
"Aku kesini hanya ingin bilang,kamu gak usah lembur hari ini.Sebab rapatnya di lakukan besok lusa.Sekarang kamu boleh pulang".
Deg
Kata-kata Deon berhasil,menghunus tajam tepat ke ulu hati Alifa."Semudah itu kamu memerintah,semudah itu pula kamu mengambil keputusan.Dimana hati nurani kamu?".Entah keberanian darimana datangnya,dengan lantang Alifa menyindir langsung Deon yang semakin kesini,malah semakin kurang ajar.
"Maksud kamu apa?".Deon yang cerdas,tapi terlalu bodoh untuk urusan peka terhadap perasaan perempuan.
Alifa tidak menanggapi pertanyaan Deon,dia fokus untuk membereskan berkas beserta dengan alat yang lainnya yang tadi tergeletak tak beraturan.Menyambar tas dan smartphone nya dengan cepat rasa-rasanya ingin mendaratkan cap tangan di pipi Deon.Menyadarkan akan kesalahannya.
Alifa mengambil langkah lebar,demi menghindari kata-kata yang keluar dari mulut Deon.Kata yang seakan seperti bom yang siap meledak.
"Tunggu Alifa".Deon menyusul Alifa yang berjalan cepat.
Alifa sudah sampai di pinggir jalan,hendak menyebrang menuju kearah Angkot yang ada di sebrang jalan.
Tapi langkahnya terhenti saat tangan kekar itu mencengkram erat pergelangan tangan Alifa."Lepaskan tanganku.Kamu tidak berhak menyentuhnya".Sentak Alifa,melepas paksa tangan yang mencengkram pergelangan tangannya.Tapi,tenaganya tak kalah kuat dari genggaman Deon yang semakin mengerat.
"Kau harus ikut pulang denganku,perempuan tak baik pulang malem-malem begini".Deon menyeret Alifa secara paksa.Namun itu tidak mudah sebab Alifa terus memberikan perlawanan.
"Sudah tau, bukannya menyuruh anak gadis orang buat pulang tadi sore malah di biarkan mengerjakan tugas yang menumpuk.Saat hampir tengah malam,seenaknya memberi perintah.Tak bertanggung jawab sekali anda".
Deg
Ucapan itu membuat Deon melepaskan tangan yang mencengkram pergelangan tangan Alifa.Memutar tubuh,demi bisa berhadapan langsung dengan Alifa.
__ADS_1
"Justru aku ingin bertanggung jawab padamu dengan menawarkan tumpangan kepadamu.Tapi,ini balasan dari kamu?,ini cara kamu memperlakukan orang yang menolong mu?".
"Lalu".Dengan berani Alifa mendatang Deon.
"Pulang sendiri saja kamu.Sudah tak ada lagi respect terhadap mu".
Deon, benar-benar pergi meninggalkan Alifa yang melongo,atas sikap kasar yang dia terima dari Deon.
Alifa tak mau membuang waktunya.Dia segera berlari ke sebrang jalan,menuju angkot yang mungkin masih beroperasi.
"Bang,masih jalan gak".Tanya Alifa pada sang supir.
Supir angkot itu memindai penampilan Alifa,sebelum menganggukkan kepala.
Alifa duduk di pojokan,sambil memainkan smartphone untuk mengusir rasa takutnya.Di perhatikannya jalan yang di lalui.
"Lah,kok bang.Jalannya gak kayak yang sering di lewati".Alifa bertanya sambil mengusir rasa cemas di hatinya.
"Cari jalan tikus biar cepat sampai".Kilah sang sopir memberi alasan.
Alifa berpindah posisi menjadi ke dekat pintu keluar,demi memastikan kecemasannya tak terjadi.Namun,semakin kesini Semakin gelap.Tak ada satupun penerangan.
"Lah kok ini ke kebun sih".Alifa panik bukan main.Pikiran buruk menghantui Alifa
Benar saja,sang sopir menghentikan mobilnya.Alifa dengan sigap turun.
__ADS_1
"Mau pergi kemana kamu?".Si supir berlari mengejar Alifa yang saat turun dari angkot itu Alifa berlari.
"Tolong....Tolong...Tolong"Alifa berteriak histeris,meminta pertolongan pada orang yang mungkin mendengar teriakannya.
"Percuma kamu berteriak,tak akan ada yang bisa mendengar teriakanmu.Sebab,ini adalah kebun".Suara supir angkot menginterupsi langkah kaki Alifa.
Semakin cepat Alifa berlari.Semakin cepat pula si sopir mengejar."Kena kau".Sejurus kemudian Alifa sudah berada di dalam dekapan sopir angkot.
Alifa tak henti-hentinya memberikan perlawanan sebisa dan semampunya.Namun,supir angkot bukanlah tandingannya.
Sopir angkot menjatuhkan tubuh Alifa diatas tanah."Mari kita bersenang-senang malam ini".
"Tidak, jangan".Alifa berteriak histeris.Saat tangan supir angkot memaksa membuka kancing baju bagian atasnya.
Supir angkot melepas paksa jilbab Alifa,mencium leher Alifa.Mengecup bibir ranumnya.Sambil tangannya membuka paksa kancing kemeja bagian atas.
Alifa meronta-ronta.Menjerit dalam tangisan yang memilukan.Alifa mencoba menutup mata,berharap keajaiban itu datang.
Do'a Alifa terkabul tepat,saat supir angkot itu baru berhasil membuka kancing kemeja Alifa.Seorang pria dari arah belakang menarik Penggung supir angkot.
Dalam ketidak siapannya supir angkot terjungkal ke belakang.Tanpa menunggu lawannya siap,pria itu mendaratkan tendangan tepat kearah perutnya.Terus menghajar supir angkot mesum itu hingga terkapar tak sadarkan diri.
Alifa yang kelelahan akibat terlalu banyak melawan,belum lagi dia melewatkan makan malam.Hingga,di detik itu.Tubuhnya ambruk.
Dengan sigap si pria mengendong alifa,menjauh dari tempat yang hampir merenggut kesuciannya...
__ADS_1