebab tak mungkin dia lakukan saat keduanya belum terikat oleh ikatan apapun.
Pada akhirnya Akmal membiarkan Alifa,pergi menjauhi nya sambil bergeleng kepala."Gemas".Itu yang tengah di rasakan akmal terhadap Alifa.
__ADS_1