Cinta Datang Terlambat

Cinta Datang Terlambat
Part 78


__ADS_3

Apa yang di lakukan dan apa yang di ucapkan oleh Alifa tak luput dari pengawasan Akmal.Yah,Akmal memantau dari kejauhan kegiatan Alifa di pagi hari ini.Bukan,tanpa alasan Akmal melakukan ini semua sebab dirinya masih mencintai Alifa.Hubungan mereka belum berakhir,Akmal berharap masih ada kesempatan untuk bisa kembali memperbaiki semua.


Toh,mereka sudah sama-sama dewasa,sudah bisa memilah dan memilih keputusan mana yang terbaik untuk mereka.


Sakit,itu yang di rasakan akmal terhadap Alifa karena si kembang desa itu menjadi bahan gunjingan tetangganya sendiri dan menjadi korban gombalan pria.Tak hanya pria yang masih single saja,melainkan pria beristri juga masih sempat -sempat menggoda wanita lain.Sungguh tak bersyukur sekali laki-laki seperti itu.


Akmal membuntuti Alifa dengan menjaga jarak dan bersembunyi dari kejauhan,menghindari kecurigaan Alifa.


"Alifa,si kembang desa.Bagaimana kamu bisa menjalani kehidupan kamu di tengah-tengah kerasnya hidup berdampingan dengan tetangga yang suka bergosip?".Gumam Akmal,bertanya pada udara kosong.


Alifa tak menyadari keberadaan Akmal yang mengawasinya dari kejauhan.Mungkin,Akmal masih memikirkan perdebatan mereka waktu itu.Tapi,bagi Alifa itu sudah tertinggal jauh di belakang.Tak perlu mengingat apa yang sudah terjadi,menyesal pun tiada guna.Hanya satu yang selalu Alifa ingat,rasa sakit hatinya karena ulah sang ayah yang tak bisa di lupakan begitu saja.


"Sepertinya aku harus berbicara baik-baik dengan Alifa,agar aku bisa tau apa yang dia rasakan,apa pemikirannya dan planning ke depannya.Ini semua tidak bisa di biarkan berlarut-larut".Ucap Akmal,prihatin dengan kehidupan Alifa.


Saat ini Alifa tengah duduk di pinggir jalan sambil menikmati kesejukan angin di pagi hari.Mengistirahatkan kaki untuk sementara karena di paksa untuk tetap berlari.


Krucut..Krucut.. Krucut.

__ADS_1


Di saat itu pula perutnya mengeluarkan bunyi nyaring.Meminta sang empu untuk mengisi nutrisi terlebih dulu untuk di jadikan tenaga.


"Aish,dasar perut tak tau situasi dan kondisi.Tau ini lagi di luar,mana gak ada satupun pedagang lagi".Ucap Alifa,mengomel pada diri sendiri karena tak ada satupun pedagang di dekat tempat istirahat nya.


Alifa kembali melanjutkan aktivitas olahraga lari paginya,mencari pedagang yang menjual makanan ringan untuk di isi.


"Nah itu dia".Ucap Alifa saat ekor matanya menangkap pedagang bubur yang sering mangkal.


Kembali Alifa berlari-lari kecil menuju gerai pedagang bubur itu yang berada di sebrang jalan."Mang bubur komplitnya satu yah".Ucap Alifa memesan bubur.


Dengan sigap tangannya bekerja dengan gesitnya.Tak ingin membuat pembeli menunggu lama."Ini neng,bubur komplitnya sudah jadi".Ucap si pedagang bubur, menyodorkan mangkuk berisi bubur komplit dengan sate usus dan sate telur.


"Iya, terimakasih pak".Sahut Alifa tak lupa mengucapkan terimakasih pada pedagang bubur itu.


"Hmmm,menggoda selera".Gumam Alifa.


Melahapnya dengan rakus seperti orang yang belum makan saja.Maklum lah lari pagi suka bikin orang mudah merasa lapar.

__ADS_1


Setelah bubur itu habis tak bersisa,Alifa tak langsung beranjak pergi.Membiarkan terlebih dahulu perutnya memproses bubur yang baru di makannya.


"Jadi berapa pak?".Tanya Alifa


"Semuanya jadi dua puluh ribu neng".Sahut si pedagang bubur.


Alifa merogoh kantung celananya,mencari uang yang di selipkan nya di dalam kantong celana itu.Tapi,uang yang di cari tak kunjung di temukan.


"Kemana perginya uang itu, perasaan aku tadi menyimpan uang disini".Gumam Alifa lirih,panik luar biasa karena uang itu ternyata tidak ada.


"Gimana ini?".Wajah cemas Alifa begitu kentara, terlihat sangat jelas.


"Jadi gimana neng?".Tanya si pedagang bubur, karena Alifa tak kunjung membayar.


Alifa, nampak berpikir bagaimana caranya berbicara jujur pada pedagang bubur bahwa dia kehilangan uangnya."Jadi begini pak_".


Belum sempat Alifa berbicara tentang kehilangan uangnya, tiba-tiba datang seorang pria yang menyerahkan uang seharga semangkuk bubur komplitnya.

__ADS_1


__ADS_2