Cinta Datang Terlambat

Cinta Datang Terlambat
BAB 37 (TIGA PULUH TUJUH)


__ADS_3

"Ivan! Bangun ***!" Teriak Farel, mengguncang-guncangkan tubuh Ivan dengan kasarnya.


Ivan menggeliat, lalu mengejrap matanya, "loh lo kok bisa masuk?" Tanya Ivan serak


Zahra terusik dari tidurnya, tak perlu waktu lama ia pun membuka matanya. Pandangan yang pertama Zahra liat adalah Rita yang menatapnya dengan pandangan tak percaya.


"Kalian?" Ucap Zahra


"Apa yang udah kalian lakuin?" Tanya Farel dingin


"Gue gak lakuin apa-apa, Rel. Kita cuman tidur bareng, kalau gak percaya tanya aja Zahra." Jawab Ivan jujur apa adanya


Farel menatap Zahra tajam, menuntut kejujuran di sana.


"Kita engga ngelakuin apa-apa, kak. Bener apa yang di bilang kak Ivan." Ucap Zahra jujur


Karna memang kenyataan begitu setelah mereka baikan, mereka tertidur. Terlebih lagi Zahra yang matanya terasa perih karna menangis, ya pasti nikmat untuk tidur.


"Engga bohong kan?" Tanya Rita.


"Kamu engga percaya sama aku, Rit?" Tanya Zahra, menatap Rita dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bukan gitu, Ra...


"Apa? Cuman kurang percaya, gitu? Iya?" Teriak Zahra, bangkit dari tidur nya dan menatap Rita dalam, air matanya kembali menetes.


"Jangan bentak pacar gue." Teriak Farel, berdiri di tengah-tengah Rita dan Zahra, matanya menatap Zahra tajam.


"Lo juga gak usah pake teriak-teriak sama pacar gue." Teriak Ivan, menarik Zahra pelan dan menyembunyikan nya di belakang tubuhnya.


"Bayangin, van. Lo telanjang dada, tidur dalam selimut yang sama dan saling berpelukan. Orang-orang juga pasti ngiranya lo ngapa-ngapain sama Zahra." Ucap Farel tajam


"Tapi kenyataannya gak kaya yang lo bayangin, Rel." Teriak Ivan tak kalah tajam


"Terus kenapa lo pulang? Lo tau? Elfi di rumah sakit sekarang. Ozy, Atria dan Riki nungguin Elfi di rumah sakit. Kalian enak-enakan tidur di sini berdua?" Teriak Farel


"Elfi sakit?" Tanya Zahra, mengubah posisi menjadi di samping kanan Ivan.


"Iya! Kita belum sempat ke rumah sakit karna kita nyariin kalian berdua." Ucap Farel datar.


"Kita...


"Kita engga tau gitu, karna kita lagi enak berduaan, gitu?" Teriak Ivan memotong ucapan Zahra.


"Bisa santai dikit gak, Rel? DIA ITU PACAR GUE, kalau lo masih anggap gue temen lo, TOLONG HARGAI KEKASIH GUE." Teriak Ivan penuh penekanan.


Farel hanya melengos


"Bangun yang!" Isak Ozy, memeluk erat tubuh Elfi yang telah tidak bernyawa tapi masih terasa hangat.


30 menit yang lalu setelah kedua orang tua Elfi datang, mereka langsung menemui Dokter Maria. Dimana dokter Maria mengatakan bahwa Elfi mempunyai penyakit otak stadium 3.


Masih stadium 3 itu artinya Elfi masih bisa terselamatkan. Setelah memberi tahu pada Ozy, kedua orang tua Elfi menandatangani surat kemo untuk Elfi.


Tapi ternyata tuhan berkehendak lain, sang maha kuasa ternyata lebih sayang pada Elfi.


Mama Elfi masih pingsan, mendengar putri sematawayang nya ini telah tiada. Sang papa memandang tubuh kaku sang anak dalam isak, sambil mengusap jari jemari tangan sang istri.


Atria? Jangan di tanya, dirinya sama halnya dengan mama Elfi pingsan tapi masih tersisa air mata di sudut mata nya Atria.

__ADS_1


"Bangun sayang, aku sayang kamu, pliss bangun demi aku demi orang-orang yang kamu sayang." Isak Ozy, di eratkan nya pelukan pada tubuh Elfi, air matanya tak terkendali mengalir terus tanpa ingin terhenti.


Tak lain dengan Riki iapun menangis dalam diam.


"Jangan bertengkar." Ucap Elfi lirih


"Elfi?" Ucap mereka


Elfi tersenyum, "baikan, gue gak suka liat lo bertengkar." Ucap Elfi mendekat lalu menarik tangan Rita dan Zahra untuk bersalaman.


"Lo baik-baik aja, fi?" Tanya Rita, menatap wajah Elfi yang begitu pucat pasih


Elfi tersenyum, "gue baik-baik aja, Rit percayalah Zahra tidak melakukan apa-apa dengan kak Ivan." Ucap Elfi


Rita mengangguk, "gue percaya, Fi."


