
"Zy." Sapa Farel, menyentuh bahu Ozy pelan.
Ozy menatap teman-temannya dengan penuh arti. "Kok ada di sini?" Tanya Ozy lirih
"Pulang yuk," ucap Riki, yang di hadiahi gelengan cepat oleh Ozy.
"Pulang dulu, kak. Makan dulu, mandi dulu, udah itu lo boleh kesini lagi." Ucap Rita pelan, mengusap bahu Ozy pelan
"Elfi aja engga makan, engga mandi." Jawab Ozy pilu
"Iya kita tau, zy. Ayolah, Elfi emang udah engga ada, tapi semua tentang Elfi akan selalu ada di ingatan kita, zy." Ucap Ivan
Ozy menatap Ivan sinis, "kalian lebih baik pergi." Ucap Ozy dingin
"Kita gak akan pergi sebelum kakak ikut pulang sama kita." Ucap Zahra
Hening sesaat
Ozy menatap mereka satu persatu, "Atria engga ikut? Apa dia sakit?" Tanya Ozy, menatap Riki sang kakak. Sejujurnya Ozy tidak ingin teman-temannya merasakan hal yang sama seperti Ozy tapi apa boleh buat. Ozy tidak bisa berbuat apa-apa.
"Justu itu, kita bujuk lo dulu buat pulang. Udah itu kita cari Atria bareng-bareng." Ucap Riki lirih
"Atria hilang?" Tanya Ozy, yang di angguki oleh mereka.
Ozy menghela nafas lelah, lalu mengangguk, "gue pulang, ikut bantu cari Atria." Ucap Ozy
Mereka tersenyum
"Sayang, aku pulang dulu yah. Kamu tau? Temen kamu sampe ilang, ntah karna apa. Nanti aku ke sini lagi, kamu baik-baik di sana yah." Ucap Ozy lirih, sambil kembali menitikan air mata. Tangan nya mengelus nisan Elfi.
Ucapan Ozy pun membuat kedua gadis itu ikut menangis yang tak lain adalah Rita dan Zahra.
"Dia dari sekolah sebelah, cantik juga." Ucap Devon, menatap Atria dalam sambil membelai pipi Atria lembut.
Devon Pramudya, lelaki tampan yang tercatat di sekolah nya wajahnya mirip seperti opa-opa korea lebih tepatnya seperti Suho (cowok seksi di personil Exo menurut mimin😁). Hidungnya percis seperti Suho, bibirnya seksi, matanya tajam dan dingin, alisnya tebal.
Devon adalah orang yang menolong Atria, saat kecelakaan menyentuh tubuh Atria.
"Devon." Panggil sang mama
"Iya mah." Jawab Devon, matanya masih menatap Atria tak ingin mengalihkan nya dari wajah cantik Atria.
"Jangan lama-lama natap nya. Nanti suka! Oiya siapa namanya?" Tanya sang mama, mendekati sang anak yang menatap wanita tertidur di samping tempat ia berdiri.
"Udah suka kaya nya ini, mah." Kekeh Devon
__ADS_1
"Jangan! Siapa tau dia udah punya pacar."
Devon melengos, "Devon gak peduli, yang pasti Devon suka gadis ini." Ucap Devon tersenyum hangat.
"Siapa namanya sayang?" Tanya Dira mama Devon.
"Dari seragam sekolah nya Atria, mah." Jawab Devon
"Udah dapet alamatnya?" Tanya Dira
Devon mengangguk, "ada di hp nya."
"Udah di kasih tau keluarga nya?" Tanya Dira lagi
Devon menggeleng cepat. "Jangan dulu, mah. Nunggu dia sadar aja. Lagian, Devon nggak rela. Nanti dia ketemu pacarnya terus Devon sakit hati nanti." Jawab Devon pelan
"Kau ini!" Kekeh Dira
"Mamah tau? Ini pertama kalinya Devon tertarik dengan wanita." Ucap Devon
Dira mengangguk, iya akui Devon anak pertamanya ini tidak pernah bercerita wanita kepada nya. Tapi, mengapa dengan wanita yang terbaring ini, yang jelas tidak tau siapa dirinya, Devon malah menyukai nya.
