
Masalah demi masalah silih berganti saat renata di keluarkan di hari pertama kerjanya.Harapan yang mulai ada,kini telah redup, semangat yang menggebu kini telah padam.Semua di rampas oleh sebuah kekuasaan.
Yah, renata selalu berpikir bahwa orang yang berkuasa bebas melakukan apa saja yang dia mau,tanpa memikirkan nasib orang lain, terutama nasib kaum rendah.
Saat itu pula,Renata mulai mengingat wajah Deon sebagai orang yang harus dia balaskan rasa sakitnya.
"Aku tidak dendam,hanya tidak akan pernah melupakan orang-orang yang telah menyakiti ku.Aku akan mengingat,wajah orang yang telah mengulurkan tangannya untuk membantu ku dan akan aku ingat lidah siapa yang telah merendahkan ku".
Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang dalam ingatan nya,rasa sakit dan penderitaan yang Deon berikan untuknya akan selalu teringat oleh Renata.
Lagi,takdir apa yang sedang mempermainkan.Tadi,sebelum dia ambruk pingsan karena lelah menangis, kurang nya asupan nutrisi dan juga ion di dalam tubuhnya.Hingga tubuhnya lunglai ke belakang,tapi saat itu pula tangan kekar nan kokoh memegangi tubuhnya agar tak jatuh.
...
Sayup-sayup renata mendengar suara seorang wanita.Suara itu tak dapat di kenali olehnya, pikirannya tak bisa memutar kembali kejadian sebelum dia ambruk pingsan.
Lagi,di bawah alam sadarnya Renata mengingat wajah deon.Wajah yang amat sangat di bencinya,wajah yang harus di hancurkan dengan sebuah kemewahan dan kehormatan.
Renata mulai mengerjapkan matanya,mencoba menyesuaikan pandangannya.Putih,semua ruangan bercat putih.Entah darimana dia berada,dia pun tak tau pasti.
"Dimana aku?".Tanya renata.
"Mbak sudah sadar".Sahut seorang perempuan.
__ADS_1
"Suster!".Seru renata."Kok aku ada si rumah sakit?".Tanya Renata sembari celingak-celinguk.
Suster jaga itu berlari menghampiri renata."Anda, jangan banyak bergerak dulu". Ucapan nya,sembari menyimpan nampan makanan.
"Tapi _".
"Sebaiknya Anda berbaring dulu, setelah itu anda sarapan dan minum obatnya".Sahut suster,menyambar ucapan Renata.
Renata mencebikkan bibir,kesal.Tangannya yang tertancap selang infus dan juga kebingungan melanda dirinya, bisa-bisanya suster itu menyuruhnya untuk berbaring saja.
"Tunggu sus".Cegah Renata.
"Yah,ada yang bisa saya bantu?".Tanya suster,menoleh ke belakang.
Suster kembali berjalan kearah renata."Anda,mengalami hipoksia, kekurangan asupan nutrisi,ion dan kemungkinan anda sedang dalam depresi".Jelas suster, hati-hati sekali menjelaskan.
"Separah itu?".
"Tidak kok, hanya harus di rawat inap selama tiga hari saja".Hibur suster,tersenyum lembut.
Mau tak mau renata ikut tersenyum demi sopan santun.Lagi,itu juga sebagai penghiburan untuknya di kala kebingungan hati dan masalah yang silih berganti.
Suster membelai tangan renata."Yang kuat yah.Oh yah,jangan lupa sarapannya di habisin setelah itu minum obat agar lekas sembuh".Senyum hangat,kembali di berikan.
__ADS_1
"Terimakasih".Sahut renata.
Karena tak ada lagi urusan dengan Renata,suster itu kembali melanjutkan pekerjaannya setelah tadi mengganti cairan infus dan memberikan obat serta anjuran minum nya.
Renata terdiam di tempatnya,hanya menatap kosong pada pintu masuk.Tak berniat sekali dia mengikuti saran suster.Mengenai siapa yang membawanya ke rumah sakit,masih menjadi tanda tanya karena suster tak memberitahu nya.
Tepat diantara kebingungannya itu, terdengar derap suara langkah kaki menggema di ruang rumah sakit.
Sayup-sayup renata seperti pernah mendengar suara sepatu yang begitu memekakkan telinga nya.
Klek
Pintu terbuka dari luar.Pria pemilik langkah kaki itu membuka pintu dan alangkah terkejutnya dia saat pintu itu terbuka sempurna.
"Dimana dia?.
....
***Bagaimana cerita kelanjutan nya?,apakah cinta Deon masih untuk Alifa?, bagaimana pula dengan kisah Renata?.Temukan jawaban di buku novel ku yang selanjutnya ya guys
Jangan lupa pula untuk membaca novel terbaru ku yang berjudul."BROKEN ANGEL "
Terimakasih sudah membaca***.
__ADS_1