"Sekarang baikan dan saling minta maaf." Ucap Elfi


"Maafin gue, Ra." Ucap Rita


"Gue juga minta maaf." Ucap Zahra, lalu berpelukan


Elfi tersenyum, "baik-baik tanpa gue yah." Ucap Elfi lirih, "oiyah, kak Farel juga sama kak Ivan baikan dong." Tambahnya


"Maksudnya lo apa?" Tanya Zahra, menatap Elfi meminta penjelasan.


"Kak Farel sama kak Ivan ayo dong baikan." Ucap Elfi


"Sorry." Ucap Ivan


"Gue juga." Ucap Farel dan bertos ria


"Fi!" Ucap Rita, "mau kemana?" Tambahnya


"Ke rumah sakit lagi?" Tanya Zahra, Elfi tersenyum lalu mengangguk. Berjalan cepat lalu menghilang di balik pintu


"Susul." Ucap Zahra, mereka mengangguk


Rita mengambil handphone dari saku dadanya, lalu mengecek pesan masuk yang tertera namanya di sana Ayang Atria💜


Rs bla bla bla...


"Elfi bangun sayang." Isak Ozy lirih, masih setia memeluk tubuh Elfi yang mulai kaku dan dingin.


Drr drr handphone milik Atria bergetar


Rita sayang❤


+6283+++++++++


Riki segera menyentuh tombol hijau


'Hallo, Tri.' Ucap Rita di sebrang sana


'Iya.' Jawab Riki parau


'Eh kak Riki, ruang Elfi dimana?'


'IGD'

__ADS_1


'Oh oke makasih kak'


Tut telepon terputus


"Mas...


"Jangan sentuh!" Teriak Ozy menatap sang suster dengan tatapan tajam


"Biarkan, kami butuh waktu." Ucap Papa Elfi lirih


Suster itu hanya mengangguk lalu keluar dari ruangan.


Atria membuka matanya perlahan, lalu bangkit dari tidurnya. Pertama matanya tertuju pada tubuh kaku Elfi yang di dekap erat oleh Ozy.


Atria kembali menangis, berjalan pelan di bantu Riki mendekati dimana Elfi dan Ozy berada.


"Fi, lo gak mau bangun?" Tanya Atria lirih, di dekapnya tubuh Elfi oleh Atria.


"Bangun Fi, kita sayang sama lo plis bangun." Bisik Atria lirih di samping telinga kiri Elfi


"Kamu denger sayang, bangun kita sayang kamu kamu!" Ucap Ozy pelan


"El...


"Loh Elfi kenapa?" Tanya Rita pelan, menghampiri Atria.


Mereka diam tidak ada yang menjawab.


"Kak...


"Elfi udah meninggal." Potong Riki cepat dengan suara lirih


"Elfi engga meninggal *** dia cuman tidur." Teriak Ozy menatap Riki dengan sorot mata tajam


Riki hanya diam, di tundukan nya kepala, terpukul melihat Ozy dan adiknya yang begitu antusias berharap Elfi akan kembali.


Rita menggeleng, "engga mungkin, tadi sekitar 20 menit yang lalu kita ketemu sama Elfi di apartemen Ivan." Ucap Rita lirih, air matanya pun tak bisa di tahan akhirnya jatuh juga.


"Apa yang kamu katakan? Elfi meninggalkan 1 jam yang lalu sebelum kalian ada di sini." Jawab Papa Elfi


"Om Elfi gak mati!" Desah Ozy pelan menatap papa Elfi sedikit tajam.


"Fi," ucap Zahra lirih, ikut dengan Ozy dan Atria Zahra dan Rita pun langsung memeluk tubuh Elfi.


Ivan dan Farel membeku, bagaimana bisa? Seriusnya mereka bener jujur mereka baru saja bertemu Elfi 20 menit yang lalu sebelum mereka sampai sini.


"Elfi," igau sang mama, "jangan tinggalin mama, nak. Mama sayang kamu."


Jenazah Elfi sedang di ajikan, Ozy, Riki, Farel dan Ivan berada di kamar Elfi mengendalikan Ozy yang terus mengamuk dan mengatakan Elfi belum meninggal.


Mereka menatap keadaan Ozy iba, baju seragam yang telah acak-acakan, mata sebab dan merah, rambut acak-acakan seperti berandal. Mereka mengerti jika seandainya posisinya berada di posisi Ozy sekarang, mereka pasti akan melakukan hal yang sama.


"Lepasin gue, Elfi belum mati *** dia cuman tidur." Teriak Ozy, matanya tidak berhenti menangis.


"Papa sayang kamu. Tapi ternyata tuhan lebih menyayangimu, papa coba ikhlasin kamu sayang." Ucap sang papa, mengelus puncak rambut sang anak lalu meninggalkan ciuman di kening, mata, hidung, dan terakhir kedua pipi Elfi.


"Elfi belum mati pah." Isak sang istri ketika merasakan kembali pelukan sang suami.


Papa Elfi hanya mengeratkan pelukan nya sambil mengusap pipi sang istri.

__ADS_1


Tak lain kacaunya dengan ke tiga cewek yang masih menatap tubuh Elfi, sangat pucat. Berbeda dengan Elfi yang selalu tersenyum, ceria, bawel, menyebalkan.


Sekarang Elfi bertubuh kaku, tidak ada senyum di bibir pucatnya.


__ADS_2