Benar memang cinta tidak memandang waktu dan mungkin Devon terkena filling in love atau cinta pada pandangan pertama. Tapi aneh, bukan kah Devon tidak pandang-pandangan?
Drr drr handphone milik Riki bergetar
'Assalamualaikum, Riki.' Ucap Alira di sebrang sana
'Waalaikumsalam, iya mah?' Jawab Riki
'Kamu dimana sayang? Atria baik-baik saja kan?'
Riki menggigit bibir bawahnya, tidak tau harus mengatakan apa.
'Kenapa?' Bisik Ivan
Sebelumnya, mereka sekarang berada di rumah milik orang tua Ozy.
'Apa, mah? Duhh di sini sinyal nya jelek, mah. Udah dulu ya.' Ucap Riki dan
Tut
Riki menutup telepon sebelum Lira menjawab
"Kenapa?" Tanya Ivan
__ADS_1
"Mama nanyain Atria." Jawa Riki pelan
"Tengah lah, kak. Atria anak baik-baik saja." Ucap Rita
Riki mengangguk pelan, mencoba meyakinkan dirinya, tetapi ntah mengapa hatinya ragu.
"Atria kamu di mana sayang?" Tanya Riki, mengacak-acak rambutnya frustasi. Sudah berapa jam iya mencari Atria dengan teman-temannya. Tapi nihil, iya dan yang lain nya sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Atria.
"Atria kamu di mana?" Desah Rita, mencoba kembali menghubungi nomor Atria tapi lagi-lagi hanya operator yang berbicara.
Ini udah puluhan bahkan hampir kurang dari 300 Rita mencoba menghubungi Atria.
"Bikin khawatir aja." Ucap Zahra lirih
"ATRIA KAMU DIMANA? ARGGGH." Teriak Riki, menonjok aspal sampai tangan nya mengeluarkan darah.
"Riki." Teriak teman-temannya
"AKU CINTA SAMA KAMU! JANGAN TINGGALIN AKU! PLIS!" Teriak Riki, kembali menonjok aspal dengan kuatnya.
"Stop, ki." Ucap Ivan, menahan tangan Riki agar tidak melukai tangan nya sendiri.
"Cinta?" Tanya Ozy
Riki menatap Ozy, bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju taman yang ada di situ.
"Iya, gue cinta sama Atria." Ucap Riki mulai bercerita
"Gue dan Atria bukan adik kakak asli, Atria bukan adik kandung gue. Gue anak tunggal di keluarga Adriansyah. Atria anak dari mama tiri gue sekarang." Cerita Riki
"Gue menyadari itu udah lama. Ntah mengapa perhatian yang gue kasih berbeda sama Atria. Dan perhatian kakak kepada adiknya gue rasa lain." Lanjutnya
"Setelah gue waktu itu masuk rumah sakit itu. Gue ketemu mama dan di situ terjawab. Saat gue sadar dan pas gue udah boleh pulang kerumah , di malam hari nya gue tanya yang sebenarnya sama papa dan mama." Ucap Riki mengakhirinya cerita
"Jadi dugaan kamu waktu itu bener dong, yang." Ucap Farel menatap Rita
"Dugaan apa?" Tanya Riki
"Waktu itu Rita bilang sama gue, ngerasa ngeganjal sama perhatian yang lo kasih ke Atria melebihi kakak dan adik, ternyata..." Farel tidak meneruskan ucapannya.
"Kita harus nemuin Atria! Gue gak mau kehilangan orang yang gue sayang untuk ke dua kalinya!" Ucap Zahra
Mereka mengangguk
s
__ADS_1