
"Alifa, disini kamu rupanya".Ucap akmal yang sedari tadi memperhatikan kinerja kerja Alifa.Memantaunya dari kejauhan,takut kehilangan sosok yang di carinya.
Yah,Akmal selalu mencari Alifa, kemanapun dan dimana pun,tak terpikirkan untuk mencarinya di desa pedalaman.Hingga pergantian kepemilikan dari cabang cafe yang di kelola oleh ayahnya sendiri, berpindah tangan untuk dia urus.
Keputusan nya ternyata tepat,karena disini lah dia bisa menemukan seseorang yang di carinya.Pedalaman di salah satu kabupaten Bandung barat ini,memang belum sepenuhnya ramai.Masih ada suasana pedesaannya,tak ayal lokasi ini cocok untuk orang yang ingin menenangkan diri atau membuka usaha dengan mengambil view alam.
Alifa yang kini tengah mengantarkan makanan kepada pengunjung cafe karena dia adalah seorang pramusaji,tak menyadari bahwa dia tengah di awasi oleh Akmal,bekerja tanpa kenal lelah dan mengeluh sedikitpun itu dia lakukan untuk menyambung hidupnya.
"Apa yang menyebabkan kamu menjadi seperti ini,Alifa?padahal kamu putri seorang konglomerat ".Akmal bertanya-tanya pada dirinya sendiri,belum tau permasalahan yang di hadapi si wanita pujaan hatinya.
Sesak dada ini,melihat sang wanita rela mengerjakan apa saja,banting tulang meski berasal dari keluarga kaya raya.Bertanya-tanya tentang apa yang terjadi terhadap dirinya dan juga kehidupan dalam keluarganya.Ternyata Akmal yang terkenal serba tau itu,tak mengetahui kehidupan wanita pujaan hatinya di masa lampau.
Inilah sebab nya yang menyebabkan Akmal penasaran sekaligus menatap takjub pada diri Alifa setaunya Alifa adalah wanita yang mandiri, keras kepala dan kuat.
__ADS_1
Sementara Alifa yang di pandangnya,dengan sabar melayani tamu yang datang,menulis dan mengantarkan menu pada pengunjung tersebut.Tidak merasa keberatan sebab dia sadar betul dunia kerja itu kejam dan kehidupan dunia sangat lah keras.Siapa yang kuat berarti dia yang bisa bertahan hidup.Itulah hukum evolusi dunia.
Tak ada yang tau di balik jiwanya yang keras tersimpan luka hati yang menganga lebar dan batin yang setiap harinya di tempa siksaan.Rindu tak bisa tertahan terhadap keluarga juga tersimpan dendam di dalamnya.
Di tengah kecamuk jiwanya,hancur hatinya.Alifa harus berjuang sendirian,tiada teman,tiada sanak keluarga yang bisa dia jadikan sandaran hidup.Begitu lah hidup nya.Belum lagi hatinya yang terluka akibat perasaan cintanya yang datang terlambat di saat sang pria telah memiliki kekasih.
Aktivitas Alifa hanya seputar kerja,kerja,kerja dan kerja,tak ada waktu untuk memikirkan hal lainnya termasuk rencananya untuk menyusun aksi balas dendam terhadap ayah kandungnya sendiri.
"Aish, ternyata lelah juga yah".Gumam Alifa yang duduk selonjoran, setelah mengantarkan menu terakhir pada pengunjung nya.
"Hai anak baru".Teriak Akmal memanggil Alifa yang tengah duduk selonjoran.
Alifa celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, memastikan ada tidaknya orang,selain dirinya.Ternyata hanya dirinya seorang.
__ADS_1
"Aku?".Tanya Alifa,menunjuk dirinya sendiri .
"Iya kamu,yang duduk selonjoran enak-enakan saat yang lain Tengah sibuk kerja".Gertak Akmal,tak suka melihat karyawannya duduk-duduk seperti orang malas.
Dengan malas,Alifa melangkah mendekati Akmal.Rasanya tak terima dia di gertak begitu saja.
"Kan,saya duduk juga karena udah gak ada kerjaan lagi".Ucap Alifa,malas .
"Gak ada kerjaan bukan berarti kamu bisa duduk, enak-enakan.Lihst karyawan yang lainnya,masih sibuk".Sahut Akmal, telunjuknya terarah pada dapur kotor,menunjuk salah satu karyawan yang tengah sibuk mencuci piring bekas pengunjung.
Alifa mengikuti arah telunjuk Akmal,berdecak sebal melihat pekerjaan yang bukan bagiannya masih sibuk bekerja.
"Kamu paham kan maksud saya?".
__ADS_1
Alifa yang paham, tanpa di suruh dua kali melangkahkan kaki dengan malas, seharusnya itu bukan tanggung jawab Alifa.Toh Alifa mendapat pekerjaan bukan sebagai pencuci piring