
Dengan langkah cepat,memburu sang wanita dalam kegelisahan dan rasa penasaran yang semakin dalam.Deon berjalan menuju ruang rawat VVIP demi menemui seorang wanita yang di tolongnya.
Namun, langkah kakinya terhenti tatkala perawat yang berjaga baru saja keluar dari ruang rawat Renata dengan membawa nampan yang sudah kosong.
"Dimana dia?".Tanya Deon.
"Dia ada di dalam sedang beristirahat setelah tadi sarapan dan minum obat".Jawab perawat dengan tatapan takjub.
Yah,wajah ganteng dan kharisma Deon mampu menghipnotis orang yang bersitatap dengan nya.
"Bisa saya menjenguk dia?".Tanya Deon lagi.
Perawat itu bukannya menjawab pertanyaan dari Deon,dia malah melamun.Seakan menatap manusia langka nan unik.
"Bisa saya bertemu dengan dia?". Tanya Deon lagi, membuyarkan lamunan perawat.
"Oh Bi-bi sa".Jawab gugup perawat.
Tanpa memperdulikan perawat yang tanpa sadar meneteskan air liurnya.Deon melangkah maju.Meninggalkan perawat yang masih terpaku di tempatnya,tak bergerak sedikitpun.
"Pak".Teriak perawat,menyusul Deon ke dalam.
Entah kenapa perasaan Deon jadi tak menentu saat langkah kakinya terhenti sempurna di depan pintu.Rasa yang sama seperti saat pertama kali bertemu dengan Alifa.Gadis keturunan China-indo,wanita yang telah merebut seluruh poros hidupnya.Namun,sayang cintanya hanya sebatas mengagumi tidak sampai menjalin kasih.
"Perasaan macam apa ini?".Tanya Deon sembari memegangi dadanya.
__ADS_1
Ada getaran aneh di dalam dadanya, seperti orang yang tengah di kejutkan dan seperti orang yang tengah mengalami serangan jantung.Dadanya semakin berdegup kencang.
Klek
Deon,membuka gagang pintu dengan tangan gemetar.Keringat dingin membasuh tangan kekarnya.
Deon mengedarkan pandangannya begitu dia sudah berada di ambang pintu.Mencari sesosok wanita yang pernah memarahinya dan juga wanita yang di tolongnya.Wanita yang belakangan ini dia ketahui bernama Renata Kusuma.
"Renata".Teriak Deon,mencari sosok renata ke penjuru ruangan.
Kosong.Hanya kekosongan dalam ruangan itu,tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya hanya ada selang infus yang mengeluarkan cairan infus.Seperti di cabut paksa oleh sang empunya.
"Renata".Teriak Deon, kalap.
"Pak".Ucap perawat, menghampiri Deon dengan napas terengah-engah.
Perawat mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, mencarinya ke berbagai tempat.Tak terlewatkan sedikit pun.
Tidak ada.Tidak ada sesosok wanita yang tadi terbaring lemah.Wanita yang baru saja di beri asupan nutrisi olehnya.
"Bagaimana hasilnya?".Tanya Deon,tak sabaran.
Perawat menundukkan pandangannya,pertanda pasiennya tak ada di tempat seharusnya."Maaf pak".Gumam perawat,semakin menunduk dalam.
"Aku tidak mau tau, cepat cari dia atau ku tutup rumah sakit ini".Teriak Deon, memberikan ancaman.
__ADS_1
"B-Ba-ik pak".Jawab perawat gugup.
Dengan langkah tersengal-sengal perawat itu berjalan keluar sembari merasakan ketakutan yang amat sangat."Bagaimana ini". Tanya nya gugup.
Perawat itu tak mau mengambil tindakan secara gegabah.Dia mendatangi kepala rumah sakit guna melaporkan ancaman seorang pria berparas rupawan dengan tuduhan lalai dalam menjalani pekerjaannya.
Tok..Tok..Tok..
Perawat itu mengetuk pintu kepala rumah sakit dengan gemetar.Takut,cemas dan khawatir menyatu menjadi satu.Karena nantinya nasibnya akan di tentukan.
"Pak"Ucap perawat, setelah duduk manis di hadapan kepala rumah sakit.
"Yah,ada apa kau datang kemari?".Tanya kepala perawat tanpa basa-basi.
"Ada yang ingin saya bicarakan". Ucapnya lantang.
"Tentang apa?".
"Keluhan dan protes keluarga pasien".
"Atas nama siapa?".
"Deon Artama ".
Deg
__ADS_1
Kepala rumah sakit,yang tadi menundukkan kepala.Fokus pada berkas-berkas rumah sakit mendadak mengangkat kepalanya.
"Deon Artama".Sahut nya.