Cinta Datang Terlambat

Cinta Datang Terlambat
BAB 34 (TIGA PULUH EMPAT).


__ADS_3

"Kak, ayolah ini berlebihan!" Teriak Zahra


"Iya, ini berlebihan. Tapi aku kaya gini karna aku sayang kamu, Zahra!" Bentak Ivan


"Iya, sayang. Tapi engga kaya gini, kak." Ucap Zahra ketus


"Itu karna aku takut kehilangan kamu!" Teriak Ivan


Zahra menatap Ivan tajam, "waktu itu, pas aku marah sama kamu, cemburu sama kamu, apa kamu peduli?" Teriak Zahra, air matanya telah bobol membasahi kedua pipinya.


"Sekarang beda, Zahra!" Teriak Ivan


"Apa nya yang beda, Ivan?" Teriak Zahra


"Apa?" Tanya Ivan pelan.


"Apa nya yang beda, Ivan? Apa Van?" Teriak Zahra emosi, membuat Ivan juga ikut emosi.


"Jadi, kamu engga percaya sama aku? Kalau aku sekarang sayang banget sama kamu, cinta banget sama kamu, peduli sama kamu, takut kehilangan kamu?" Teriak Ivan emosi


"Engga!" Ucap Zahra lirih, "bukan nya kamu bilang Fanny akan kembali, dan itu otomatis kamu pun bisa kembali tergoda sama Fanny!" Ucap nya.


Ivan tersenyum, ntah senyum apa. "Oke, bakal gue buktiin kalau perasaan gue sekarang engga main-main!" Ucap Ivan sinis, menatap Zahra tajam.


Ivan menarik tangan Zahra kasar, berjalan dengan langkah lebar.


"Mau kemana?" Tanya Zahra pelan.


"Kita pulang!" Jawab Ivan


Zahra terbelakak, matanya nyaris seperti ingin copot, otaknya berputar apa yang akan Ivan lakukan padanya.


"Ma.. mau apa?" Tanya Zahra terbata, di hentakan nya tangan yang di genggam Ivan sekencang mungkin.


"Ngambil masa depan kamu!" Ucap Ivan sinis, meraih kembali tangan Zahra yang sempat terlepas dari genggaman nya dan menariknya kasar


Zahra menggeleng, sambil meronta.

__ADS_1


"Ivan mau kemana?" Tanya pak satpam menatap Ivan dan Zahra bergantian


"Pulang pak, bisa di buka gerbangnya? Zahra sakit. Saya nunggu taxi, karna nggak bawa mobil." Ucap Ivan, mengeratkan genggaman nya pada pergelangan tangan Zahra.


Zahra menggeleng sambil menangis. Mulutnya ingin berbicara, tapi ntah mengapa seperti ada yang mengganjal di tenggorokan.


"Oh baiklah, sekalian saya bantuin cari taxi yah." Ucap Pak satpam yang di angguki oleh Ivan


Ivan melempar tubuh mungil Zahra kasar pada kasur yang berada di apartemen nya.


"Otak aku udah engga waras!" Teriak Ivan, mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kak jangan!" Ucap Zahra lirih, sambil bangkit dari tiduran yang tidak di sengaja. Berlari ke arah pintu apartemen, tapi nihil Zahra tidak bisa membukanya.


"Mau kemana?" Tanya Ivan, yang ternyata sudah mengurung Zahra dengan kedua tangan kekar nya.


Kancing baju seragam milik ivan telah terbuka semuanya, menampilkan perut yang sispack.


Zahra menggeleng sambil memeluk tubuhnya sendiri, air matanya terus mengalir tidak ingin berhenti.


"Jangan, kak." Ucap Zahra lirih


"Engga." Jerit Zahra


"Kak... hiks... kakak... hiks... say... hiks... yang... sama Zahra... hiks... kan..." ucap Zahra sesengukan. Tubuhnya berada di bawah Ivan


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Ivan lembut, di usapnya kedua pipi Zahra dengan lembut. "Aku sayang kamu, aku engga akan lakuin itu. Otak aku masih waras!" Ucap Ivan lembut.


Di angkatnya dagu Zahra, agar menatap Ivan. Zahra menatap Ivan takut.


Ivan tersenyum, "tapi kalau kamu mau kita boleh ke KUA sekarang!" Ucap Ivan lirih


Cepat-cepat Zahra menggeleng, "engga!" Ucap Zahra.


Ivan tersenyum geli, di jatuhkan nya tubuhnya di samping Zahra, lalu menatap Zahra dengan rasa bersalah


"Berbaliklah menghadap ku." Ucap Ivan, Zahra menurut membalikan badan nya menyamping, menghadap Ivan.

__ADS_1


"Maaf aku telah kasar." Ucap Ivan lirih, meraih kedua tangan Zahra lalu mengusap nya pelan.


Zahra menggeleng, "aku juga minta maaf. Engga seharusnya aku ngomong kaya gitu sama kakak, aku minta maaf kak!" Ucap Zahra pelan


Ivan tersenyum, lalu mendekat ke arah Zahra, membawa Zahra kedalam pelukan nya lalu melumat bibir Zahra pelan tapi pasti.


Setelah terlepas, Zahra langsung menyembunyikan wajahnya ke dada bidang milik Ivan


"Kenapa?" Tanya Ivan terkekeh, Zahra hanya menggeleng pelan.


"Kak...


"Besok aku minta kita nikah dan hanya keluarga yang tau." Potong Ivan


"Engga mau," ucap Zahra, menatap Ivan bahwa apa yang Ivan lakukan tidak benar


Ivan tersenyum, "masa aku harus renggut dulu mahkota berharga kamu, supaya kamu mau." Ucap Ivan


"Jangan!" Ucap Zahra, mencoba menjauhkan tubuhnya dari Ivan, tapi Ivan tidak membiarkan nya.


"Aku minta itu sebagai bukti, supaya kamu percaya sama aku." Ucap Ivan pelan, menatap Zahra dengan tatapan memohon supaya Zahra mengerti.


Zahra diam, "setelah kita menikah nanti, aku engga akan ngapa-ngapain kamu sebelum kamu lulus sekolah. Kecuali kamu yang minta. Aku janji!" Ucap Ivan bersungguh-sungguh


Zahra tersenyum, "gimana?" Jawab Ivan yang melihat senyum Zahra


"Kakak serius?" Tanya Zahra, Ivan mengangguk mantap.


"Kakak niat serius sama aku?" Tanya Zahra


"Iya sayang!" Jawab Ivan mantap


Zahra diam, "gimana?" Tanya Ivan, menatap Zahra.


Zahra mengangguk pelan. "Mau?" Tanya Ivan, yang lagi-lagi di angguki oleh Zahra


Ivan tersenyum senang, "besok yah." Ucap Ivan

__ADS_1


"Terserah kakak." Ucap Zahra


Ivan tersenyum, lalu memeluk Zahra erat dan begitulah:všŸ˜…


__ADS_2