
Deon telah sampai di rumah sakit terdekat dengan membawa renata dalam gendongan nya,tadi sepanjang perjalanan dia amat gelisah dengan keadaan renata yang belum kunjung membuka matanya.
Dengan langkah lebar,dia berlari agar cepat sampai."Tolong,cepat ambil brankar,teman saya kesakitan".Teriak Deon,begitu sampai di loby rumah sakit.
Para tim medis yang kebetulan lewat dengan cekatan membawa brankar untuk pasien.Deon membaringkan tubuh renata diatas brankar itu dan berlari sembari membawa brankar menuju ruangan pemeriksaan.
Sepanjang perjalanan menuju lorong rumah sakit,Deon tak henti-hentinya memandang kearah Renata.Memastikan keadaan nya,tapi persis setelah dia berada di luar ruang rawat,dokter menyuruhnya untuk menunggu di luar.
"Tolong,bapak tunggu di luar".Ucap lembut,dokter jaga.
"Ok".Sahut Deon, melepaskan brankar itu dengan tatapan tak lepas dari tubuh renata.Sekali lagi, memastikan.
Deon duduk di ruang tunggu sembari memperhatikan sekitarnya sesekali dia melihat jam di pergelangan tangannya."Lama sekali".Keluh Deon.
Rasa bosan melanda diri deon,belum lagi rasa kantuk itu menyerangnya berbarengan dengan rasa bosan dan jenuh menunggu dokter ke luar.
"Hoam".Deon,mengeliat.Tak tahan dengan rasa kantuknya.
Tak terasa dia sudah terlelap,di buai mimpi indah yang memabukkan.Dalam mimpinya,dia melihat senyum indah milik renata.Tapi, senyuman itu sirna seiring kabut hitam membayangi tubuhnya.Perlahan tapi pasti kabut itu telah menenggelamkan tubuh renata, hingga dia kesakitan.
"Sakit".Pekik renata, kesakitan.
__ADS_1
Deon yang berada tak jauh dari tubuh renata,hendak menolongnya.Tapi, alih-alih dia menolong,tubuh renata tak bisa di gapai,seperti transparan dan pada detik berikutnya tubuhnya lenyap tertelan kabur hitam.
"Tolong...Tolong..Tolong,aku".Teriak minta tolong renata.
Lagi,Deon tak bisa membantu.Bagaimana lah dia bisa membantu,toh Renata semakin hilang tertelan kabut hitam yang entah darimana dan bagaimana bisa muncul.
"Tidak jangan".Teriak Deon.
Tak sadar dia berjingkrak bangkit dari tidurnya, dengan tangan yang seperti hendak menggapai sesuatu.
Deon tergugu,saat dia menyadari bahwa apa yang tadi di alaminya hanya lah sebuah mimpi.Keringat dingin membasahi pelipis Deon.Tak sadar dia terengah-engah, seperti sudah melakukan lari maraton saja.
Dia mencoba menetralisir rasa takut yang berlebihan.Perasaan ini baru pertama kali dia rasakan, sebelum -sebelumnya dia tak merasa kehilangan.Bahkan saat Alifa pergi pun,dia tak berusaha mencari meski rasa rindu dan penyesalan menggerogoti hatinya.
Plak
Deon menampar pipinya sendiri,mencoba menyadarkan dirinya dari perasaan aneh.Senyum manis renata, seakan tak pernah hilang dan lagi kabut hitam itu masih terngiang-ngiang dalam pikiran Deon.
"Sebenarnya apa maksudnya?". Tanya Deon,pada diri sendiri.
Di saat kebingungan dan rasa kehilangan Deon terhadap renata.Saat itu pula, kebetulan dokter yang memeriksa renata keluar dari ruangan rawat.
__ADS_1
"Dengan keluarga pasien?". Tanya dokter.
"Yah saya".Sahut Deon,sembari berdiri.
"Mas ikut dengan saya". Perintah dokter.
Belum hilang rasa bingung nya,Deon berjalan mengikuti dokter yang memeriksa renata ke ruangan nya.Langkah kami Deon, seakan mengambang di tanah,tak nampak pijakan nya.
"Jadi, bagaimana?". Tanya deon,begitu sudah duduk di kursi dengan saling berhadap-hadapan.
Dokter melepas kacamatanya, seakan ragu untuk mengungkapkan hasil pemeriksaannya.
"Pasien yang anda bawa tadi".Dokter menjeda kalimatnya."Dia, mengalami depresi berat ".
"Apa?".Pekik deon,tak percaya.
...
***Jangan lupa like,komen,vote dan hadiahnya nya yah.
Terimakasih telah membaca dan ikuti terus cerita nya sampai habis***.
__ADS_1