Cinta Datang Terlambat

Cinta Datang Terlambat
Part 68


__ADS_3

"Sabar Alifa,kamu harus kuat.Kalau kamu terbiasa dengan badai, kenapa kamu harus menggigil hanya karena hujan?, semangat Alifa,ingat kamu masih punya masa depan yang harus kamu perjuangan".Gumam Alifa, menasehati diri sendiri untuk selalu kuat,tak menyerah begitu saja pada keadaan.


Susah payah Alifa menguatkan diri sendiri, biarlah dia menanggung segala beban hidupnya sendiri.Toh, berbagi cerita dengan yang lain pun buat apa jika pada akhirnya itu hanya di jadikan bahan gunjingan saja.


Seperti yang di perkirakan Akmal,memang weekend ini terasa pengunjung lebih banyak daripada weekend -weekend sebelumnya.Entah mungkin pengunjung sudah mengetahui tentang ketampanan dari pemilik cafenya atau hanya sekedar penasaran saja.


Alifa melayani pengunjung tanpa kenal lelah, tersenyum ramah menyambut pengunjung yang datang.Menawarkan menu baru atau hanya sekedar berceloteh ringan.Tentu hal itu harus dia lakukan agar menarik minat pelanggan sebagai bentuk ke ramah tamahan.


Semua karyawan sibuk dengan bagian pekerjaanya masing-masing,termasuk Akmal yang di sibukkan dengan berkas-berkas di mejanya.


Ada tiga berkas yang ada harus di selesaikan nya.Berkas itu terdiri dari berkas pendapatan dan pengeluaran,bahan makanan,dan gajih karyawan.Ada perombakan besar-besaran di dalam sana,menuangkan ide dan gagasannya mengenai gajih karyawan dan juga menu yang ingin dia tambahkan agar semakin menarik minat pengunjung.


Bukan hal baru bagi Akmal,karena dia sudah terbiasa dengan urusan mengatur gajih karyawan.Tapi,masalah menu tentu itu adalah hal yang baru dan asing baginya.


"Rumit.Ternyata tak semudah apa yang di bayangkan".Keluh Akmal,menyesali keputusannya untuk memegang cabang cafe yang sebelumnya di pegang sang ayah.


"Tapi,rasa sulit ini sebanding dengan di temukan nya Alifa".Gumam Akmal,tersenyum kala membayangkan wajah cantik Alifa.


"Sabar sebentar Alifa,aku akan membawa mu keluar dari kerasnya kehidupan dan ku pastikan kamu akan kembali ke dalam keluarga mu".Ucap Akmal, berapi-api.Tak mengetahui masalah yang di hadapi Alifa tak semudah apa yang di bayangkan nya.


Lupa, bertanya atau hanya sekedar tau tentang perasaan Alifa yang teramat terluka.Bukan hanya masalah keluarga.Namun,juga karena patah hatinya yang tak ingin membuatnya kembali.Lebih memilih pergi sejauh mungkin,mencari kedamaian versinya.


Tak terasa waktu terus bergulir terlalu cepat,siang berganti malam,sinar matahari di gantikan oleh sinar bulan dan gemerlap bintang yang bertabur menghiasi langit malam.

__ADS_1


Pukul sembilan malam adalah waktu berakhir pekerjaan mereka,rehat sejenak untuk mengistirahatkan tubuh mereka sebelum esok hari harus kembali di sibukkan dengan rutinitas.Tapi,tidak untuk Alifa.Dia harus tetap bekerja sebagai hukuman.Terpenjara di balik bangunan yang bertuliskan 'cafe'.


"Al kamu gak pulang?".Tanya Fahri,hendak bersiap-siap keluar cafe.


"Gak bang,saya lagi kena hukuman karena kemarin main ngambil jatah libur seenaknya saya.Abang pulang duluan saja".Sahut Alifa,sibuk dengan kegiatan mengepelnya.


"Kamu gak papa sendirian?".Tanya Fahri, khawatir.


Yah,gimana dia tidak khawatir sedangkan Alifa harus kerja lembur sendirian,mana perempuan pula.Ternyata hanya Alifa saja yang kerja lembur sebagai hukuman.


Alifa meletakkan gagang pel ke dalam ember,menatap Fahri penuh keyakinan."Aku gak papa fah,aku bisa menjaga diri sendiri kok".Balas Alifa,tersenyum manis.


"Aku temani yah?".


"Dan kamu segera pulang ke rumah atau kamu juga bisa kena hukuman sama seperti Alifa".Gertak Akmal,memberikan sebuah ancaman.


Fahri tak mau mengambil resiko, menuruti perintah sang bos adalah posisi teraman nya.Segera melenggang keluar.


"Dan kamu".Akmal menunjuk Alifa dengan tatapan sama tajamnya.


"Ikut aku ke ruangan saya".Ucap Akmal, menginterupsi Alifa.


Alifa mengikuti langkah Akmal dari belakang,menjaga jarak antara atasan dan bawahan.

__ADS_1


"Kamu hitung jumlah laba dan rugi dari cafe ini".Perintah Akmal pada Alifa saat mereka sudah ada di ruangan Akmal.


"Berkasnya mana pak?".Tanya sopan Alifa .


"Nih".Akmal melempar berkas itu ke hadapan alifa.


Alifa sigap menangkap berkas itu dengan hati dongkol."Aish,gak sopan bener.Kalau bukan karena butuh,mana mau aku bertahan disini".Gerutu Alifa.


"Aku dengar yah".Sentak Akmal,duduk kembali di kursi singasana nya.


"Dengar terus,kapan tidaknya".Gumam Alifa lirih,tak ingin omelannya terdengar lagi oleh Akmal.


Berjalan ke arah sofa yang berhadapan dengan kursi yang di duduki Akmal,hanya itu yang bisa Alifa pilih meski enggan.Tapi,tak ada posisi yang lebih baik dari itu.


Fokus dengan kegiatannya untuk menghitung laba rugi cafe,Alifa tak menyadari tatapan Akmal yang tak pernah lepas dari dirinya.


Dua jam Alifa habiskan untuk membuat laporan, tak terasa matanya sudah tak kuat untuk menahan kantuk.Beberapa kali dia menguap,di tengah rasa pusingnya akibat di hadapkan dengan membuat laporan serta menghitung laba rugi cafe.


Akmal yang memperhatikan Alifa,tak tega melihat Alifa yang sudah merasakan kantuk.Bangkit dari duduknya untuk menghampiri Alifa.


"Kalau lagi nguap,tutup mulutnya".Ucap Akmal,tanpa sengaja tangannya menutupi mulut Alifa yang sedang menguap.


"Ok".Jawab singkat Alifa,tak kuat dengan rasa kantuknya.

__ADS_1


Tubuh Alifa ambruk ke samping akibat dari tak bisa menahan kantuknya.Dengan sigap Akmal menahan tubuh Alifa agar tak jatuh ke lantai.Mengendongnya ke tempat peristirahatan pribadinya.


__ADS_2