
"Dee.. dee.." ucap penjaga makam membangun Ozy.
Ozy menggeliat, lalu mengarjap kan matanya, di kucek-kucek matanya pelan. "Ada apa?" Tanya Ozy penatap penjaga makam.
Matanya sembab, hidungnya mangpet, rambutnya acak-acakan, seragam nya kotor di penuhi tanah.
"Ini udah siang den, aden dari kemarin sore di sini terus. Pulanglah, mandi, makan, terus sekolah. Mamang tau aden belum makan dari kemarin. Cobalah mengikhlaskan den. Akan ada pengganti yang lebih baik dari non Elfi percayalah tuhan itu maha adil, dia telah menyiapkan semuanya termasuk jodoh dan kebahagianmu." Ucap penjaga makan panjang lebar. Menatap Ozy dengan tatapan sangat iba. Dia mengerti betapa kehilangannya Ozy, lihatnya sangat kacau sekali.
Ozy tersenyum kecut, "aku akan tetap di sini." Ucap nya lirih, mengusap nisan Elfi yang masih baru sambil menitikan air mata kembali.
"Tapi den...
"Pergilah." Potong Ozy cepat
Menghela nafas pelan, akhirnya penjaga makam pun meninggalkan Ozy sendirian.
"Assalamualaikum, selamat pagi. Innalillahi wa Innailaihi rojium. Sebelumnya kami turut berduka cita dengan meninggalkan salah satu murid kami, salah satu teman-teman kalian semua. Semoga keluarga, sahabat serta orang yang menyayangi nya di berikan ketabahan dalam menghadapi nya, dan selalu ingatlah yang di ciptakan akan selalu kembali pada yang menciptakan." Ucap bapak kepala sekolah.
Atria, Rita dan Zahra hanya menatap kosong ke depan. Tidak menghiraukan apa kata bapak sekolah, tidak peduli apa yang di katakan nya.
Riki, Farel dan Ivan berbaris di jajaran kelas sepuluh Ipa 3, menjaga wanita-wanita berharga nya itu.
"Sehubungan sekolah kita sedang berduka. Bapak selaku ketua pelaksana perkemahan membatalkan kemah minggu ini dan akan di laksanakan bulan depan. Mohon pengertiannya anak-anak." Ucap pak Herdi selaku ketua pelaksana perkemahan.
"Kita harus susul kak Ozy, kak." Ucap Atria lirih, "insting gue kak Ozy masih ada di makam." Tambahnya
"Kita hubungin mama Ozy yah." Ucap Ivan
'Assalamualaikum tante.' Ucap Ivan setelah telepon terhubung
'Waalaikumsalam, Ivan.' Ucap mama Ozy lirih
'Tante, Ozy udah pulang?'
'Belum van. Di bujuk oleh penjaga makam pun dia tidak ingin pulang." Jawab nya terisak.
__ADS_1
'Tante jangan nangis. Ivan sama temen-temen nyoba buat bujuk Ozy lagi yah tante. Tante tenang aja semua akan baik-baik saja.'
'Iya Ivan. Tante mohon bantuin tante yah.'
'Iya tante, yaudah maaf mengganggu. Assalamualaikum.'
'Iya Ivan, engga kok. Waalaikumsalam'
Tut telepon pun terputus
"Ozy belum pulang." Ucap Ivan pelan, menatap teman-temannya.
"Yaudah kita susul, kita coba bunjuk lagi siapa tau mau." Ucap Farel.
Mereka mengangguk pelan.
"Pak." Sapa Riki, pada pak Surya selaku guru piket.
"Iya, Riki?" Tanya pak Surya
"Kemana?" Tanya pak Surya
"Lihat lah keadaan mereka." Ucap Riki, menunjuk wanita-wanita yang mereka cintai
Pak Surya mengangguk mengerti, ia mengambil 6 surat Izin mencoret kan nama mereka satu persatu.
"Nih, berikan ke kelas kalian." Ucap Pak Surya, memberikan 6 surat Izin pada Riki.
"Makasih pak." Ucap Riki, pak surya mengangguk.
"Kalian tunggun di sini." Ucap Riki
"Aku ikut." Ucap Atria pelan
"Say...
__ADS_1
"Kata Aku ikut Aku ikut, kak." Teriak Atria
"Iya ayo iya." Ucap Riki pelan, menarik tangan kiri Atria, menggenggam nya lembut.
"Kita tunggu di parkiran ya ki," ucap Farel
"Iya." Ujar Riki
Tidak ada pembicaraan diantara Riki dan Atria. Hanya suara langkah kaki dan kelas yang ribut yang terdengar.
"Riki." Panggil Regin saat ia memberikan surat izin ke kelas nya.
"Iya?" Tanya Riki
"Boleh kita bicara, ki?" Tanya Regin
Regin tau ini waktu yang tidak tepat. Tapi ia sudah tidak tahan.
"Tapi...
"Bukan waktunya, kak. Kita harus cepat-cepat mastiin keadaan kak Ozy." Ucap Atria dingin, memotong ucapan Riki.
"Atria pliss." Ucap Regin memohon, menatap Atria meminta keibaan
Atria menggeleng, "engga!" Ucap nya tegas. Menarik tangan Riki, baru satu langkah berjalan, langkah Riki dan Atria langsung terhenti karna ucapan Regin.
"Egois, Tri. Lo gak mikir seberapa pentingnya ini buat gue, lo cewek kan? Plis ngertiin posisi gue." Teriak Regin lirih.
Atria menghela nafas kasar, melepaskan genggaman pada tangan Riki. "Silahkan. Dan kak Riki jangan kejar gue." Ucap Atria pelan, tapi masih terdengar oleh Riki dan Regin.
"Tap...
Ucapan Riki terputus ketika melihat Atria berlari, ingin ia mengejarnya tapi lengan nya di tahan Regin.
"Ki plis!" Ucap Regin memohon
__ADS_1
"Oke oke." Ucap Riki Akhirnya menyerah.