
"Indah nya surga dunia".
Memang benar apa yang di katakan oleh Alifa, bagaimana tidak sedangkan di depan matanya terpampang dengan nyata keindahan dari pasir putih.
Yah, disinilah Alifa berada meski itu hanya sebuah persinggahan,bukan untuk di tempati.Seperti hati Deon,yang menempatkan dirinya sebagai tamu,bukan di jadikan sebagai tuan rumah.
Alifa kesini hanya penasaran saja dengan keindahan pasir putih dan mungkin dia bisa menanam saham dan bahkan membangun tempat wisata atau perusahaan lainnya.
Begitulah Alifa,sama halnya seperti mr.smith pandai melihat kesempatan dan menanam modal di tempat yang potensial pula.
"Selamat tinggal pasir putih,maaf yah aku kesini hanya sebentar".Teriak Alifa, melambai pada pasir putih sebelum benar-benar pergi.
Tepat,saat Alifa berbalik badan,ada badan tegap nan tinggi menghalangi jalannya.
"AW".Pekik Alifa saat keningnya menabrak dada bidang pria.
"Kalau jalan pake mata".Gertak pria yang di tabrak oleh Alifa.
"Jalan pake kaki,bego".Ucap Alifa, tanpa menoleh ke atas
"Mata untuk melihat jalan".Sahut si pria
"Ya ya ya,maha benar dengan segala kekuasaan nya,tuan kuasa".
"Aku rindu".
__ADS_1
Deg
Seakan Alifa pernah mengucapkan kata-kata itu dan dengan jawaban kerinduan seseorang, refleks Alifa menonggak ke atas.
"Deon".Gumam alifa.
Yah,si penguntit itu tak lain dan tak bukan adalah Deon.Dia yang sudah dua hari terbaring lemah diatas kasur dengan perban masih menempel di keningnya itu,memang sudah merasakan bosan dan emosi tingkat dewa.
Alhasil Deon,mencari angin segar dengan melihat-lihat pasir putih, kebetulan dia juga punya apartemen di kawasan elite itu.
Saat dia tengah menikmati pesona alam dengan berjalan tanpa alas kaki itu, tiba-tiba ekor matanya menangkap sosok wanita yang di cintai nya.
Terdorong oleh rasa cinta dan ingin memiliki, akhirnya Deon memberanikan diri menatap tubuh wanitanya dari jarak dekat.
Saat itu Alifa memang tidak menyadari tentang keberadaan Deon,saking menikmati semilir angin yang berhembus,kaki jenjangnya menikmati sapuan air pasir putih dan ekor matanya di manjakan dengan keindahan pasir putih.
Alifa tersadar dari lamunannya,bukan melamun lebih tepatnya terlalu shock dengan pertemuan mereka yang tak sengaja.
"Kau mengikuti ku?".Tanya Alifa,menjauh dari posisi berdiri Deon.
"Apa itu cara mu,meminta maaf pada orang yang sudah kamu tabrak,belum lagi mengata-ngatai korban?".Tanya balik Deon.
"Di tanya, langsung jawab bukan di jawab dengan pertanyaan lagi".Sahut Alifa,ketus.
Deon tersenyum smirk,Alifa masih sama seperti dulu dia kenal."Sikap mu masih belum berubah yah".
__ADS_1
"Yah, tapi tidak dengan perasaan ku dan status ku".Sahut Alifa,tak mau kalah.
"Baru menikah aja belagu nya kayak udah nikah bertahun-tahun,kamu baru nikah dua hari.Belum merasakan pahit manisnya berumah tangga _".
"Mohon maaf, bukannya anda juga belum merasakan pahit manisnya berumah tangga?".Sahut Alifa, menyambar ucapan Deon.
Deon terkekeh dengan reaksi Alifa, sebegitu percaya dirinya dia bahwa rumah tangga itu pasti menyenangkan.
"Aku lebih tau dari apa yang tidak kamu ketahui ".
"Kalau kamu tau, setidaknya kamu tau lebih awal tentang perselingkuhan daddy kamu dengan calon istri tak jadi tanpa mengorbankan perasaan mu".
Deg
Deon bagai tertampar begitu kerasnya dengan perkataan Alifa.Mengetahui kebenaran tanpa mengorbankan perasaannya.
Lagi Alifa mengskakmat Deon, seakan tak membiarkan dia menang dalam segala hal.Termasuk sengaja,mengubur rasa cintanya, padahal rasa cinta untuk Mama sama besar dengan rasa cintanya untuk Alifa.
"Tau,apa kamu tentang aku?,kau hanya anak kemarin sore yang tiba-tiba mendapatkan sebuah harta Karun,kau bagai anak itik kehilangan induknya dan bagai anak kucing kehilangan jalan pulang".Gertak Deon.
Alifa semakin terbakar emosi,pasir putih menjadi saksi pertemuan dua manusia yang sama-sama pernah saling mencintai tapi terhalang oleh sebuah tabir hitam.Rasa sesal pun akhirnya menggorogoti hatinya.
"Andai aku tak kesini".Gumam Alifa, begitu rilih.
.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen, vote dan hadiahnya setelah membaca.Terima kasih