
"CK, penghasilan aja gede tapi giliran pake mobil.Malah mobil gak modis".Keluh Brian,mengomentari mobil yang di pake oleh akmal.
Akmal acuh tak acuh dengan ucapan Brian, membiarkan dia mengomel sendiri.Toh,dia sudah bersama nya sudah sejak lama, seharusnya dia tau passion dan apa yang menjadi sikapnya.
Akmal memang memiliki pribadi dermawan,sikap itu di turunkan oleh sang ayah yang memiliki sikap dermawan dan rendah hati.Sikap kedermawanan nya itu lah yang membuat Akmal tak pernah malu ataupun risi dengan gaya mobilnya.Terkadang Akmal selalu menggunakan jasa angkutan umum.
Busway, salah satu transportasi umum yang selalu di gunakan nya,kalau pun dia di kejar waktu.Dia bisa menggunakan aplikasi jasa online.Mobil yang di gunakan nya pun terbilang mobil murah.
Tak heran jika Akmal merupakan bos idaman para karyawan.Akmal yang lemah lembut namun bisa juga memperlihatkan ketegasannya.Sungguh Akmal pandai menilai situasi dan juga bisa menempatkan diri.
"Terserah dah".Ucap Akmal,pasrah.Tak ingin mendebat asisten sekaligus sahabatnya itu.Hapal betul dengan sikap dan tabiat asisten nya itu.
Akmal dan Alifa tak memperdulikan Brian yang mengomel panjang lebar,memilih masuk ke dalam mobil."Sialan nih bocah,aku lagi ngomong malah di tinggal".Gerutu Brian,masih dengan mode protes nya.
__ADS_1
"Aku bukan sopir mu ya?,tolong kepada bapak Akmal untuk pindah posisi duduknya jangan terus menempel kayak cicak".Panjang lebar Brian mengomel, layaknya perempuan yang sedang PMS.
Brian menepuk jidatnya sendiri,merasa frustasi dengan kelakuan dua manusia berbeda jenis kelamin itu.Bisa-bisanya mereka mengabaikan ocehannya.
Yah,Akmal duduk manis di samping Alifa.Tepatnya duduk di belakang kemudi.Membiarkan Brian sendiri yang menyetir."Suruh siapa ikut kami dalam satu mobil pula".Keluh Akmal, menanggapi celotehan Brian yang berisik.
"Yah yah yah terserah dah".Sahut Brian,membanting dengan pintu sekeras-kerasnya.
Sepanjang perjalanan Akmal memperlihatkan Alifa berkas-berkas tentang para investor yang menanam saham di perusahaan mr.smith, memperhitungkan, menganalisis dan menarik kesimpulan.
"Hai,kalau pacaran bisa gak sih jangan di dekat orang jomblo". Celetuk Brian.
Sindiran itu membuat Alifa bergeser sedikit dari duduknya semula.Baru menyadari posisi duduknya dengan Akmal sangat dekat.
__ADS_1
"Sirik aja".Sahut Akmal,kembali menatap berkas yang ada di hadapannya.
"Lampu merah tuh".Ucap Alifa memperingati Brian.
Brian yang sedari tadi mengomel, sesekali menatap Akmal di belakang nya, refleks menginjak pedal gas.Perbuatan spontanitas nya itu membuat Akmal dan Alifa terjengkang ke depan.Akmal reflek menahan jidat Alifa agar tak ke pentok.
Akmal menatap tajam Brian."Kalau nyetir fokus ke depan bukan sibuk ngomel".Gertak Akmal,tak bisa menahan kesabaran lagi.
"Yah maaf".Ucap Brian penuh dengan penyesalan.
Sembari menunggu lampu hijau,Alifa menatap kearah luar.Memandangi sekitar,ekor matanya tak sengaja menangkap sesosok anak laki-laki penjual koran.
Hatinya terenyuh menyaksikan pemandangan di depannya, bagaimana tidak.Anak sesuai dia yang seharusnya di habiskan untuk bermain dan belajar,kini dengan terpaksa dia harus berjuang sebelum waktunya,di paksa dewasa sebelum umurnya,di paksa berusaha di tengah terik matahari dan di paksa untuk mengemis padahal hatinya meronta ingin kebebasan.
__ADS_1
Hati Alifa kembali menjerit, tatkala dia mengingat masa kecilnya.Ingin rasanya Alifa mengeluh dan menyerah, frustasi dan juga putus asa.Tapi,demi melihat anak sekecil itu haru berjuang di tengah kerasnya dunia.Membuat Alifa malu dengan perjuangan anak sekecil itu.
Alifa juga harus belajar bisnis di usia mudanya, lebih tepatnya di paksa.Tapu,tak seperti anak penjual koran itu.Tsk terasa air matanya menetes, membasahi pipinya.