
Deon terus membekap Alifa dalam pelukannya memberikan ketenangan dan kekuatan pada tubuh tingkah itu.Ternyata,Alifa yang di kenalnya berwatak keras kepala ini,di karena kan untuk melindungi dirinya yang lemah.Tak,ingin semua tau beban hidup yang selama ini di pikulnya.
"Lepas,kamu bukan muhrim untukku". Begitu tersadar,Alifa mendorong dada bidang Deon.
"Maaf".
"Kenapa kau lakukan itu padaku?".Seakan tanpa lelah Alifa bertanya tentang alasan Deon ikut campur dalam masalahnya.
"Aku ingin kau berdamai dengan orang tua mu.Jangan menyimpan dendam terlalu lama karena itu tidak akan baik untuk mu dan juga untuk hidup mu Biarkan semua berjalan seperti seharusnya".Di tatapnya wajah Alifa yang memancarkan kemurkaan.
"Apa yang kau tau tentang hidup ku?".Kini Alifa menatap tajam pada laki-laki yang sok tau ini.
"Semuanya.Semua yang kau alami dan apa saja yang sudah kamu lakukan".
Alifa tersenyum sinis menanggapi ucapan Deon, percaya diri sekali dia."Hebat,luar biasa'.Alifa bertepuk tangan mengagumi tingkat kepercayaan diri Deon yang high level itu.
"Kenapa?".Kini Deon yang balik bertanya,merasa di remehkan oleh sosok wanita yang pernah mengisi relung hati nya.
__ADS_1
"Anda termasuk spesies orang langka".
Kesunyian menyelimuti keduanya,tak ada lagi yang melontarkan pembicaraan.Sibuk menerka pikiran masing-masing.
Deon menatap lekat pada wajah Alifa.Wajah yang selama ini dia tau menunjukkan kearoganan dan keangkuhan.Kini,wajah itu berubah sendu.Seakan ada awan hitam yang menutupi wajah cantiknya.
Ingin rasanya Deon memeluk erat Alifa.Membisikan kata-kata yang motivasi untuknya.Tapi,tidak mungkin Deon lakukan.Sebab itu pasti akan memancing emosi nya.Kesedihan,kecewa,marah dan dendam bercampur menjadi satu.Sebenarnya Deon tak tega melihat Alifa terus hidup di bayang-bayangi oleh rasa dendamnya.Namun, lagi-lagi emosi Alifa yang masih labil membuat Deon harus bersabar.Menunggu kesempatan itu datang.
Tatapan Alifa kosong, seakan tengah memikirkan sesuatu.Tak ada yang bisa menebak isi hatinya.
"Dengar,hiduplah dengan damai.Jangan membawa dendam dalam hidup mu".Deon yang tadinya berdiri,kini duduk bersila di samping Alifa yang terduduk sambil memegang kedua lututnya.
Seketika Deon melongo, mendengar kata-kata yang baru diucapkan oleh Alifa."Aku?".Tanyanya sembari menunjuk mukanya.Di tatapnya wanita cantik yang tengah bersedih itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu".Kini Deon tak sabaran mendengar kejujuran Alifa.Tak mungkin kan,dia juga mencintainya?.
"Jangan bertanya pada ku.Tapi,pada hati mu?".Alifa menunjuk Deon di bagian dadanya.
Alifa bangkit dari duduknya,malas terus berbasa-basi dengan orang yang sama sekali tak peka akan perasaan orang lain.Membiarkan dirinya sendiri yang menyadari perasaan orang lain.
"Mau pergi kemana?".
"Pulang".Nada bicara Alifa terdengar ketus.Lengkap sudah penderitaan nya.Sudah,hatinya di sakiti oleh ayahnya.Kini, laki-laki yang ada di sampingnya ikut menambah sakit di hatinya.
" Kita belum selesai dan yah kamu belum memaafkan ayahmu".
"Untuk apa aku harus memaafkannya.Jika,kebaikan ku di balas dengan kekecewaan.Rasa peduli ku di balas dengan pengkhianatan.Sekali lagi aku tekankan,aku tidak dendam hanya tidak akan lupa pada mereka yang sudah menyakiti hatiku.Kau camkan itu dan ingat baik-baik.Orang yang sabar tidak akan selamanya sabar.Begitu pun orang pendiam,tidak akan diam bila terus di injak".Setiap kata yang terlontar dari bibir Alifa mengandung pesan dan kesan yang tersirat.
Alifa beranjak pergi,merasa urusannya sudah selesai.Tak ada yang perlu di bahas lagi.Meski itu mungkin tak adil untuk hidupnya.
"Tapi,apa salahnya memaafkan?, hiduplah dengan damai Alifa.Tak semua orang jahat,itu memiliki hati yang buruk".Teriak Deon agar dapat di dengar oleh Alifa.Sedangkan,Alifa terlihat acuh.Tak peduli dengan semua omong kosong yang terucapkan oleh bibir Deon.
__ADS_1
Tetap melangkah pergi,tanpa harus menjelaskan."Biarkan waktu yang akan menyembuhkan luka ku".Balas teriak Alifa tanpa menoleh sedikitpun.
Deon menatap kepergian Alifa dengan wajah frustasi.Gagal sudah rencananya.